https://suarapapua.com/2019/12/30/masyarakat-kampung-ndugusiga-mengungsi/



Masyarakat Kampung Ndugusiga Mengungsi

*Penulis*

 *Arnold Belau* <https://suarapapua.com/author/arnold-belau/>

30 Des 2019, 10:26 WP

*
<https://i0.wp.com/suarapapua.com/wp-content/uploads/2019/12/Pengungsi-Ndugusiga.jpg?fit=2048%2C1536&ssl=1>*Anak-anak
dari KampungNdugusiga saat hendak mengungsi ke Nabire. Mereka yang turun ke
Nabire di bandara Sokopaki, Bilogai, Sugapa pada 28 Desember 2019.
(supplied for SP)

*JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Warga Kampung Ndugusiga, Distrik Sugapa
dilaporkan telah mengungsi karena diteror dan merasa tidak aman dengan
kehadiran aparat TNI.*

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kab. Intan Jaya, Yoakim
Mujizau saat melaporkan kepada media ini menjelaskan, masyarakat dari
Kampung Ndugusiga telah mengungsi sejak tanggal 25 Desember.

“Saat ini masyarakat Ndugusiga sudah mengungsi ke Titigi, Sugapa [Mamba,
Yokatapa dan Bilogai] dan Nabire. Kebanyakan anak-anak dan mama-mama hari
ini sedang turun ke Nabire. Mereka baru mengungsi karena mereka tunggu
perayaan Natal dilaksanakan di Paroki,” ungkap Mujizau kepada suarapapua.com,
Sabtu (28/12/2019) kemarin.

Mujizau menjelaskan, masyarakat Ndugusiga mengungsi. Menurut dia,
masyarakat mengungsi karena takut dengan patrol dengan aparat ke kampung
tersebut. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa aparat mendatangi setiap
rumah.

<https://suarapapua.com/2019/12/30/masyarakat-kampung-ndugusiga-mengungsi/#>

“Asalan utama mereka pindah [mengungsi] adalah karena mereka didatangi
aparat, lalu tanya suku apa, marga apa dan bahkan tanya [kamu] kamu orang
Ndugama ka? Dengan begini secara tidak langsung bikin masyarakat tidak
nyaman dan merasa diteror. Jadi setelah Natal pagi tanggal 25 masyarakat
sudah kosongkan Ndugusiga,” jelasnya.

*Baca Juga: **Pemkab Intan Jaya Telah Bentuk Tim Terpadu Penanganan
Pengungsi
<https://suarapapua.com/2019/12/28/pemkab-intan-jaya-telah-bentuk-tim-terpadu-penanganan-pengungsi/>*

Ia menambahkan, setelah aparat hadir di Titigi, masyarakat sudah tidak bisa
ke kebun, tidak bisa ke hutan untuk ambil kayu api.

“Aparat sudah banyak di sini. Dan selalu mereka patroli. Untuk hindari
hal-hal yang tidak mereka inginkan, mereka mengungsi. Lalu aparat juga
minta supaya masyarakat Ndugusiga harus pakai bahasa Indonesia dan tidak
pakai bahasa Ndauwa,” ujarnya.

Aparat saat berada di gapura, jalan masuk ke kompleks misi paroki Titigi.
(Supplied for SP)

Secara umum masyarkat di Titigi, kampung terdekat Ndugusiga  juga tetap
tinggal tetapi ketakutan tetap ada.

“Aparat sudah tempati dan tinggal di ruang kelas 1 sampai 6 SD YPPK Titigi.
Ditambah dengan dua rumah dari tiga rumah guru. Dengan kondisi ini masyakat
meminta supaya aparat keluar dari lingkungan sekolah, gereja, pastoran.
Intinya lingkungan misi,” katanya.

Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius, Pastor Yance Yogi, Pr dari Keuskupan
Timika saat dikonfirmasi suarapapua.com membenarkan bahwa memang masyarakat
Ndugusiga telah mengungsi.

“Benar bahwa umat Ndugusiga sudah mengungsi. Sebagian sudah ke Sugapa dan
sebagian ke Nabire. Tetapi banyak yang saya tahan dan minta untuk tinggal
sama-sama di Titigi,” ungkapnya.

Anak-anak dari Kampung Ndugusiga saat hendak mengungsi ke Nabire. Mereka
yang turun ke Nabire di bandara Sokopaki, Bilogai, Sugapa pada 28 Desember
2019. (supplied for SP)

*Baca Juga: **Gereja Minta Aparat Tidak Tempati Gedung SD YPPK Titigi
<https://suarapapua.com/2019/12/30/gereja-minta-aparat-tidak-tempati-gedung-sd-yppk-titigi/>*

Pastor menjelaskan, masyarakat Ndugusiga adalah masyarakat Migani tetapi
suku *Ndauwa*.

“Sebagai pastor paroki saya tahu dan mengenal bahwa mereka adalah suku
Ndauwa tetapi mereka adalah keluarga suku Migani. Maka dengan tegas saya
kasi tahu supaya pihak keamanan dan pemerintah jangan kuatirkan keberadaan
mereka di sana. Karena paroki titigi terdiri dari tiga suku Migani, Ndauwa
dan Dani. Mereka adalah umat katolik,” tegas pastor Yance.

Pastor Yance juga membenarkan bahwa masyarakat memilih untuk mengungsi dari
Ndugusiga karena aparat mendatangi setiap rumah, melakukan patroli, lalu
aparat juga tanya-tanya tentang hal-hal yang tidak masuk di akal.

“Umat takut dan trauma karena aparat datang dan tanya-tanya hal-hal yang
tidak masuk akal. Seperti asal dari mana, marga apa, datangi setiap rumah
dan ini bikinumat tertekan. Mereka ini umat saya dari stasi Ndugusiga,
paroki Titigi. Jadi saya sudah panggil dan kumpulkan sebagian besar dari
umat di di paroki. Saat ini mereka ada di paroki,” ungkapnya menjelaskan.

Aparat saat patroli di jalan menuju ke distrik Hitadipa, dari Titigi.
(Supplied for SP)

Ia menegaskan agar jangan salah paham antara satu dan dengan yang lain hal.

“Kami dari pihak gerjea-gereja kabupaten intan jaya tidak mau korbankan
masyarkat dan bikin masyarakat trauma. Kami mau masyarkat hidup aman dan
damai.”

*Baca Juga: **Pemkab Intan Jaya Gelar Pertemuan dengan Berbagai Elemen di
Sugapa
<https://suarapapua.com/2019/12/28/pemkab-intan-jaya-gelar-pertemuan-dengan-berbagai-elemen-di-sugapa/>*

“Umat Ndugusiga ada yang turun ke Nabire. Tetapi banyak ada di Paroki. Saya
sudah tahan mereka di Paroki. Mereka mengungsi karena aparat tanya-tanya ke
umat.  Jumlah umat saya di stasi Ndugusiga adalah 1014 jiwa,” ungkapnya.

*Natal Tidak Seperti Biasanya*

Saat disinggung tentang kehadiran umat dari enam stase yang ada di Paroki
Titigi, Pastor Yance menjelaskan tidak seperti biasa. Dimana, kata dia,
Natal tanggal 24 yang biasa dilakukan pada sore dan atau malam, dilakukan
pada sore hari. Dan tanggal 25 juga hanya dilakukan pagi.

“Natal itu kami bikn di luar aturan. Tanggal 24 kami bikin jam 15.00 sore.
Dan untuk tanggal 25 kami bikin jam 09.00 pagi. Semua itu kami lakukan
karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan rayakan Natal dengan baik,”
bebernya.

Suasana ibadah Natal di dalam gereja Paroki Titigi 24 Desember 2019.
(Supplied for SP)

Dia menambahkan, hari raya besar seperti Natal dan Paska, biasanya
dipusatkan di Paroki. Semua umat datang ke paroki dan natal di paroki.
Untuk tahun ini, kata dia, tidak seperti bisa.

“Tahun ini hanya umat dari Stasi Titigi, Eknemba dan Ndugusiga saja.. Dari
stasi lain tidak ada yang datang karena kondisi tidak memungkinkan,”
ujarnya.

*Baca Juga: **Bupati Natalis Tabuni Minta TPNPB dan TNI-Polri Segera
Tinggalkan Intan Jaya
<https://suarapapua.com/2019/12/20/bupati-natalis-tabuni-minta-tpnpb-dan-tni-polri-segera-tinggalkan-intan-jaya/>*

Ndugusiga adalah salah satu kampung yang ada di distrik Sugapa. Pada
tanggal  22 Sore, terjadi baku tembak di kampung Ndugusiga. Setelah pada
tanggal yang sama baku tembak terjadi di kampung Nggamagae pada subuh dan
di Bulapa pada siang hari.

Data Paroki St. Fransiskus Xaverius, Keuskupan Timika mencatat di stasi
Ndugusiga terdapat 1014 umat (jiwa). Selain Ndugusiga, paroki ini juga
memiliki enam stasi lain seperti Mamba, Eknemba, Titigi, Soanggama, Kulapa
dan Agisiga.

*Upaya Penanganan Pengungsi*

Bupati Kab. Intan Jaya, Natalis Tabuni mengatakan pemerintah daerah telah
membentuk Tim Terpadau Penanganan Pengungsi dalam pertemuan tatap muka
antara Forkompimda, tokoh adat, tokoh agama, TNI dan Polri, DPRD dan para
kepala kampung yang digelar di Sugapa, Jumat (27/12/2019) kemarin di
Sugapa, Intan Jaya, Papua.

Pertemuan tersebut dihadiri Bupati Intan Jaya, Sekda Kab. Intan Jaya, Kadis
Pertambangan, Kabag Kesrea Setda Intan Jaya, Kapolres Intan Jaya, Dandim
Persiapan Intan Jaya, DPRD, tokoh Agama, Polsek, Koramil,  Perwira
Penghubung di Intan Jaya, Perwakilan dari Kopassus, kepala desa, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh pemuda.

Pertemuan antara Forkompimda, DPRD, pimpinan TNI dan Polri, dan tokoh agama
bersama kepala desa dari beberapa kampung terdampak akibat baku tembak yang
terjadi beberapa waktu lalu. (uplied for SP)

Kepada suarapapua.com, Bupati Natalis menjelaskan, pihaknya telah mendengar
semua usulan, saran dan laporan dari berbagai pihak. Hasil pertemuan
tersebut adalah telah dibentuk Tim Terpadu Penangangan Pengungsi. Sekda
Intan Jaya, Asir Mirip ditunjuk sebagai ketua tim terpadu yang di dalamnya
beranggotakan berbagai elemen.

“Kami sudah bentuk tim terpadu untuk mengatur penanganan masyarakat
pengungsi dari ancaman kemanan. Tim ini diketuai oleh sekda, didalamnya ada
Kapolres, Dandim Persiapan, Lo, Koramil, Polsek, anggota DPRD, tokoh
masyarkat dan tokoh gereja,” ungkap Tabuni kepada suarapapua.com dari
Sugapa, Jumat (27/12/2019) malam.

Tabuni membeberkan bahwa sebagian masyarakat telah terkena dampak dari baku
tembak antara TNI/Polri dengan TPNPB sejak 17 Desember lalu.

“Ada yang sudah kena dampak dan ada yang belum, jadi kehadiran kami adalah
untuk selamatkan masyarakat. Kami sudah jelaskan dan berikan pemahaman
kepada masyarakat agar jangan lari ke hutan,” terangnya.

*Pewarta: Arnold Belau   *

Kirim email ke