https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/12570/pertumbuhan_ekonomi_ri_2020_diprediksi_bisa_tembus_5_5_persen
*Pertumbuhan Ekonomi RI 2020 Diprediksi Bisa Tembus 5,5 Persen* Kamis , 23 Januari 2020 | 15:48 JAKARTA - Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 tetap berdaya tahan ditopang perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang tetap baik. Perbaikan ekspor didorong kenaikan permintaan mitra dagang dan harga beberapa komoditas ekspor utama. Produk ekspor seperti ekspor batubara, kendaraan bermotor, besi dan baja, serta biji logam dan sisa logam mencatat pertumbuhan positif pada triwulan IV 2019. "Secara spasial, ekspor biji nikel dari Sulawesi dan ekspor tembaga dari Nusa Tenggara Barat juga meningkat. Konsumsi rumah tangga tetap terjaga, ditopang keyakinan konsumen yang mulai meningkat dan faktor musiman jelang akhir tahun," kata Direktur eksekutif departemen komunikasi BI, Onny Widjanarko dalam siaran persnya, Kamis (23/1/2020). Onny juga mengungkapkan, investasi terus membaik, termasuk secara spasial didorong investasi terkait hilirisasi nikel di Sulawesi. Beberapa indikasi kenaikan investasi tercermin pada peningkatan Purchasing Manager Index Manufaktur dan indikator dini lain terkait penjualan ekspor dan penjualan domestik. Menurutnya, peningkatan investasi diprakirakan berlanjut didorong pembangunan infrastruktur serta kenaikan keyakinan pelaku usaha sebagai dampak peningkatan ekspor dan kemudahan iklim berusaha sejalan dengan kebijakan Pemerintah termasuk implementasi Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. "Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2019 dapat mencapai sekitar 5,1 persen dan meningkat dalam kisaran 5,1 hingga 5,5 persen pada tahun 2020," kata Onny. *(E-3* *++++++.* *https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/110/cadangan_devisi_turun_3_92_miliar_dolar_as <https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/110/cadangan_devisi_turun_3_92_miliar_dolar_as> * *Cadangan Devisa Turun 3,92 Miliar Dolar AS* Rabu , 07 Maret 2018 | 18:35 *JAKARTA - Jumlah cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2018 sebesar 128,06 miliar dolar AS atau menurun 3,92 miliar dolar AS dari Januari 2018 sebesar 131,98 miliar dolar AS. Itu karena untuk stabilisasi kurs rupiah. Melemahnya cadangan devisa juga disebabkan menurunnya penempatan valuta asing perbankan di Bank Sentral karena kebutuhan pembayaran kewajiban valas masyarakat.* Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman di Jakarta, Rabu (7/3/2018). "Penurunan cadangan devisa pada Februari 2018 tersebut terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah," katanya. Meski demikian, pusman, Indonesia akan menikmati tambahan devisa dari hasil penerbitan sukuk global pemerintah sebesar tiga miliar dolar AS pada Maret 2018."Bank Sentral menjamin kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujarnya. Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang Februari 2018, terutama karena sentimen pelaku pasar menyambut pengumuman data ekonomi AS yang cenderung membaik dan juga pernyataan Gubernur baru Bank Sentral AS The Federal Reserve Jerome Powell yang menyiratkan nada berani atau "hawkish" mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed lebih dari tiga kali pada tahun ini. Perdagangan rupiah masih bertahan di level Rp13.700, bahkan nyaris Rp13.800 per dolar AS pada Rabu (7/3/2018) ini. Level tersebut ditegaskan BI sebagai level yang di bawah nilai fundamental rupiah atau "undervalued".osisi cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Sentral menilai jumlah cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Selain itu, kata Ag Sumber: antaranews.com Foto: Dok/Istimewa
