*Kalau dilihat rumah tahanan zaman kolonial Belanda dimana tahanan petinggi
politik Indonesia dipenjarakan sangat berbeda  bagaikan bumi dan langit
jika dibandingkan dengan tempat tahanan politik NKRI yang beragama memiliki
kasih sayang Illahi dan berpancasila terhadap tahanan politik G30S. Tahanan
politik seperti Hatta dan Soekrano hidup di "vila" bisa bebas keluar masuk
rumah tahan  naik sepeda keliling, sedangkan tahanan G30S dialam yang
disebut merdeka dari penjajahan kesempatan demikian samasekali tidak ada,
yang ada ialah siksaan fisik dan verbal dan kematian karena siksaan dan
pembunuhan masal.*


https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/tiba-di-banda-bung-hatta-tempati-rumah-hantu.htm#.XiwVDmhKi00


*Di Banda, Bung Hatta Tempati Rumah Hantu*

Redaksi – Jumat, 24 Januari 2020 10:20 WIB

Eramuslim.com – GEMALA Rabiah Hatta, putri kedua Bung Hatta mengisahkan
kembali pengalaman ayahnya saat dibuang ke Pulau Banda, Maluku pada 1936.
Bung Hatta yang saat itu baru saja tiba dari Boven Digul, pembuangan
sebelumnya, harus segera menemukan rumah untuk tempat tinggal barunya di
Banda. Hari semakin sore, rumah tak kunjung didapat. Sampai kemudian dia
temukan sebuah rumah tak berpenghuni.

“Tapi penduduk bilang kepada Bung Hatta kalau rumah itu ada hantunya,
makanya nggak ada orang berani tinggal di situ,” ujar Gemala menuturkan
kembali kisah ayahnya dalam seminar “Banda Dulu, Kini dan Esok” di Galeri
Nasional, Selasa, 3 Oktober 2017.

Bung Hatta menanggapi santai kabar seram itu dan memutuskan untuk tetap
menempati rumah hantu itu. Desas-desus di kalangan warga Banda, hantu
selalu tiba di malam hari: menyerupai seorang lelaki yang menyeret peti
mati. Hantu itu akan datang lewat pekarangan depan rumah, menuju teras.
Tapi tiap kali empunya rumah keluar, seketika pula hantu itu menghilang.
Lantas bunyi misterius itu kembali muncul saat tuan rumah kembali menutup
pintu rumah.

Setelah bersetuju dengan pemiliknya, Bung Hatta menempati “rumah hantu” itu
pada malam pertama masa pembuangannya di Banda. Tak ada hantu datang
sebagaimana dikisahkan warga. Keesokan harinya warga bertanya-tanya
keheranan mengapa Bung Hatta bisa melewati malam tanpa ketakutan.

Halaman selanjutnya →
<https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/tiba-di-banda-bung-hatta-tempati-rumah-hantu.htm/2>


“Biasanya kalau ada orang menginap di sana tak pernah bisa tahan karena
ketakutan. Orang-orang mengira Bung Hatta sakti, kayak ulama yang bisa
mengusir hantu,’” ujar Gemala.

Selama melewati enam tahun lebih (1936-1942) masa pembuangan di Banda, Bung
Hatta tetap tinggal di rumah itu. Kesibukan sebagai orang buangan politik
dilaluinya dengan membaca buku, menulis dan mengajari anak-anak Banda
menulis dan membaca di teras rumahnya. Selain Hatta, Sjahrir, Tjipto
Mangoenkoesoma dan Iwa Kusuma Sumantri juga dibuang ke pulau yang sama.

Gemala juga mengutip kisah ayahnya dari Des Alwi, tokoh Banda, anak angkat
Sjahrir yang juga dekat dengan Bung Hatta. Des bercerita tentang Hatta yang
tak bisa berenang dan meminta anak-anak Banda mengajarinya. “Dulu ayah
kalau berenang berpakaian lengkap, celana panjang dan bersepatu. Anak-anak
Banda waktu itu ketawa semua melihat Bung Hatta.”

Masa penahanan Hatta dan Sjahrir berakhir pada awal 1942. Sebuah pesawat
amfibi Catalina datang menjemput mereka. Kedatangan balatentara Jepang
membuat Belanda harus menyelamatkan dua pemimpin gerakan nasionalis
Indonesia itu. Pesawat kelebihan beban, terpaksa Hatta mesti merelakan dua
peti buku ditinggal di Banda. Kepada Des Alwi harta berharga itu
dititipkan.[kl/historia]

Source Link
<http://historia.id/modern/tiba-di-banda-bung-hatta-tempati-rumah-hantu>

Kirim email ke