Lalu bagaimana dengan ini? :   https://www.youtube.com/watch?v=HOlanwd35so

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200129142652-85-469827/dilarang-uni-eropa-pertamina-batal-bangun-kilang-dengan-eni



Dilarang Uni Eropa, Pertamina Batal Bangun Kilang dengan ENI

CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 14:44 WIB

Bagikan :

[image: Dilarang Uni Eropa, Pertamina Batal Bangun Kilang dengan ENI] Dirut
Pertamina Nicke Widyawati menyatakan kerja sama pembangunan kilang ramah
lingkungan dengan perusahaan Italia batal. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia -- PT *Pertamina*
<https://www.cnnindonesia.com/tag/pertamina>(Persero) menyatakan rencana
kerja sama yang mereka lakukan dengan perusahaan multinasional Italia yang
bergerak di bidang eksplorasi dan produksi *minyak*
<https://www.cnnindonesia.com/tag/minyak>dan gas bumi. ENI dalam
pengembangan *green refinery* (*Kilang*
<https://www.cnnindonesia.com/tag/kilang>Ramah Lingkungan) dibatalkan.

Pembatalan dilakukan terkait kebijakan Uni Eropa yang melarang penggunaan
minyak kelapa sawit (*Crude Palm Oil/CPO*) dari Indonesia. Kebijakan
tersebut membuat ENI meragukan kelanjutan rencana kerja sama tersebut.

Direktur Utama (Dirut) Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa
sebelumnya pihaknya telah merencanakan kerja sama dalam pembangunan Green
Refinary di Kilang Plaju, untuk pengolahan CPO menjadi bahan bakar ramah
lingkungan.


Untuk tahap awal, Eni dikabarkan akan membangun fasilitas pengolahan CPO
dari Indonesia di Italia. Kendati demikian, rencana tersebut dihentikan
langsung oleh pemerintah Italia karena CPO Indonesia harus mendapatkan
sertifikasi terlebih dahulu untuk dapat masuk ke Eropa.
Lihat juga:

 Pertamina Yakin Program B30 Serap 1,2 Juta Tenaga Kerja
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200129124040-85-469789/pertamina-yakin-program-b30-serap-12-juta-tenaga-kerja/>

"Awalnya kerja sama dengan ENI untuk mitigasi teknis. Tapi ada penolakan
CPO di Eropa karena harus terapkan sertifikasi internasional. ENI jadi maju
mundur," kata Nicke saat rapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu
(29/1).

Setelah ditegur oleh Pemerintah Italia, Nicke mengatakan ENI langsung
melakukan perubahan konsep pengujian di Indonesia dengan melakukan
pembangunan di Kilang Plaju. Akan tetapi, ENI masih tetap ditegur oleh
Pemerintah Italia.

"Jadi langsung bangun di Plaju. Tapi ENI dapat teguran dari pemerintah,
walaupun investasi di Indonesia tapi tetap dilawan juga. Padahal logikanya
kebun di Indonesia jadi aspek lingkungan kita yang kena, diproses dan
digunakan di indonesia, tapi ENI terapkan itu jadi putus dengan ENI,"
ungkapnya.

Dengan pembatalan kerja sama tersebut, Pertamina akhirnya memutuskan untuk
menggandeng UOP (Universal Oil Products). UOP merupakan perusahaan
multinasional yang mengembangkan dan mengirimkan teknologi ke penyulingan
minyak bumi, pemrosesan gas, produksi petrokimia, dan industri manufaktur
besar.



Nicke menyebut perusahaan asal AS itu juga telah memiliki sertifikasi
teknologi untuk produksi *green diesel* berbahan baku CPO.

"Kami bangun sendiri dan kerja sama langsung dengan UOP. Dan ENI kemarin
kena penalti karena masih pakai CPO Indonesia," ujarnya.

Nicke kemudian menjelaskan *green refinery* yang dibangun bakal memiliki
kapasitas produksi mencapai hingga 1 juta Kiloliter (KL) per tahun, dengan
kapasitas pengolahan CPO mencapai 20 ribu barel per hari untuk satu unit
kilang.

Pertamina dan ENI meneken tiga kesepakatan terkait pengolahan energi ramah
lingkungan. Sebanyak dua kesepakatan diantaranya terkait dengan
pengembangan kilang penghasil bahan bakar ramah lingkungan (*green refinary*
).

Kesepakatan tersebut adalah; *Head of Joint Venture Agreement* untuk
pengembangan *green refinery* di Indonesia serta lembar ketentuan (*term
sheet*) pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) di Italia.

Kesepakatan ini merupakan lanjutan dari nota kesepahaman kerja sama yang
telah diteken kedua perusahaan pada September 2018 dan Desember 2018.
Lihat juga:

 Erick Thohir soal Mafia di BUMN: Kita Sikat
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200128153143-92-469442/erick-thohir-soal-mafia-di-bumn-kita-sikat/>

Kirim email ke