Kutipan: "Ditambah lagi untuk politisi dari kubu White-Supremacy, Tiongkok 
adalah non-Caucasian jadi secara budaya, moral dan kecerdasan sangat rendah, 
jadi tidak mungkinlah bisa berkembang menyaingi AS, dsb."

Worldwide Average Differences Among Blacks, Whites, and East Asians 
IntelligenceIQ test scores                85                102               
106 
Fakta: East Asians (Oriental) lebih cerdas dari Whites seperti hasil dari IQ 
test tsb diatas. Selengkapnya bisa dilihat di halaman 265 (Table 3) dari hasil 
penelitian dari Prof. 
Ruston.https://www1.udel.edu/educ/gottfredson/30years/Rushton-Jensen30years.pdf 

Pencuri ulung sebenarnya dari ilmu teknologi adalah Amerika. Setelah perang 
dunia kedua (WW II), ahli teknologi2 Jerman di angkut seperti Wehner von Braun 
dll. Majoritas ahli2 teknologi di Silicon Valley di California adalah orang 
India dan Tiongkok. Intellectual properties mereka diperas (dicuri). Maling 
menuduh orang lain maling.     On Wednesday, January 29, 2020, 12:42:07 AM CST, 
ChanCT [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:  
 
     
 
 
| 
  | 
  |
| 
  | 
  |
| 
  | 
  |

 
 
Dari tetangga sebelah tulisan yang menarik.
 
 
 
"If you think of China as a country that copies rather than innovate - think 
again!!" 
 
(Amy Webb).
 
 
 
Ambillah Tiongkok memang benar mencuri teknologi maka bagi AS untuk mengatasi 
hal ini sangat mudah. Tinggal buktikan saja didepan pengadilan dan tuntut 
Tiongkok untuk membayar lunas semua paten yang dilanggar, gampang sekali 'kan? 
Apalagi AS 'kan gudangnya ahli hukum (lawyer) kelas dunia, kurang apalagi? Jika 
AS menempuh jalan ini ada banyak keuntungan diperoleh, Tiongkok akan jatuh 
namanya karena terbukti mencuri dan AS akan menerima banyak uang sebagai ganti 
rugi paten yang dilanggar. Disinilah kita harus kritis, mengapa AS tidak 
menempuh jalan hukum yang begitu mudah ini? Namun memilih untuk sekedar 
berpolitik? Penjelasan rasional yang paling mudah adalah AS tidak memiliki 
bukti bahwa terjadi pencurian teknologi oleh Tiongkok. Lalu apa yang sebenarnya 
terjadi? Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan?
 
Untuk mendapatkan jawaban ini kita perlu terlebih dahulu memahami perkembang-an 
teknologi Tiongkok yaitu bahwa ada beberapa bidang teknologi dimana Tiongkok 
mandiri dari Barat. Sebagai contoh, Kereta Cepat (High-Speed Train), Teknologi 
Konstruksi, 5G, Space Technology, Railgun Technology, AI, Electric Car, 
Renewable Energy, Hydrogen Bomb and Thermonuclear yang diluncurkan tahun 1964 - 
1967, pada saat Tiongkok masih di -embargo Barat. Disini perlu kita perhatikan 
hal-hal sbb yaitu:
 
*Pertama*, Apa perlunya Tiongkok susah-susah mencuri? Jika Tiongkoklah yang 
memimpin (world leader) dibidang teknologi tsb? Misalnya untuk Teknologi 5G, 
Railgun, High-Speed Train, Renewable Technology, AI dan Mobil Listrik.
 
Untuk 5G, Tiongkok sepenuhnya mandiri, Barat sendiri belum mampu membuat IC 5G 
dan komponen untuk antena 5G. Oleh karena Huawei memdominasi patent 5G dan 
semua proyek pembangunan jaringan 5G. (Elizabeth Woyke, "China is Racing Ahead 
in 5G. Here's What That Means," MIT Technological Review, December 18, 2018;  
/s/612617/china-is-racing-ahead-in-5g-heres-what-it-means/)..
 
Demikian juga dengan Railgun yang teknologinya jauh lebih modern daripada 
Railgun AS. Menurut analis militer, Railgun Tiongkok dapat merontokkan kapal 
induk AS dalam jarak 150 km dari pantai. Tiongkok begitu maju dalam Railgun 
Technology ini karena teknologi elektromagnetik-nya jauh lebih canggih daripada 
Barat (Jamie Seidel, "China's World First: Electromagnetic Railgun Goes to 
Sea," ,  news-story/ 6e31d167e88308f59ec9633 ef1e867b; Josh K. Elliott, "Why 
China's Miracle Railgun Weapon Should Scare the US Navy," Global News, January 
3, 2019; news/ 4810853/china-railgun-warship-weapon/)
 
Tiongkok adalah yang terdepan di dunia ini dalam Teknologi Kereta Cepat. Sampai 
hari ini, AS tidak memiliki sebuah kereta cepatpun, sedangkan Tiongkok memiliki 
jaringan kereta cepat yang melayani seluruh kota besar yang ada (Agence France 
Presse, "China First in the World for High-Speed Train," The Jakarta Post, July 
4, 2019; life/2019/07/03/china-first-in-the-world-for-high-speed-trains.html).
 
Demikian juga untuk AI (Artificial Intelligent), mega investasi yang bernilai 
multi-milyar dollar US menyebabkan Tiongkok yang terdepan dibidang ini (Amy 
Webb, "China is Leading in Artificial Intellegence,"  
201809/amy-webb/china-artificial-intellegence.html; James Vincent, " China is 
about to overtake America in AI Research." The Verge, March 19, 2019; Louis 
Columbus, " How China is Dominating Artificial Intellegence." Forbes, December 
16, 2018)
 
Untuk Enerji Terbarukan (Renewable Energy) ini adalah enerji masa depan. Pada 
saat perkembangan enerji terbarukan di Barat terhambat karena lobby politik 
perusahaan minyak. Tiongkok justru memimpin kemajuan di bidang ini (Dominic 
Dudley, "China is Set to Become the World's Energy Superpower," Forbes, January 
11, 2019; Dominic Chiu, "The East is Green: China's Global Leadership in 
Renewable Energy," CSIS Report, e-energy)
 
Demikian juga dengan Teknologi Mobil Listrik. Teknologi ini adalah masa depan 
industri mobil. Saat ini kemajuan teknologi mobil listrik di Barat stagnan. 
Kini Tiongkoklah yang terdepan didunia ini (Bloomberg Businessweek, " China is 
Leading the World to an Electric Car Future," November 15, 2018; Alex Thornton, 
"China is Winning the Electric Vehicle Race," World Economic Forum, 04 February 
2019;
 
*Kedua*, Bagaimana Mungkin Tiongkok Mencuri Teknologi Jika Saat itu Tiongkok 
diembargo dan di-isolasi oleh Barat? Misalnya, Teknologi Bom Hydrogen dan Bom 
Nuklir? Untuk Hydrogen Bomb ( UPI Archives, "China Fires H-Bomb," June 17, 
1967; "China First Hydrogen Test Successful, 1967"
 
Untuk Persenjataan Nuklir, Tiongkok adalah yang terbaik, bahkan melewati AS dan 
Russia, dalam Teknologi Persenjataan Nuklir (lihat, Alex Lockie, "We Ranked the 
World's Nuclear Arsenals. Here's Why China Came Out on Top." Business Insider, 
January 25, 2019).
 
*Ketiga*, Apabila Tiongkok Mencuri Teknologi, pasti teknologinya jauh lebih 
buruk dibandingkan Barat. Bagaimana mungkin bisa mendominasi hak Paten 
Teknologi? Paten diajukan untuk penemuan produk & teknologi baru dari segi ini 
Barat telah tertinggal oleh Tiongkok.
 
World Intellectual Property Organisation melaporkan bahwa untuk tahun 2017 dari 
3.17 juta paten yang diterbitkan. Paten dari Tiongkok ada 1.38 juta (43.53%) 
sedangkan AS 607,000 (19.14%), Jepang 318,000 (10.03%), Korea Selatan 205,000 
(6.46%). Baru disusul Uni Eropa 167,000 (5.26%). Data ini menunjukkan bahwa 
selain dominasi teknologi Tiongkok; juga dominasi Asia karena dari 3 negara 
Asia Timur tsb sudah mendominasi 58.82% paten teknologi. Jika dilihat Asia 
secara keseluruhan ada 65% dari total paten. Sedangkan AS dan Eropa hanya 
24.40%, jadi kini penemuan teknologi didominasi Asia, bukan oleh Eropa dan AS. 
Trend seperti ini stabil sejak tahun 2011 yl. Ini membuktikan bahwa Asia telah 
bangkit dan telah mendominasi teknologi ("China Continues to Dominate Worldwide 
Patent Applications" Engineering and Technology, December 4, 2018; Barney 
Thompson and Nian Liu, "China Leads the Way in Legal Technology Patents," 
Financial Times, 17 February 2019; IPPro, "China is Overtaking the US as the 
World's Largest Innovator," 20 November 2018,  specialistfeatures/ 
specialistfeature.php?specialist_id=26).
 
*Keempat*, Menurut intelektual dan akademisi Barat yaitu Joseph Needham, 
seorang ilmuwan yang terhormat (well-respected) dari Cambridge University, UK.. 
Penulis ensiklopedia Science and Civilization in China. Needham menulis bahwa: 
"Tiongkok adalah Peradaban Sains dan Teknologi (Science and Technology 
Civilization). Masyarakat Tiongkok sangat menghargai proses belajar, studi dan 
meneliti, sehingga mereka memiliki kemampuan mengembangkan sains dan teknologi 
secara mandiri. " Tulisan Needham ini menjelaskan mengapa pada saat 
diisolasi/diembargo Barat. Kemajuan teknologi Tiongkok untuk industri dasar, 
hydrogen dan nuklir tetap melaju kedepan secara mengesankan.
 
Lebih lanjut, Needham menulis bahwa kompas, jam (penunjuk waktu), mesiu, 
senjata api (senapan, meriam, dinamit, roket, dsb), crossbow, astronomi, 
kertas, uang kertas, bank, bank cheque, teknik percetakan, seismograph - alat 
pengukur gempa. Saat itu kaisar Tiongkok sudah bisa mengetahui kapan terjadi 
gempa, seberapa besar gempa tsb dan dimana lokasi gempa sehingga bisa cepat 
mengirim bantuan. Menarik bahwa seismograph modern masih tetap meng-gunakan 
prinsip teknologi yang sama dengan seismograph Tiongkok kuno. Serta masih 
banyak lagi seperti kincir air, irigasi, matematika, dsb. Seluruh teknologi ini 
telah biasa digunakan di Tiongkok dijaman dinasti Tang. Baru 1000 tahun 
kemudian diperkenalkan di Barat oleh rahib Jesuit, yang waktu itu ber-kunjung 
ke Tiongkok, menjadi tamu kaisar dan diijinkan belajar tekonologi Tiongkok. 
Jadi menurut Needham, Baratlah yang terlebih dulu belajar teknologi dari 
Tiongkok. 
 
Kehadiran teknologi Tiongkok di Eropa mendorong terjadinya Pencerahan 
(rennaisance) yang merupakan titik awal bangkitnya liberalisme dan humanisme, 
yang kemudian mendorong kebangkitan Eropa (Joseph Needham, Science and 
Civilization in China, Cambridge University Press, 2015).
 
Jika kita meminjam nilai-nilai liberal Barat, fairness, justice, gentleman, 
ethics dsb yang selama ini dijunjung tinggi dan dibanggakan oleh dunia Barat. 
AS semestinya membayar lunas semua paten teknologi Tiongkok yang digunakannya 
terlebih dahulu. Barulah AS bisa klaim pencurian teknologi oleh Tiongkok. Jika 
hal ini dilakukan maka AS tidak akan lagi mampu tegak berdiri, limbung karena 
bangkrut.
 
Selama bertahun-tahun para petinggi di Washington meremehkan (underestimate) 
Tiongkok. Mereka terjebak kedalam paradigma yang diciptakan sendiri; bahwa 
Tiongkok dikuasai rejim komunis yang otoritarian, bahwa rakyat Tiongkok 
menderita dibawah pemerintahan otoritarian, bahwa dengan kemajuan ekonomi yang 
terjadi, rakyat Tiongkok akan bangkit dan menuntut demokrasi, jika tuntutan 
demokrasi ini terjadi maka rejim komunispun tumbang dan Tiongkok - pun menjadi 
demokrasi liberal seperti Barat. Ditambah lagi untuk politisi dari kubu 
White-Supremacy, Tiongkok adalah non-Caucasian jadi secara budaya, moral dan 
kecerdasan sangat rendah, jadi tidak mungkinlah bisa berkembang menyaingi AS, 
dsb.
 
Ini adalah asumsi yang sepenuhnya irasional; oleh karena tidak didasarkan pada 
data dan studi kontemporer (contemporary studies) yang mendalam pada struktur 
sosial-politik Tiongkok. Namun hanya didasarkan pada persepsi "sebagai orang 
luar terhadap komunisme Tiongkok." Akibatnya seperti intelektual AS Gordon 
Chang yang laris dan disukai para petinggi Washington. Gordon sejak tahun 2005 
yl selalu memprediksikan bahwa rejim politik dan ekonomi Tiongkok akan runtuh 
dan prediksinya selalu keliru. Sekalipun selalu keliru, Gordon tetap 
digandrungi para petinggi Washington karena Gordon berceritera apa yang ingin 
didengar oleh para petinggi Washington, bukan apa yang sebenarnya terjadi. 
 
Akibatnya, kebijakan Washington terhadap Tiongkok tidak pernah efektif, bahkan 
sepenuhnya tidak tepat sehingga Washington gagal menghentikan kemajuan 
Tiongkok. Puncak dari kegagalan Washington ini adalah perang dagang baru saja 
berlalu.
 
Frustasi menghadapi Tiongkok, langkah paling mudah adalah melancarkan hoax 
politik "mencuri teknologi" dengan tujuan membentuk persepsi dan opini publik 
AS dan dunia bahwa Tiongkok adalah negara inferior dengan tingkat kecerdasan 
rendah, bermoral rendah, bisanya cuma mencuri. Sedangkan AS adalah sang 
adikuasa yang superior, pembela demokrasi dan HAM, sumber ilmu dan teknologi; 
yang telah mejadi "korban" kejahatan Tiongkok.
 
Hoax politik ini sangat jitu dalam menenangkan publik AS atas rontoknya 
superioritas teknologi AS oleh Tiongkok. Gambaran bahwa AS adalah "korban" 
kejahatan dan kelicikan Tiongkok cukup meyakinkan kaum White Supremacist dan 
dapat menenangkan kemarahan kaum buruh dan para penganggur korban PHK karena 
relokasi industri ke Tiongkok. Film yang dibuat Peter Navarro, "Death by China" 
menggambarkan dengan jelas upaya politik ini. Tiongkok menjadi kambing hitam 
kegagalan kebijakan ekonomi AS sehingga sektor manufaktur dalam negeri rontok, 
hutang menumpuk, pengangguran meningkat, produktivitas nasional menurun dan AS 
menjadi sangat konsumtif yang mengakibatkan defisit perdagangan meledak semua 
ini berujung pada meningkatnya angka kemiskinan. Kini jauh lebih banyak jumlah 
orang miskin di AS daripada di Tiongkok. Pada tahun 2017 yl UN Rapporteur 
Philip Alston berkunjung ke AS untuk meneliti kemiskinan yang terjadi dan dia 
melapor-kan ada sejumlah 51 juta orang yang dikategorikan sebagai on extreme 
poverty (Ed Pilkington,"The UN Rapporteur on Extreme Poverty in America," The 
Guardian, 1 December 2017). Pada tahun yang sama jumlah orang miskin di 
Tiongkok tinggal 9 juta dan Xi mentarget-kan bahwa ditahun 2020 kemiskinan 
tidak ada lagi di Tiongkok.
 
Semua ini hanyalah mentalitas pihak yang kalah (the loser mentality). Tidak 
akan menolong AS untuk memperbaiki dirinya. AS bagaikan atlit yang kalah 
bertanding kemudian sibuk menyalahkan lawannya (Tiongkok) dan wasitnya (WTO)..
 
"Sebagai akhir kata, data diatas menunjuk dengan jelas bahwa kini Asia memimpin 
dunia dalam Inovasi Teknologi sehingga langkah Asia memasuki abad 21 adalah 
dengan tegap. Fajar telah merekah di Asia, yang dulu adalah budak dan jajahan 
Barat. 
 
Akhirnya semua kembali kepada kita, Apakah kita akan menoleh ke Timur dimana 
fajar merekah dengan indah? Ataukah tetap terpaku ke Barat untuk menyaksikan 
matahari terbenam? Apakah kita akan ikut berderap bersama para tetangga 
memasuki abad Asia sambil memberi warna Indonesia? Ataukah kita memilih sibuk 
bertengkar masalah Suku, Ras, Agama dan Politik? Langkah apapun yang kita ambil 
adalah pilihan kita sendiri"
 
 
   #yiv1383844376 #yiv1383844376 -- #yiv1383844376ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-mkp #yiv1383844376hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mkp #yiv1383844376ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mkp .yiv1383844376ad 
{padding:0 0;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mkp .yiv1383844376ad p 
{margin:0;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mkp .yiv1383844376ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-sponsor 
#yiv1383844376ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-sponsor #yiv1383844376ygrp-lc #yiv1383844376hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-sponsor #yiv1383844376ygrp-lc .yiv1383844376ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1383844376 #yiv1383844376actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1383844376
 #yiv1383844376activity span {font-weight:700;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1383844376 #yiv1383844376activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1383844376 #yiv1383844376activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1383844376 #yiv1383844376activity span 
.yiv1383844376underline {text-decoration:underline;}#yiv1383844376 
.yiv1383844376attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1383844376 .yiv1383844376attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1383844376 .yiv1383844376attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1383844376 .yiv1383844376attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1383844376 .yiv1383844376attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1383844376 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1383844376 .yiv1383844376bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1383844376 
.yiv1383844376bold a {text-decoration:none;}#yiv1383844376 dd.yiv1383844376last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1383844376 dd.yiv1383844376last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1383844376 
dd.yiv1383844376last p span.yiv1383844376yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1383844376 div.yiv1383844376attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1383844376 div.yiv1383844376attach-table 
{width:400px;}#yiv1383844376 div.yiv1383844376file-title a, #yiv1383844376 
div.yiv1383844376file-title a:active, #yiv1383844376 
div.yiv1383844376file-title a:hover, #yiv1383844376 div.yiv1383844376file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1383844376 div.yiv1383844376photo-title a, 
#yiv1383844376 div.yiv1383844376photo-title a:active, #yiv1383844376 
div.yiv1383844376photo-title a:hover, #yiv1383844376 
div.yiv1383844376photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1383844376 
div#yiv1383844376ygrp-mlmsg #yiv1383844376ygrp-msg p a 
span.yiv1383844376yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1383844376 
.yiv1383844376green {color:#628c2a;}#yiv1383844376 .yiv1383844376MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1383844376 o {font-size:0;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376photos div {float:left;width:72px;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1383844376
 #yiv1383844376reco-category {font-size:77%;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376reco-desc {font-size:77%;}#yiv1383844376 .yiv1383844376replbq 
{margin:4px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-mlmsg select, #yiv1383844376 input, #yiv1383844376 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-mlmsg pre, #yiv1383844376 code {font:115% 
monospace;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-mlmsg #yiv1383844376logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-msg 
p#yiv1383844376attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-reco #yiv1383844376reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-sponsor 
#yiv1383844376ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-sponsor #yiv1383844376ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-sponsor #yiv1383844376ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1383844376 #yiv1383844376ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1383844376 
#yiv1383844376ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1383844376   

Kirim email ke