Bank Dunia: 45 Persen Penduduk Indonesia Berpotensi Kembali MiskinKamis ,
30 Januari 2020 | 14:39

JAKARTA - Tingkat kemiskinan Indonesia mengalami penurunan yang berarti.
Cukup banyak dari penduduk Indonesia yang sudah keluar dari jurang
kemiskinan. Namun bukan berarti mereka terbebas dari kemiskinan.

Bank Dunia dalam laporannya berjudul Aspiring Indonesia-Expanding the
Middle Class menilai masyarakat Indonesia yang sudah keluar dari garis
kemiskinan masih rentan untuk kembali miskin.

Bank Dunia mencatat selama 15 tahun terakhir, Indonesia telah membuat
kemajuan luar biasa dalam mengurangi tingkat kemiskinan yang sekarang
berada di bawah 10%. Selama periode itu kelas menengah Indonesia tumbuh
dari 7% menjadi 20% dari total penduduk atau sekitar 52 juta orang.

Namun yang perlu diperhatikan adalah masyarakat miskin yang baru saja
keluar dari garis kemiskinan. Jumlahnya mencapai 45% dari penduduk
Indonesia atau sebanyak 115 juta orang.

Nah bagi mereka yang baru keluar dari garis kemiskinan jika tidak memiliki
kemampuan untuk masuk menjadi kelas menengah besar kemungkinannya kembali
lagi menjadi miskin.

Oleh karena itu Bank Dunia merekomendasikan pemerintah untuk mengadopsi
kebijakan yang tepat guna mendorong mereka masuk ke kalangan menengah.

"Permintaan dari kelas menengah dapat mendorong pertumbuhan. Mereka adalah
sumber dari hampir setengah total pengeluaran rumahtangga di Indonesia.
Selain itu, mereka juga berinvestasi lebih banyak dalam sumber daya
manusia. Dengan kebijakan yang tepat untuk memperluas kelas menengah dapat
membuka potensi pembangunan Indonesia dan mendorong Indonesia menjadi
negara berpenghasilan tinggi," kata World Bank Acting Country Director
untuk Indonesia, Rolande Pryce di Energy Building, Jakarta, Kamis
(30/1/2020).

Menurut Pryce, untuk mendukung jutaan orang yang memiliki aspirasi untuk
menjadi bagian kelas menengah, Indonesia perlu menciptakan lebih banyak
lapangan pekerjaan dengan upah yang lebih baik. Lalu didukung oleh sistem
yang kuat untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas dan jaminan
kesehatan universal.

Hal ini itu memerlukan perbaikan lingkungan usaha dan investasi pada
infrastruktur. Selain itu, yang juga akan diperlukan adalah perluasan akses
jaminan sosial untuk perlindungan dari guncangan kesehatan dan
ketenagakerjaan yang mengikis keuntungan ekonomi dan peluang mobilitas ke
atas bagi jutaan orang yang ingin masuk dalam kelas menengah.

Kirim email ke