-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4880695/target-provokasi-cina-di-natuna?tag_from=wp_cb_kolom_list


Kolom

Target Provokasi Cina di Natuna

Yohanes Ivan A.K. - detikNews
Jumat, 31 Jan 2020 16:05 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Shandong, kapal induk angkatan laut Cina
Shandong, kapal induk angkatan laut Cina
Jakarta -
Akhir-akhir ini publik di Indonesia dan masyarakat internasional dihebohkan 
oleh langkah pemerintah Cina yang mengutus penjaga pantainya melindungi nelayan 
dari Cina melaut di perairan Natuna. Langkah ini didasari klaim pemerintah Cina 
melalui klaim Sembilan Garis Putus yang sebagian besar didasarkan atas sejarah, 
meski kebenaran sejarah itu diragukan.

Sejatinya, laut Natuna Utara, berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa 
(PBB) tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, menjadi hak resmi Indonesia untuk 
memanfaatkan sumberdaya yang terletak pada perairan Natuna. Langkah pemerintah 
Cina yang melanggar ketentuan hukum internasional ini didahului dengan 
serangkaian langkah kontroversial yang telah dilakukan beberapa kali.

Sebelumnya, pemerintah Cina berulangkali memprovokasi Vietnam, Filipina, 
Malaysia, dan Brunei Darussalam melalui penempatan armada tempurnya di sekitar 
kepulauan Spratly dan Paracel yang notabene lebih dekat dengan negara-negara 
Asia Tenggara. Menariknya, sama halnya seperti langkah mereka di perairan 
Natuna, Cina menghadapi perlawanan dari empat negara Asia Tenggara dalam isu 
Spratly dan Paracel, meski keempat negara tersebut juga melandasi klaim mereka 
dengan UNCLOS 1982.

Memang dapat dikatakan bahwa Cina berhasrat untuk menguasai sumber daya alam di 
wilayah sengketa tersebut. Namun, bagaimana melihat langkah-langkah pemerintah 
Cina menggunakan perspektif yang lebih luas dan kompleks? Untuk apa pemerintah 
Cina "menantang" sebagian negara anggota "PBB Asia Tenggara" (ASEAN)?

Pecah Kekuatan

Dilihat dari aspek politik-keamanan, pemerintah Cina bertujuan untuk memecah 
blok politik ASEAN menjadi pecahan kecil untuk mencegah transformasi ASEAN 
menjadi kekuatan politik yang mumpuni. Bahkan, pemerintah Cina tak mundur, 
walau Filipina memenangkan gugatannya di Mahkamah Arbitrase Internasional di 
Den Haag, Belanda.

Pengadilan menyebutkan bahwa pemerintah Cina berdasarkan UNCLOS tidak punya hak 
untuk mengeksploitasi kekayaan alam dan mendirikan bangunan di wilayah sengketa 
tersebut. Sebaliknya, pemerintah Cina menolak keputusan tersebut dan menyatakan 
sikap pengadilan sebagai sesuatu yang ilegal.

Sikap pemerintah Cina menjelaskan secara tersirat bahwa konflik ini "harus" 
dilanggengkan, bagaimanapun caranya. Patut diingat, keempat negara yang 
mengklaim juga saling bersengketa sehingga larutnya masalah cenderung 
memperkeruh hubungan mereka.

Tidak hanya bersinggungan dengan empat negara yang mengklaim, pemerintah Cina 
juga memprovokasi pemerintah Indonesia dengan menempatkan penjaga pantai Cina 
di laut Natuna, meski wilayah tersebut masuk ke dalam Zona Ekonomi Eksklusif 
(ZEE) Indonesia. Apa tujuannya? Untuk memahami ini, perlu dipahami bahwa 
Indonesia memiliki posisi strategis dalam isu Laut Cina Selatan (LCS) sebagai 
penengah serta inisiator utama Kode Tata Berperilaku (COC) di LCS.

Bila Indonesia bertindak di luar ketentuan hukum internasional, legitimasi 
Indonesia sebagai desainer COC bisa dipertanyakan. Untungnya, pemerintah 
Indonesia melangkah secara terstruktur dan tidak menggunakan serangan langsung 
dari militer. Delegitimasi Indonesia sebagai penengah konflik LCS bisa 
memengaruhi keberhasilan Cina memperkeruh situasi dimana kondisi seperti itu 
menguntungkan langkah politik Cina untuk memecah kekuatan di Asia Tenggara.

Tidak hanya berkonfrontasi langsung dengan klaim empat negara dan memancing 
emosi Indonesia, Cina juga berupaya membagi kekuatan negara ASEAN melalui 
kerjasama ekonomi dengan Thailand dan Myanmar. Mengapa?

Keuntungan Geopolitik

Cina mendekati Thailand dan Myanmar untuk memperkuat daya tawar geopolitiknya 
sekaligus memperkokoh kekuatan ekonomi serta perdagangan. Pada 2015, Cina 
disambut hangat oleh pemerintah Thailand untuk merealisasikan megaproyek Kanal 
Kra yang sempat terbengkalai lama. Kra disebut akan menghubungkan LCS dengan 
Samudera Hindia dengan membagi Thailand menjadi dua bagian, utara dan selatan.

Selain kanal tersebut, pemerintah Cina pada 18 Januari kemarin menyepakati 
kerjasama pembangunan infrastruktur kereta cepat dari perbatasan Myanmar-Cina 
hingga Kyaukpyu, sebuah daerah pelabuhan dan industri yang berhubungan langsung 
dengan Samudra Hindia.

Melalui dua inisiatif itu, Cina meraih berbagai keuntungan. Pertama, kedua 
proyek mengefisienkan waktu transfer komoditas ekspor maupun impor Cina tanpa 
harus melewati Selat Malaka yang memakan waktu jauh lebih lama. Kedua, selain 
efisiensi dari segi waktu, Cina juga mengamankan jalur minyak, gas, dan 
komoditas ekspor andaikata Selat Malaka digunakan negara ASEAN untuk 
menghalangi kepentingan ekonomi-politik Cina.

Ketiga, pemerintah Cina mampu menempatkan perusahaan-perusahaan 
multinasionalnya untuk membuka cabang di jalur hubung Myanmar-Cina karena ada 
dalam klausul perjanjian bahwa Cina diijinkan "menguasai" kawasan industri 
Kyaukpyu. Keempat, ada kemungkinan Cina membuka pangkalan militernya di kawasan 
penghubung itu sehingga militer Cina dapat mengamankan jalur dagang di samping 
menekan kekuatan militer negara anggota ASEAN.

Apa saja keuntungan substantif lebih jauh? Pertama, Cina mengurangi tingkat 
dependensi terhadap jalur Selat Malaka yang menguntungkan Singapura, Malaysia, 
dan Indonesia. Kedua, Cina mengungguli kompetitor dagang besar seperti Jepang, 
Korea Selatan, dan Uni Eropa. Jepang dan Korea Selatan sangat bergantung pada 
Selat Malaka yang tiap harinya dilalui komoditas bernilai tak kurang dari 100 
juta Euro.

Sedangkan, Uni Eropa yang sedang menjalin hubungan dagang yang hangat dengan 
Vietnam akan lebih sering dibanjiri produk impor Cina karena Cina memangkas 
waktu perjalanan barang dagangnya. Ketiga, Cina, seperti menurut Agnew dan 
Livingstone (2011), menciptakan ruang geopolitik baru yang memperkokoh baik 
posisi politik, keamanan, dan ekonomi Cina. Ruang geopolitik tak dapat tercipta 
begitu saja, melainkan harus diinisiasi dari pelaku politik itu sendiri.

Dapat disimpulkan, tujuan Cina menciptakan keributan selain untuk 
mengeksploitasi sumber daya alam di LCS, juga untuk memecah kekuatan politik 
ASEAN. Pecahnya poros ASEAN diupayakan mengurangi delegitimasi organisasi itu 
beserta anggotanya dalam menciptakan kesepakatan serta melemahkan hubungan 
antarnegara anggotanya. Sementara, Cina memanfaatkan momen ini untuk 
memperkokoh potensi geopolitiknya dengan menggandeng Myanmar dan Thailand.

Bagaimana Indonesia sebaiknya bersikap? Sikap tenang dan terukur Kementerian 
Luar Negeri (Kemenlu) dan Tentara Nasional Indonesia sudah sangat tepat. 
Sementara, langkah balancing atau mencari sekutu yang seimbang yakni Jepang 
oleh Kemenlu patut diapresiasi karena hal itu menunjukkan bahwa tindakan Cina 
berpotensi memunculkan Jepang sebagai "musuh" baru.

Pada masa mendatang, pemerintah Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama 
ASEAN ditantang untuk mengkonsolidasi kekuatan politik dan keamanan organisasi 
regional ini tanpa menyalahi prinsip dasar ASEAN.

Yohanes Ivan Adi Kristianto, S.I.P, M.A alumnus Hubungan Internasional 
University of Groningen, Belanda; pengamat isu hubungan internasional

(mmu/mmu)
natuna
natuna diklaim china
geopolitik
asean
laut china selatan







Kirim email ke