Bung Sunny, Hutan perlu dinyatakan sebagai Jilbab, tidak boleh terbuka................? KH
Pada tanggal Sel, 4 Feb 2020 pukul 06.29 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > https://www.mongabay.co.id/2020/02/04/aceh-kehilangan-tutupan-hutan-haka-sehari-41-hektar/ > > > > > Hutan <https://www.mongabay.co.id/category/hutan/> > Aceh Kehilangan Tutupan Hutan, HAkA: Sehari 41 Hektar > > oleh Junaidi Hanafiah [Aceh] > <https://www.mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah-aceh/> di 4 February > 2020 > > > > - > > *Luas tutupan hutan di Provinsi Aceh menyusut. Pada 2018, luasnya > sekitar 3.004.352 hektar, namun di 2019 menjadi 2.989.212 hektar.* > - > > *Tahun 2019, Aceh kehilangan tutupan hutan sekitar 15.071 hektar atau > seharinya hilang 41 hektar.* > - > > *Pada 2019, Kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah yang paling banyak > kehilangan tutupan hutan yaitu, 2.416 hektar. Umumnya, tutupan hutan hilang > setelah ada pembangunan jalan.* > - > > *Berdasarkan SK/MenLHK No. 103/Men-LHK-II/2015, luas kawasan hutan dan > konservasi perairan Provinsi Aceh sekitar 3.557.928 hektar.* > > > > Luas tutupan hutan di Provinsi Aceh menyusut. Tahun 2018, luasnya sekitar > 3.004.352 hektar, namun pada akhir 2019 berkurang menjadi 2.989.212 > hektar. Berdasarkan SK/MenLHK No. 103/Men-LHK-II/2015, luas kawasan hutan > dan konservasi perairan Provinsi Aceh berkisar 3.557.928 hektar. > > Manager Geographic Information System [GIS] Yayasan Hutan Alam dan > Lingkungan Aceh [HAkA], Agung Dwinurcahya pada 30 Januari 2020 menjelaskan, > pada 2019 laju kerusakan hutan di Aceh tidak jauh berbeda dengan 2018. Di > 2019, Aceh kehilangan tutupan hutan mencapai 15.071 hektar. > > “Angka itu seluas 2,5 kali ukuran luas Ibu Kota Provinsi Aceh, Banda Aceh > atau 14 ribu kali lapangan bola kaki. Atau, Aceh rata-rata kehilangan > tutupan hutan mencapai 41 hektar per hari,” ujarnya. > > Agung mengatakan, perhitungan hilangnya tutupan hutan dilakukan sangat > hati-hati, tidak asal. Selain menggunakan satelit, pembuktian juga dengan > cek langsung lapangan. > > “Kami menggunakan citra satelit Landsat, Sentinel, Planet, dan bantuan > peringatan dini kehilangan tegakan pohon *GLAD alerts* dari Global Forest > Watch [GFW]. Sementara, cek lapangan dengan drone,” jelasnya. > > *Baca: Ketahuan, Perusahaan Sawit di Aceh Tamiang Rambah Hutan > <https://www.mongabay.co.id/2020/01/24/ketahuan-perusahaan-sawit-di-aceh-tamiang-rambah-hutan/>* > > > > Penebangan liar di Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Foto: Junaidi > Hanafiah/Mongabay Indonesia > > > > Pada 2019, Kabupaten Aceh Tengah merupakan daerah yang paling banyak > kehilangan tutupan hutan yaitu, 2.416 hektar, diikuti Kabupaten Aceh Utara > [1.815 hektar] dan Kabupaten Aceh Timur [1.547 hektar]. > > “Umumnya, tutupan hutan hilang setelah adanya pembangunan jalan,” katanya. > > Agung juga menghitung tutupan hutan yang hilang di Kawasan Ekosistem > Leuser [KEL]. Pada 2019, tercatat 5.395 hektar, sementara 2018 hilang > sekitar 5.685 hektar. Sedangkan 2017 sebesar 7.066 hektar dan 2016 seluas > 10.348 hektar. > > “Jika dihitung sejak 2015 hingga 2019, Aceh telah kehilangan tutupan hutan > mencapai 90.071 hektar,” jelasnya. > > Tim HAKA juga memantau dampak berukurangnya tutupan hutan yaitu dengan > meningkatnya bencana alam seperti banjir, longsor, maupun kekeringan. > > “Kami memantau melalui pemberitaan media. Pada 2019 banjir dan longsor > mencapai 121 kasus di 22 kabupaten/kota, sementara kekeringan [16 kasus] > terjadi di delapan kabupaten/kota,” jelas Agung. > > *Baca: Foto: Jalan Jantho – Lamno yang Membelah Hutan Ulu Masen > <https://www.mongabay.co.id/2020/01/18/foto-jalan-jantho-lamno-yang-membelah-hutan-ulu-masen/>* > > > > Jalan Jantho – Lamno yang membelah hutan Ulu Masen wilayah Kabupaten Aceh > Besar dan Aceh Jaya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia > > > > Teuku Muhammad Zulfikar, Koordinator Yayasan Ekosistem Leuser [YEL] > Provinsi Aceh mengatakan, hutan gambut di Provinsi Aceh luasnya > mencapai 339.282 hektar yang 178.247 hektar berada di Kawasan Ekosistem > Leuser [KEL]. > > “Dari 36 kawasan hutan gambut yang telah ditetapkan, 178.662 hektar > statusnya lindung, sementera 160.622 hektar merupakan kawasan budidaya. > Sebagian besar hutan gambut berada di bagian barat dan selatan Aceh,” sebut > pria yang kerap disapa TM Zulfikar. > > Faktanya, 2016-2019, lebih 52 persen kebakaran hutan dan lahan di Provinsi > Aceh terjadi di lahan gambut. “Beberapa kawasan gambut yang memiliki nilai > konservasi dan keaneragaman hayati tinggi, telah dibebani hak dan alih > fungsi lahan,” ujarnya. > > TM Zulfikar menuturkan, meskipun perambahan di kawasan gambut cukup > tinggi, namun upaya hukum untuk menghentikan kegiatan ilegal tersebut masih > belum terlihat. “Salah satu dampaknya adalah terjadinya konflik satwa > dengan masyarakat,” ujarnya. > > Terkait kondisi tutupan hutan yang hilang, *Mongabay Indonesia* berusaha > konfirmasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh, > Syahrial, melalui telepon. Namun, hingga saat tulisan ini tayang, kepala > dinas belum bersedia memberikan jawaban. > > *Baca: Hutan Gambut, Benteng Alami Tsunami yang Tidak Diperhitungkan > <https://www.mongabay.co.id/2019/12/26/hutan-gambut-benteng-alami-tsunami-yang-tidak-diperhitungkan/>* > > > > Sawit ilegal di hutan lindung Aceh Tamiang terus dimusnahkan. Foto: > Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia > > > > *Rawan bencana* > > Direktur Wahana Lingkungna Hidup Indonesia [Walhi] Aceh, Muhammad Nur, > awal Januari 2020 menyatakan, Aceh merupakan daerah rawan bencana alam. > > “Namun, banyak kasus kejahatan atau kerusakan lingkungan yang tidak > terselesaikan dengan baik. Misal, Pemerintah Aceh tidak melanjutkan > kebijakan moratorium tambang dan moratorium perkebunan sawit.” > > Muhammad Nur menambahkan, saat ini luas pertambangan emas ilegal mencapai > 2.226,87 hektar dengan melibatkan 5.677 pekerja. > > “Ada ratusan titik galian yang tersebar di sejumlah kabupaten, namun > hingga saat ini pemerintah di Aceh belum mampu melakukan penertiban. > Padahal, banyak pekerja meninggal akibat tertimbun galian,” ujarnya. > > Masalah lain adalah, banyak masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU, > pabrik semen dan perusahaan sawit yang menyuarakan masalah lingkungan tapi > belum ada penyelesaian dari pemerintah. “Kerusakan lingkungan akan > bertambah parah yang disusul dengan meningkatnya bencana alam. Pada 2019, > akibat bencana ekologi, Aceh rugi mencapai 538,8 miliar Rupiah,” terang > Muhammad Nur. > > *Baca juga: Ruwetnya Urusan Hutan Adat di Aceh > <https://www.mongabay.co.id/2019/09/13/ruwetnya-urusan-hutan-adat-di-aceh/>* > > > > Hutan Leuser harus selalu dijaga, agar air tetap mengalir. Foto: Junaidi > Hanafiah/Mongabay Indonesia > > > > Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah saat membuka “Forestival Aceh” pada 8 > Januari 2020, menuturkan, lingkungan hidup menjadi perhatian serius > Pemerintah Aceh. Isu ini termasuk dalam program penting. > > “Salah satunya bukti, Pemerintah Aceh memasukkan Aceh Green dalam visi > misi saat ini dan memasukkan juga dalam program Aceh Hebat,” sebutnya. > > Nova mengatakan, Pemerintah Aceh telah mendorong percepatan akses kelola > masyarakat terhadap kawasan hutan melalui pembentukan Kelompok Kerja > Percepatan Perhutanan Sosial Aceh. > > “Saat ini, telah diberikan 50 izin perhutanan sosial dengan total luas 110 > ribu hektar. Rinciannya: hutan desa, hutan kemasyarakatan, dan hutan > tanaman rakyat yang dialokasikan bagi 14 ribu KK di seluruh Aceh.” > > Selain itu, Pemerintah Aceh mendukung dan memfasilitasi terbentuknya lima > *Conservation > Response Unit* [CRU] untuk membantu penanganan konflik satwa liar dengan > manusia. > > “Pemerintah Aceh tengah menginisiasi rancang bangun kawasan ekosistem > esensial [KEE] di delapan lokasi. Tujuannya, perlindungan dan pemulihan > spesies kunci serta pengelolaan habitat satwa liar dilindungi. Pemerintah > Aceh juga telah merehabilitasi hutan dan lahan seluas 13 ribu hektar tiga > tahun terakhir yang tentunya dibarengi penegakan hukum,” tegas Nova. > > > > >
