Berikut adalah tambahan untuk bahan pembanding ttg RG sbg dosen Filsafat
FIB UI yang dimuat dlm Majalah: Jurnal Perempuan . Selamat membaca.
Salam. Lusi.-
Jurnal Perempuan - 19/9/2014
Rocky Gerung: Filsafat Adalah Interupsi Terhadap Arogansi
PictureDok. Jurnal Perempuan
Filsafat dan Arogansi, itulah judul kuliah umum yang diselenggarakan
oleh Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas
Indonesia hari Kamis (18/9) yang bertempat di Auditorium Gedung I FIB
UI. Dengan pembicara Rocky Gerung, dosen Filsafat FIB UI dan
dimoderatori oleh Gadis Arivia, dosen Filsafat FIB UI sekaligus Pendiri
Jurnal Perempuan, kuliah umum ini berusaha mencari kaitan antara
wilayah filsafat dan wilayah arogansi.
Rocky Gerung mengatakan bahwa filsafat tidak mungkin arogan. Sejak awal
filsafat merupakan pertengkaran pikiran dengan alat dialektika dan
logika. Eksploitasi dari arogansi di dalam wilayah filsafat akan
menyebabkan pikiran terhenti. Filsafat yang dibicarakan di sini bukan
filsafat sebagai bidang studi. Filsafat adalah intervensi manusia
terhadap establishment. Musuh bebuyutan filsafat adalah finalitas.
Proposisi utama filsafat adalah menghubungkan kontrafinalitas sebagai
upaya membuka percakapan rasional dan sosial.
Misalnya dalam hal local wisdom yang menyatakan bahwa perempuan tidak
boleh menikmati rasionalitas karena watak perempuan adalah
emosionalitas. Pikiran seperti itu kemudian dibakukan melalui code of
conduct di dalam masyarakat tradisional. Arogansi yang dipelihara
seolah-olah dipelihara oleh kode-kode kebudayaan yang di dalamnya
tersimpan relasi kuasa. Di situlah filsafat berfungsi untuk
menginterupsi.
Arogansi yang dibicarakan bukan tentang watak, namun adalah kekurangan
pikiran yang diasuransikan pada kekuasaan. Lebih lanjut Rocky
mengatakan salah satu hal yang menyuburkan arogansi adalah conspiracy
of silence. Hal itu juga ditemukan di universitas.
Ukuran bagi universitas adalah memproduksi gelar sebanyak-banyaknya,
bukan memproduksi pikiran. Di situlah kesalahan desain akademis kita dan
filsafat menyediakan diri sebagai melting pot. Filsafat merupakan upaya
sadar untuk menginterupsi arogansi ilmu pengetahuan. Pada akhirnya,
selama kultur arogansi bekerja sama dengan kultur diam, maka pikiran
tidak mungkin berkembang.
Gadis Arivia melanjutkan pembicaraan dengan memunculkan Hannah Arendt
yang pada tahun 1973 membunyikan teori serupa. Alasan terjadinya
pembunuhan oleh Nazi secara besar-besaran adalah karena lack of
thinking. Adanya aktivitas berpikir yang macet.
Menghubungkan arogansi dan filsafat masuk kepada hal yang penting
sekali, yaitu arrogance of judgment. Persoalan arogansi kemudian masuk
ke wilayah etis. Kultur diam membuat kita jadi malas berpikir dan malas
mengkritik. Menjadi irresponsible. (Lola Loveita)
Comments are closed.
Jurnal Perempuan
​terindeks di: Picture Archives
January 2020
December 2019
November 2019
dst.