-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://www.antaranews.com/berita/1279745/orang-rimba-tolak-eksploitasi-melalui-melawan-setan-bermata-runcing


Orang Rimba tolak eksploitasi melalui "Melawan Setan Bermata Runcing"

Selasa, 4 Februari 2020 23:51 WIB

Penulis buku "Melawan Setan Bermata Runcing" Butet Manurung memberikan 
pemaparan pada bedah buku karyanya di Sleman, Selasa (4/2/2020) malam. 
ANTARA/Victorianus Sat Pranyoto
Lalu kemudian jika sepatu tersebut rusak, siapa yang akan memberi sepatu lagi
Sleman (ANTARA) - Orang Rimba atau masyarakat adat yang tinggal dan 
menggantungkan hidupnya dari hutan Bukit Duabelas, Jambi menolak eksploitasi 
kekayaan hutan alam mereka melalui buku "Melawan Setan Mata Runcing".

"'Setan bermata runcing' adalah istilah Orang Rimba untuk menyebut pensil atau 
pena," kata Butet Manurung, penulis buku "Melawan Setan Bermata Runcung", dalam 
acara bedah buku di Sleman, Yogyakarta, Selasa malam.

Ia mengatakan saat pertama kali melakukan pendampingan terhadap anak-anak Orang 
Rimba, ada ketakutan dari anak-anak ketika relawan mengeluarkan pena atau 
pensil.

"Mereka kabur melarikan diri dan berkata masukkan 'setan runcing' dalam tas," 
katanya.

Ia mengatakan ketakutan anak rimba itu karena mereka memiliki anggapan bahwa 
orang-orang dari luar memanfaatkan kemampuan membaca dan menulis untuk 
menguasai hutan mereka.

"Mereka hanya mau belajar baca dan tulis dengan menggunakan arang," katanya..

Kisah perlawanan Orang Rimba itu mendorong Sokola Institute menuliskannya dalam 
buku berjudul "Melawan Setan Bermata Runcing".

Baca juga: Sinergitas multipihak dalam penguatan pemberdayaan orang rimba

Butet Manurung yang juga Direktur Sokola Institute itu, mengatakan pertama kali 
memperkenalkan baca-tulis kepada mereka pada 1999.

"Ada pertanyaan dari anak-anak ini, yakni setelah kami bisa baca tulis, apakah 
kami bisa mengusir pembalak yang mengambil pohon-pohon di hutan kami?" katanya.

Ia mengatakan adanya semacam pemahaman bahwa sekolah mengajarkan ilmu pergi, 
meninggalkan kampung halaman.

"Sehingga untuk mengajak mereka belajar, model pembelajaran yang digunakan 
banyak diskusi, kekaguman terhadap mereka, mengenal kebiasaan mereka, 
kepandaian mereka di alam dan peralatan yang mereka gunakan dalam kehidupan 
sehari-hari, ada panah, tombak, dan lainnya," katanya.

Menurut dia, baca tulis dan hitung saja tidak cukup bagi Orang Rimba untuk 
menjaga hutan adat dan kelangsungan hidup mereka.

"Buku ini merupakan kumpulan pengalaman Sokola dalam mengembangkan program 
pendidikan sebagai upaya untuk membantu masyarakat adat menghadapi persoalan 
sembari tetap mempertahankan adat," katanya.

Butet mengatakan hidup bersama dalam masyarakat adat dan beradaptasi dengan 
budaya setempat, serta murid-murid yang kritis, justru menjadi sekolah bagi 
para relawan Sokola hingga akhirnya membentuk metode dan pendekatan pendidikan 
yang ramah budaya, dan dapat merespons persoalan kontekstual.

Baca juga: Maudy Koesnaedy tampilkan pentas kehidupan dan budaya Orang Rimba

Dalam bedah buku tersebut juga hadir para penulis lainnya, yakni Aditya Dipta 
Anindita, Dodi Rokhdian, Fadilla M. Apristawijaya, Fawaz Al Batawy, dan Saleh 
Abdulah.

Aditya Dipta Anindita mengatakan dalam pendampingan pendidikan anak-anak Orang 
Rimba, relawan harus "life in", membumi, dan membuka dialog dengan komunitas.

"Sehingga program yang dilakukan hasil dari dialog yang dilakukan dengan 
komunitas, dengan demikian akan tahu apa yang paling mereka butuhkan," katanya.

Menurut dia, tidak semua bantuan yang diberikan, termasuk dari pemerintah, 
benar-benar mereka butuhkan untuk kehidupannya.

Salah satu contoh adalah pernah ada bantuan untuk suku dalam bagian luar berupa 
semacam mainan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), berupa semacam wahana 
memanjat tali atau sejenisnya.

"Anak-anak di sana tidak butuh itu, mereka sudah mahir memanjat. Bahkan, sampai 
memanjat dan bergelantungan di pohon yang sangat tinggi," katanya.

Selain itu, bantuan berupa sepatu, yang juga tidak mereka dibutuhkan karena 
justru akan melemahkan kaki-kaki mereka saat harus beradaptasi dengan kondisi 
hutan belantara yang masih alami.

"Lalu kemudian jika sepatu tersebut rusak, siapa yang akan memberi sepatu 
lagi," katanya.

Baca juga: Radio FM Komunitas Orang Rimba sarana informatif di hutan
Baca juga: Memberi rumah kepada Orang Rimba belum tentu solusi
 

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke