-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1921-melawan-fobia-korona


Melawan Fobia Korona

Penulis: Media Indonesia Pada: Rabu 05 Februari 2020, 05:05 WIB Editorial MI
 

WABAH virus korona tipe baru (2019-novel coronavirus/nCoV) telah menguji banyak 
sisi kehidupan. Bukan hanya soal kecanggihan teknologi medis, melainkan juga 
kemanusiaan kita.

Jumlah korban tewas yang mencapai 425 orang dari 20.696 kasus terinfeksi memang 
membuat virus itu bagai malaikat pencabut nyawa. Semakin bertambahnya negara 
yang terjangkiti, hingga kini sudah 28 negara mengonfirmasi adanya kasus, juga 
membuat ketakutan kian jadi.

Dalam berbagai kondisi, kita telah melihat bahwa ketakutan berlebihan atau 
fobia bisa menciptakan petaka lain. Dengan tumpulnya akal dan nurani, alih-alih 
menyelesaikan masalah utama, bangsa ini bisa tertimpa konflik lain yang tidak 
kalah pelik.

Inilah yang telah menjadi pelajaran awal kita dari reaksi keras warga lokal 
atas penempatan karantina 238 saudara sebangsa di Natuna. Minimnya sosialisasi, 
ditambah derasnya hoaks terkait dengan wabah korona, membuat kerusuhan hampir 
pecah di kabupaten yang selama ini dikenal damai itu.

Kita patut bersyukur bahwa reaksi keras warga lokal itu kini sudah dapat 
diredakan. Namun, itulah alarm bagi kita bersama. Fobia seperti itu bukan tidak 
mungkin terjadi di wilayah lain di Tanah Air.

Tentu sekali lagi, kita juga tidak dapat menutup mata akan minimnya sosialisasi 
pemerintah pusat, bahkan kepada pemerintah daerah sendiri. Ini merupakan 
kesalahan besar yang tidak boleh terulang.

Karena itu, sosialisasi segala hal tentang korona haruslah dilakukan merata di 
seluruh negeri. Ini tak hanya terhadap kota-kota yang menjadi rujukan karantina 
ataupun lokasi rumah sakit penanganan wabah, tetapi juga karena jalan masuk 
virus itu yang memang sangat luasnya.

Tidak hanya itu, edukasi intens juga harus dilakukan di daerah-daerah yang 
menjadi asal ke-238 WNI yang sedang dikarantina tersebut. Pemerintah harus 
bermitra dengan aparat setempat dan juga tokoh daerah untuk memastikan kesiapan 
warga sekitar.

Masyarakat harus benar-benar mengerti bahwa setiap orang yang telah dinyatakan 
lulus karantina berarti bersih dari virus korona. Mereka selayaknya warga lain 
yang memiliki hak untuk beraktivitas normal. Jangan jauhi mereka.

Justru sudah sepantasnya pula nurani kita terpanggil untuk ikut membantu mereka 
menjalani transisi kehidupan yang tidak direncanakan tersebut.

Sebagaimana diketahui, hampir seluruh WNI tersebut merupakan mahasiswa yang 
tengah menimba ilmu di Wuhan, Tiongkok. Lumpuhnya Kota Wuhan berarti ikut 
membuat kelanjutan studi dan masa depan mereka terkatung-katung. Maka, 
sesungguhnya bukan hanya dukungan moral dari orang terdekat, para mahasiswa 
juga membutuhkan bantuan jembatan studi dari sivitas akademi di dalam negeri.

Lebih jauh lagi, sepatutnyalah kita menolak untuk fobia terhadap korona. Bukan 
hanya soal interaksi sosial, ketakutan berlebih sesungguhnya telah membuat kita 
jadi santapan para pencari untung. Contoh mudahnya ialah harga masker N95 yang 
kini meroket hingga Rp3 juta.

Harga menjulang ini sudah tidak dapat dimaklumi apa pun alasannya. Terlebih, 
kita sesungguhnya dapat sigap membaca bahwa mafia dan para spekulan bukan hanya 
ada di komoditas pangan, melainkan juga di setiap komoditas yang tengah 
dibutuhkan, termasuk medis dan kesehatan.

Oleh sebab itu, aparat semetinya juga bertindak cepat untuk menindak para 
spekulan berkedok penjual itu. Lalu yang terpenting, sudah saatnya masyarakat 
kita benar-benar menjadi warga cerdas.
 





Kirim email ke