-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1742-hoaks-atas-nama-tuhan


Rabu 05 Februari 2020, 05:10 WIB

Hoaks Atas Nama Tuhan

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | podium
 
Hoaks Atas Nama Tuhan

MI/Ebet
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group

'DALAM setiap bencana kita membutuhkan orang yang disalahkan selain Tuhan' 
tulis jurnalis Eric Weiner dalam buku The Geography of Bliss.

Eric benar. Meski orang beragama percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta, 
termasuk bencana, terjadi atas kehendak-Nya, mana berani kita menyalahkan 
Tuhan. Bisa didemo bertubi-tubi oleh para pembela Tuhan, meski, kata Gus Dur, 
kok repot-repot membela Tuhan.

Virus korona yang hingga kemarin menewaskan 400 orang lebih itu termasuk 
bencana. Dalam istilah Presiden Jokowi, virus korona bencana nonalam. Virus 
korona boleh disebut bencana kesehatan.

Dalam bencana virus korona yang berjangkit di Wuhan, Tiongkok, kita pun 
membutuhkan orang untuk disalahkan selain Tuhan. Orang untuk disalahkan selain 
Tuhan dalam pandemi virus Korona ialah orang Tiongkok.

Seseorang berkomentar di media sosial bahwa virus korona merupakan hukuman dari 
langit buat orang-orang Tiongkok atas kesalahan pemerintah Tiongkok 
memperlakukan muslim Uighur. Yang mengatakan ini jelas menggunakan ilmu 
langitan atau ilmu hukum karma.

Istri seorang penyanyi lagu-lagu religi mengunggah soal korona di akun 
Instagram-nya. Dalam unggahannya ia menarik garis merah pada sejumlah kata, 
yakni qorona, khalaqo, zamana, dan kadzaba dari buku Iqra. Bila diartikan, 
keempat kata itu secara berturut-turut bermakna 'korona tercipta pada zaman 
penuh dusta'. Dia menambahi unggahannya dengan komentar yang maknanya kira-kira 
'korona merupakan hukuman Tuhan'.

Iqra bukan Alquran, melainkan buku pelajaran membaca Alquran. Iqra serupa buku 
pelajaran membaca bahasa Indonesia yang saya pelajari di kelas satu SD dulu 
yang di dalamnya ada kalimat 'ini Budi', 'ini ibu Budi', 'ini bapak Budi'. Sang 
istri penyanyi lagu-lagu religi itu rupanya menggunakan ilmu 'pokoknya cocok' 
alias 'cocokologi'.

Orang-orang Tiongkok pun mati bergelimpangan karena terjangkit virus korona 
yang diturunkan Tuhan, seperti dalam foto yang diunggah di media sosial oleh 
seorang yang katanya pendakwah. Belakangan terungkap itu bukan foto korban 
virus korona, melainkan aksi teatrikal untuk mengenang 528 korban pembantaian 
Nazi di Jerman.

Tiga unggahan di media sosial itu gampangnya disebut hoaks atau 
sekurang-kurangnya disinformasi. Kementerian Komunikasi dan Informatika hingga 
Senin, 3 Februari 2020, menemukan 54 hoaks yang tersebar melalui media sosial.

Hoaks atau disinformasi ialah informasi sesat. Celakanya, serupa di ketiga 
unggahan tadi, Tuhan terbawa-bawa dalam sebagian informasi sesat itu. Mereka, 
para pengunggah itu, membawa-bawa Tuhan, mengatasnamakan Tuhan, dalam informasi 
sesat yang mereka sebarkan itu. Bayangkan, mereka takut menyalahkan Tuhan, 
tetapi nekat membawa-bawa Tuhan dalam informasi sesat tentang bencana virus 
korona. Lalu, siapakah yang lebih pantas disebut penista?

Menyalahkan orang Tiongkok sembari membawa-bawa Tuhan serupa menyoraki, 
mensyukuri, penderitaan dan kesengsaraan orang lain. Orang-orang Tiongkok atau 
siapa pun yang terjangkit virus korona sesungguhnya korban bencana. Mereka yang 
menyalahkan korban serupa menghakimi korban sebagai pelaku.

Di mana letak rasa kemanusiaan mereka? Di mana empati mereka? Tidak ada di 
mana-mana karena yang ada ialah kebencian, dan virus kebencian lebih berbahaya 
daripada virus korona. Disebut lebih berbahaya karena, bila virus korona 
menyerang tubuh, virus kebencian akan menyerang akal sehat dan kewarasan kita.

Bila dikatakan virus korona diturunkan Tuhan untuk menghukum orang-orang 
Tiongkok, bolehkah kita mengatakan orang-orang penyebar hoaks dengan 
membawa-bawa nama-Nya itu diturunkan Tuhan untuk menguji kesabaran dan 
kewarasan kita?

Setoplah menyebut virus korona hukuman Tuhan karena Tuhan maha pengasih dan 
maha penyayang. Berhentilah menyebar informasi sesat, apalagi yang membawa-bawa 
Tuhan segala karena Tuhan maha mencerahkan, bukan maha menyesatkan.

 

 

 

Kirim email ke