EKONOMI <https://fnn.co.id/category/ekonomi/> OPINI
<https://fnn.co.id/category/politik/opini/>
Indonesia Pasca Jokowi, Belajar dari ’98
5 Februari 2020
<https://fnn.co.id/2020/02/05/indonesia-pasca-jokowi-belajar-dari-98/>fnn<https://fnn.co.id/author/fnn/>0
Komentar
<https://fnn.co.id/2020/02/05/indonesia-pasca-jokowi-belajar-dari-98/#respond>
https://fnn.co.id/2020/02/05/indonesia-pasca-jokowi-belajar-dari-98/
Oleh Edy Mulyadi
*Jakarta, FNN*– Ekonomi Indonesia adalah ekonomi gelembung. Ekonomi yang
dibangun dengan gelembung-gelembung persepsi,/doping,/dan artifisial.
Angka pertumbuhan yang mandeg di 5% ternyata buah dari persepsi yang
dibangun dengan/public relations/ (PR) dan perilaku tak elok dalam
berbisnis. Terungkapnya skandal mega korupsi Jiwasraya, Asabri, Garuda,
Bumiputera, dan sederet BUMN raksasa lain adalah beberapa contoh saja
dari gelembung-gelembung ekonomi.
Pada 1998 Indonesia diterjang krisis karena masalah kredit properti yang
ugal-ugalan dan berujung dengan tumbangnya perbankan nasional. Kali ini,
kontributor utama krisis adalah amburadulnya kinerja lembaga keuangan
nonbank (LKNB) seperti asuransi,/leasing,/dan
perusahaan-perusahaan/fintech./Hal ini diperparah lagi dengan pengawasan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang superjeblok.
Skandal megakorupsi Jiwasraya yang merugikan negara Rp13 triliun dan
Asabri Rp10 triliun, cuma puncak gunung es belaka. Masih banyak skandal
lain di lingkungan BUMN yang jumlahnya ditaksir sekitar Rp150 triliun.
Mereka kini antre, bakal terkuak satu per satu.
Contoh ekonomi gelembung lain yang sering dibanggakan pemerintah adalah
satabilnya nilai tukar rupiah. Padahal, penguatan rupiah terjadi
karena/doping/yang dananya berasal dari utang. Bank Indonesia (BI) rajin
mengintervensi pasar agar rupiah tetap bergerak di bawah Rp14.000/U$S.
Padahal salah satu biang kerok terjadinya defisit transaksi berjalan
(/Current Account Deficit/CAD)/adalah neraca perdagangan
yang/njomplang./Nilai tukar rupiah yang kuat akan menyulitkan ekspor,
karena harga komoditas di pasar internasional jadi mahal. Tapi
begitulah, rezim lebih mementingkan gengsi nilai tukar rupiah macho dan
stabil ketimbang memperbaiki fundamental ekonomi.
Singkat kata, pembangunan kita dilakukan berbasis utang dan utang.
Menjaring utang bilateral maupun dari lembaga-lembaga multilateral sudah
jadi hobi Sri. Dia bahkan tidak segan-segan mengobral bunga jauh di atas
Vietnam, Thailand, dan Filipina yang/rating/mereka lebih rendah daripada
Indonesia. Begitu juga dia sibuk menerbitkan surat utang negara (SUN)
berbunga supertinggi dan menyebabkan kekeringan likuiditas.
/*Ambyar*/
Ketergantungan yang keterlaluan terhadap utang membuat jumlahnya kian
menggunung. Angkanya kini telah tembus Rp5.000 triliun. Ngeri!
Pembangunan bebasis utang juga membuat ekonomi tidak bisa lebih dari 5%
karena akan terjadi/overheating./Kalau sudah begitu, pemerintah
buru-buru menginjak pedal rem agar ekonomi tidak ‘terbakar’. Bahkan hari
ini (Rabu, 5 Februari 2020) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)
mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2019 hanya
4,97%./Ambyar/sudah angka keramat 5% yang selama ini mati-matian
pemerintah jaga.
Di sini, sekali lagi, jadi menjadi bukti betapa kemampuan para menteri
ekonomi Presiden Joko Widodo benar-benar di bawah banderol. Sudah tumbuh
karena gelembung dan artifisial, angkanya pun hanya berkutat di 5%.
Bahkan kini lebih rendah lagi pula! Status Menkeu terbaik yang disandang
Sri terbukti sekadar buah kecanggihan PR dan hadiah dari pihak-pihak
yang sangat diuntungkan dengan utang berbunga supertinggi yang
diterbitkannya.
Sejatinya dosa rezim ini bukan hanya berbohong kepada rakyat dengan
angka-angka pertumbuhan imitasi. Penguasa juga terus membebani rakyat
dengan aneka pajak. Pencabutan subsidi dan belanja sosial di APBN
mengakibatkan harga-harga yang melambung tinggi. Rakyat sudah berusaha
mati-matian menyiasati beratnya beban hidup sambil terus menabung dan
memperbanyak stok kesabaran.
Namun sudah menjadi/sunnatullah,/ban yang terus-menerus dipompa pada
akhirnya bakal meledak juga.
Begawan ekonomi Rizal Ramli menyebut, tidak diperlukan kampak atau golok
untuk meledakkan gelembung. Cuma dibutuhkan peniti. Perlu peniti-peniti
kebenaran dan fakta real agar gelembung-gelembung itu meledak.
Sampai di sini saya 100% sepakat. Yang kini dibutuhkan adalah tampilnya
orang-orang baik, lurus, berakal sehat, dan paham masalah. Mereka cuma
perlu terus berbunyi, menyuarakan kebenaran. Orang-orang baik ini harus
menyampaikan kepada publik, bahwa telah terjadi kebohongan dan
ketidakadilan yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya sendiri. Bahwa
negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Bahwa terjadi salah urus negara
di tangan para pejabat publik yang khianat. Bahwa bukan saja terjadi
bancakan, tapi penjarahan kekayaan negara oleh tangan-tangan kotor para
penjahat melalui persekongkolan yang dibalut seabreg undang undang dan
peraturan.
Sayangnya, di tengah kezaliman dan ketidakadilan merajalela seperti
sekarang, orang-orang baik dan pintar justru tiarap. Mereka diam seribu
bahasa. Mingkem. Bisu. Orang-orang baik dan lurus itu
merasa/jerih/dengan bermacam risiko yang belum-belum sudah bermain di
khayal mereka. Intimidasi, persekusi, penjara, dan kematian adalah
rangkaian ketakutan yang menari-nari dalam benak mereka.
Bahwa semua itu bakal saja terjadi, mungkin saja. Inilah yang disebut
sebagai risiko perjuangan. Kita tidak boleh jumawa dan sesumbar
menyatakan tidak takut dengan bermacam risiko. Itu sombong. Allah tidak
suka dengan orang yang sombong.
Tapi kalau kita niatkan beribadah dalam menyuarakan kebenaran dan
melawan kezaliman, maka Allah Yang Maha Perkasa tentu tidak tinggal
diam. Dia akan ikut campur tangan, sehingga bukan mustahil perjuangan
akan berujung pada kemenangan dan kemuliaan. Kalau Allah sudah menolong,
siapa yang bisa mengalahkan kita?
Tugas kita hanya terus berusaha, berdoa, dan bersabar serta istiqomah
dalam perjuangan. Kalau pun risiko-risiko seram itu benar-benar datang,
Allah pasti telah menyediakan ganjaran yang teramat besar, baik di dunia
maupun akhirat.
*Persiapkan sebaik mungkin*
Dan, pada akhirnya/sunnatullah/pun terjadi. Ketidakadilan dan kebohongan
akan membuat ban meledak. Rezim tumbang. Tapi, setelah itu apa?
Kali ini kita harus cerdas dan cermat. Berbekal pengalaman 1998, ketika
pak Harto jatuh, gerbong reformasi telah dibajak oleh para pencoleng
yang sebelumnya ada di lingkar dalam kekuasaan. Mereka berganti/casing/,
naik ke gerbong bahkan lokomotif reformasi. Orang-orang ini lalu
berteriak paling lantang tentang reformasi dan pemberantasan korupsi.
Hasilnya, kendati sudah berlalu lebih dari 20 tahun, reformasi tidak
membuahkan kesejahteraan rakyat, kecuali hanya bagi segilintir elit
culas dan laknat.
Peran sebagai pendorong gerbong reformasi pada 1998 harus dijadikan
sebagai pengalaman penting dan teramat mahal. Karenanya, para penggerak
perubahan dan pejuang kebenaran harus menyiapkan segala sesuatunya pasca
rezim tumbang. Tidak boleh lagi orang-orang baik dan berani itu hanya
sibuk berteriak di jalanan, tanpa menyiapkan segala sesuatunya untuk
menyongsong Indonesia lebih baik.
Langkah penting dan awal yang harus disiapkan adalah pemilihan presiden
ulang. Kali ini Pilpres harus benar-benar steril dari campur tangan,
apalagi dominasi partai. Pasalnya, di tangan para oportunis, partai
justru menjadi bagian dan sumber masalah. Korupsi gila-gilaan banyak
dilakukan orang partai, baik yang ada di DPR/DPRD maupun di kursi-kursi
eksekutif, bahkan yudikatif!
Buang jauh-jauh mantra/presidential threshold/(PT). PT terbukti telah
menjadi pintu gerbang masuk dan langgengnya kekuasaan oligarkis. Biarkan
semua putra terbaik bangsa mengajukan dirinya sebagai calon pemimpin.
Jangan takut kalau nanti akan muncul banyak Capres. Silakan saja. Toh
pada akhirnya rakyat yang akan menentukan siapa yang terbaik sebagai
pemimpin bangsa pada putaran kedua.
Pilpres yang steril dari hegemoni oligarki akan melahirkan pemimpin yang
mumpuni. Pemimpin yang berani, punya kapasitas, kapabililtas, dan
berintegritas. Pada akhirnya, Indonesia akan lahir sebagai negara
berdaulat, maju, dan rakyatnya sejahtera. Dan, yang lebih penting
daripada semua itu, rahmat dan berkah Allah akan melimpahi negeri.
Semoga. Aamiin. [*]
Jakarta, 5 Februari 2020
Edy Mulyadi, wartawan senior