Pendapat yang cukup menarik tentang situasi mutakhir di tanahair dari sisi 
pandang seorang pensiunan pegawai negeri. Siapa pun dia dan apa pun gelar / 
jabatan / pangkatnya tidaklah penting. Pendapat itulah yang pertama-tama harus 
dihargai, baik untuk dibantah maupun diterima tanpa harus bias dengan siapa 
yang berpendapat.
-

Beramai-ramai Membunuh Kebenaran, Agar Bersama-Sama Hidup Dalam Aib!

Tentara musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di 
desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Dia melawan, 
membunuh dan kemudian memenggal kepala tentara yang akan menodainya.

Ketika seluruh tentara sudah pergi meninggalkan desa itu, para wanita malang 
semuanya keluar dengan busana compang-camping, meraung, menangis dan meratap, 
kecuali satu orang wanita tadi.

Dia keluar dari rumahnya dengan busana rapat dan bersimbah darah sambil 
menenteng kepala tentara itu dengan tangan kirinya.

Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari 
bencana ini.?”

Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau 
mati dalam menjaga kehormatan.”

Para wanita mengaguminya, namun kemudian rasa was-was merambat dalam benak 
mereka. Bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada 
contoh wanita pemberani ini.

Mereka kawatir sang suami akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri 
seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati dari pada ternoda?”

Kekaguman pun berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bawah sadar ketakutan 
para wanita itu seperti mendapat komando.

Mereka beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. 
Ya, membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dalam aib, dalam 
kelemahan, dalam fatamorgana bersama.

Beginilah keadaan kita saat ini, orang-orang yang terlanjur rusak, mereka 
mencela, mengucilkan, menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang 
masih konsisten menegakkan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat 
berjalan baik walau sesungguhnya penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, 
ketidakberdayaan, dan menuju pada kehancuran yang nyata.

Kirim email ke