*Kalau mau dibikin ”Jawasentris” apa susah dan salahnya, tentu bisa saja,
karena ditentutukan oleh yang berkuasa, mereka didaerah hanya turut
mengembik "NKRI HARGA MATI" sesuai suara gembala mereka. Baik dari segi
kepartaian maupun pemerintahan ramai-ramai mengembik. Para petinggi dari
pusat kekuasaan, jika berkunjung ke daerah di luar Jawasentris, mereka suka
puji petinggi daerah, maka rakyat daerah pun terhipnotis dengan kata-kata
manis puja pujian it*u dan *aminlah segala perkara yang dikehendak**i oleh
pengusa maha berkuasa, maka oleh karena itu banyak dareah menjadi miskin
melalarat sekalipun dikatakan kita sudah merdeka penjajahan 3/4 abad.*


https://suaraislam.id/guru-besar-ui-khawatir-konsep-islam-nusantara-jadi-jawasentris/



*Guru Besar UI Khawatir Konsep Islam Nusantara Jadi Jawasentris*

9 Februari 2020

 1 minute read

Cetak

Bagi Via Email
Facebook

Twitter
 Simposium Nasional Islam Nusantara di Gedung PBNU, Jakarta (8/2/2020).
[foto: Times Indonesia]

*Jakarta (SI Online) –* Guru Besar Universitas Indonesia, Profesor Susanto
Zuhdi khawatir konsep Islam Nusantara yang digaungkan Nahdlatul Ulama (NU)
akan menjadi dikotomi antara umat Islam di Jawa dan luar Jawa.

“Kekhawatiran bahwa Islam Nusantara itu masih berspektif Jawasentris, itu
saya duga atau dianggap mengkhawatirkan lalu Islam menjadi dikotomi. Ini
yang saya khawatirkan. Sebab ini juga warisan kolonial ketika Jawa dan luar
Jawa dipertentangkan. Mudah-mudahan saya keliru, tapi saya melihat ini
sebagai sebuah kekhawatiran,” kata Susanto saat mengisi Simposium Nasional
“Islam Nusantara: Islam Nusantara dan Tantangan Global” di Gedung PBNU,
Jakarta, Sabtu (8/2/2020).

Susanto mengatakan, pihak-pihak yang kontra dengan konsep Islam Nusantara
kebanyakan berasal dari luar Jawa. Sementara di lain sisi, basis kekuatan
NU berada di Jawa.

Menurut Susanto, bila konsep Islam Nusantara terdapat perspektif yang
mendikotomi umat Islam di Jawa dan luar Jawa maka hal tersebut juga akan
bertolak belakang dengan tujuan negara.

“Jangan sampai Islam Nusantara masuk hanya perspektif Jawa sentris. Saya
baca yang kontra itu dari luar Jawa padahal itu juga nusantara. Kalau
begitu ada kekhawatiran kontradiksi dengan Nawacita karena kita ingin
membangun negara dari wilayah-wilayah di luar Jawa, jadi seberapa jauh
Islam Nusantara menjangkau kekhawatiran akan adanya dikotomi Jawa dan luar
Jawa,” ungkap Susanto yang juga guru besar Universitas Pertahanan (Unhan)
Indonesia itu.

Dalam kesempatan itu, ahli sejarah maritim itu juga menjelaskan tentang
kenusantaraan dalam perspektif sejarah maritim. Ia mengatakan, kata
Nusantara sejatinya merupakan perspektif Jawasentris.

Ha ini, menurut Susanto, Ini dapat dipelajari dari sejarah tentang
Kertanegara yang mengirim ekspedisi Pamalayu untuk mencegah ancaman dari
arah Utara. Selain dari itu juga sejarah tentang sumpah Palapa di mana
Gadjah Mada bersumpah untuk menyatukan wilayah-wilayah dalam satu kekuasaan..

Karenanya, menurut Susanto, kata Nusantara bukan saja berkuasa di darat
namun juga menguasai bahari. Sebab itu pula konsep Islam Nusantara
semestinya juga berbicara tentang penegakan keadilan dan kedaulatan maritim..

Menanggapi kekhawatiran ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan, *hubbul wathon* atau cinta tanah air
yang menjadi bagian dari konsep Islam Nusantara bisa menepis kekhawatiran
tentang konsep Islam Nusantara menjadi Jawasentris.

“Kalau ada orang luar Jawa yang khawatir kalau Islam Nusantara menjadi
Jawasentris itu bisa kita tepis dengan *hubbul wathon, wathoniyah,
qaumiyah,* nasional. Jadi bukan Jawasentris, kita ini *hubbul wathon*. Jadi
yang tadinya *hubbul wathon* terminologinya itu manifesto budaya kemudian
kita kembangkan menjadi manifesto politik. Tidak benar kalau khawatir itu
akan menjadi Jawasentris. Karena *wathoniyah*-nya yang kita kedepankan,”
kata Said.

Namun demikian, Said mengaku sepakat dengan pendapat Susanto bahwa NU perlu
juga memasukkan upaya untuk penegakan keadilan dan menjaga kedaulatan
bahari dalam konsep Islam Nusantara.

“Menarik sekali jadi faktor bahari nanti yang perlu kita masukkan dalam
konsep Islam Nusantara,” kata dia.

red: farah abdillah

Kirim email ke