-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1747-lobster


Selasa 11 Februari 2020, 05:10 WIB

Lobster

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group | podium
 
Lobster

MI/Ebet
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group

SAAT menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Banjarmasin, Kalimantan 
Selatan, Presiden Joko Widodo mengharapkan peran pers untuk terus mengawal 
perjalanan bangsa mencapai Indonesia Maju. Banyak hal yang akan dilakukan 
pemerintah, seperti pembangunan ibu kota baru negara.

Untuk pertama kalinya Presiden tidak hanya menjelaskan dalam bentuk verbal, 
tetapi juga visual. Bayangan ibu kota negara yang baru nanti tidak lagi 
merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi menjadi sesuatu yang mudah dipahami 
seluruh rakyat.

Kita selalu diingatkan, cara berpikir manusia itu basisnya memang visual. 
Visual thinking membuat kita bisa kemudian belajar menyinkronkan apa yang 
dikatakan dan apa yang dilihat. Bahkan, dengan kemampuan memori yang besar, apa 
yang kita lihat itu akan terus melekat di dalam ingatan kita.

Menurut Presiden, pemindahan ibu kota negara yang akan dilakukan bukan sekadar 
memindahkan kantor pemerintah dan pegawai negeri sipil, tetapi juga akan 
mengubah pola pikir dan pola kerja bangsa ini. Kita harus bertransformasi 
termasuk dalam bidang ekonomi yang tak lagi sekadar ekstraktif, tetapi juga 
memberi nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki.

Program hilirisasi dan industrialisasi yang dicanangkan pemerintah merupakan 
salah satu upaya transformasi ekonomi. Kalau meminjam istilah mantan Wakil 
Presiden Jusuf Kalla, kita harus mengubah orientasi dari resources follow 
industry menjadi industry follow resources. Kita harus paksa 
perusahaan-perusahaan besar dunia untuk mengolah sumber daya alam di Indonesia 
agar bangsa ini ikut serta dalam prosesnya dan menikmati juga nilai tambah yang 
dihasilkan.

Selalu pertanyaannya, apakah kita konsisten menerapkan kebijakan itu? Di 
sinilah kita sering merasa ragu. Kita sering tidak satu bahasa untuk membangun 
industri berbasis sumber daya alam itu. Seakan-akan yang namanya sumber daya 
alam itu hanya energi dan mineral.

Padahal, sumber daya alam yang jauh lebih luar biasa nilainya ialah plasma 
nuftah. Bahkan, dengan dua pertiga wilayah negara kita ialah laut, kekayaan 
alam yang luar biasa ialah makhluk hidup yang ada di laut. Kalau kita bisa 
mengolahnya secara benar, akan memberikan manfaat luar biasa bagi kehidupan 
rakyat.

Sekarang kita mendengar kabar, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membuka 
lagi ekspor benih lobster. Alasannya, jumlah benih lobster banyak sekali. 
Daripada dibiarkan mati karena seleksi alam lebih baik diekspor secara 
terkendali agar bisa memberikan devisa.

Cara berpikir seperti itu sama dengan apa yang kita lakukan untuk energi dan 
sumber daya mineral dulu. Karena produksi berlebih dan industri dalam negeri 
tidak mampu memanfaatkan, lebih baik sumber daya itu diekspor untuk mendapatkan 
devisa.

Kita lihat sekarang akibat dari cara berpikir seperti itu. Bukan hanya sumber 
daya alam kita terkuras, nilai tambahnya juga dinikmati bangsa lain. Presiden 
ketiga BJ Habibie menyebutnya sebagai  neokolonialisme model baru akibat 
kebodohan kita.

Kita melakukan kesalahan yang sama apabila plasma nuftah sekadar dijadikan 
sumber devisa negara. Kalau memang kita belum mampu membudidayakannya, kita 
ajari bangsa ini untuk bisa membudidayakan lobster secara benar. Kalau perlu, 
kita undang investor luar untuk membudidayakan lobster di Indonesia.

Jangan terlalu mudah mengambil alasan bangsa Indonesia tidak mampu. Kita justru 
harus memacu bangsa ini untuk tidak kalah dari bangsa lain. Apalagi kalau 
sampai kalah dari bangsa Vietnam, yang baru pada 1975 selesai menghadapi perang 
dan mulai membangun bangsanya.

Memang, tidak mudah untuk membangun etos kerja. Akan tetapi, itulah yang harus 
dilakukan bangsa ini. Jangan biarkan kita terus menjadi bangsa yang lembek. 
Kita harus membangun disiplin yang kuat dan etos kerja yang tinggi agar bisa 
menghasilkan produk yang membanggakan. Bahkan, dari produk itu kita harus mampu 
mereproduksinya agar bernilai tambah lebih tinggi lagi.

Kita selalu diingatkan bahwa kekuatan yang kita miliki ada di bidang energi dan 
sumber daya mineral serta pertanian dalam arti luas. Itulah yang harus kita 
jadikan pilar pembangunan industri agar memiliki daya saing yang kuat.

Sungguh ironis kalau sekarang ini kita harus mengimpor energi dan bahan jadi 
mineral dari luar negeri karena kita tidak pernah mau mengolahnya. Kita akan 
semakin sedih kalau suatu saat lobster pun harus kita impor karena benihnya 
tidak mampu kita budidayakan dan kemudian kita ramai-ramai mengekspornya ke 
luar.
 






Kirim email ke