Keteguhan yang patut diteladani....Sama-sama penyintas 1965, tapi pandangan 
dunia dan pandangan hidup bisa bertolak belakang...Ada yang setia dan teguh 
dalam keberpihakannya, tapi ada juga yang membelakangi dan mengkhianati rakyat 
jelata dan menjadi penjilat para penguasa...



Keteguhan Tiga Zaman Putu Oka Sukanta






Kelebihan Putu Oka Sukanta, yang harus secara jujur disebutkan, adalah 
konsistensinya dalam menulis, konsistensinya dalam hal keberpihakan pada kaum 
tertindas, konsistensinya dalam melawan penindasan itu, serta cakupan bentuk 
karya sastra dari puisi, prosa, cerpen sampai dengan novel.


Oleh Panitia Peringatan “80 Tahun Putu Oka Sukanta”,saya diminta membahas 
kandungan politik dalam kumpulan cerpen Debur Zaman dan kumpulan puisi Taksu 
Puisi. Kedua buku tesebut dikarya dan dikreasi sejak tahun 1958 hingga 2018. 
Ya, 60 tahun! Rentang waktu yang mencakup “tiga zaman”landschap politik 
nasional: Demokrasi Terpimpin, Orde Baru, dan Reformasi. Di forum ini saya 
duduk bersama dua pembicara lainnya yaitu Sejarawan Bonnie Triyana yang diminta 
mengupas dimensi sejarah, dan aktivis-intelektual Okky Tirto yang mengupas dari 
sudut pandang kajian budaya. 

Tulisan ini semestinya merupakan materi yang saya sampaikan dalam kegiatan 
bedah buku di atas. Sayang sekali,saya tidak sanggup merampungkannya tepat 
waktu, dan baru diselesaikan beberapa hari kemudian. Dengan demikian tulisan 
ini telah mengalami koreksi dan penambahan dibandingkan isian yang telah saya 
ungkapkan secara lisan di Goethe-Haus (30/10) lalu.

*

Pembahasan kandungan politik ini pertama sekali mendorong saya untuk kembali 
pada pertanyaan mendasar: adakah karya sastra yang tidak mengandung politik? 
Atau, apabila karya sastra itu merefleksikan kesadaran serta pandangan manusia 
pencipta dan pembacanya, maka:  adakah manusia yang sungguh netral dalam 
kehidupan sosial politik?

Tanpa membuang lebih lama waktu pembaca, saya mengambil sikap untuk bersepakat 
dengan kalangan yang mengatakan bahwa tidak ada sastra yang bebas dari politik 
sebagaimana tidak ada manusia yang sungguh netral dalam kehidupan sosial 
ekonomi dan sosial politik yang berisikan kontradiksi. Setiap sikap punya 
konsekuensi terhadap keadaan dunia yang bergerak, termasuk pilihan untuk diam. 
Karena “yang diam adalah gerak itu dalam sembunyi” (kutipan dari puisi diam, 
Putu Oka Sukanta). Ini pijakan saya dalam membahas karya Putu Oka Sukanta.

Di atas pijakan itu diperlukan selangkah pertanyaan yang lebih maju.  Saya 
batasi pada dua persoalan, yiatu: apa kandungan politik di dalam karya-karya 
Putu Oka Sukanta? Apakah dalam rentang waktu 60 tahun tersebut karya PutuOka 
mengalami perubahan atau pergeseran sikap politiknya?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya memulai dari cerpen Aku Kangen 
Matari,yang berisikan suara pemberontakan seorang lelalki tua (berusia 112 
tahun) yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit[?] terhadap “orang-orang di 
sekitarnya” yang; tidak memahami kerinduannya pada sinar matahari, gugatannya 
dalam kenangan getir atas pembunuhan para petani di kampung halamannyapada 
suatu masa yang lampau, kesedihannya atas perubahan zaman yang menggusur rakyat 
(petani dan nelayan) dari sumber-sumber kehidupannya, serta semakin menjauhnya  
kedaulatan dan kemandirian bangsa.

Cerpen Aku Kangen Matari, dengan satu pengecualian, bisa mewakili banyak tema 
atau topik yang diangkat dalam dua buku ini: tragedi kemanusiaan 1965, 
kesenjangan sosial, diskriminasi sosial, perampasan sumber kehidupan rakyat, 
komersialisasi terhadap hak hidup (kesehatan), yang semuanya itu telah 
dilawannya selama puluhan tahun.

Satu pengecualiaan yang saya maksud di atas adalah tema politik perempuan yang 
hadir secara kuat di karya-karya lain tapi tidak cukup terangkat di cerpen ini. 
Dalam buku kumpulan cerpen Debur Zaman, setidaknya dijumpai lima karya yang 
menceritakan perjuangan perempuan (Mata, Luh Galuh, Meme Mokoh, Menanti, Bibi 
Kerti) masing-masing tokoh berjuang dalam situasi yang berbeda. Sementara dalam 
Taksu Puisi tema ini setidaknya hadir benderang di delapan puisi (“jayaprana 
dan layonsari”,  “Potret Seorang Bunda”, “Marsinah”, “balada tiga perempuan 
diperkosa”, “dua perempuan”, “epik mama-mama”, dan “perempuan itu bernama 
Aceh”).

Sikap politik Putu Oka dalam persoalan perempuan terwakili melalui tokoh-tokoh 
(khususnya perempuan) yang menginspirasi karena kekuatan, keuletan, keberanian, 
daya kreasi yang digunakan untuk menopang kehidupan diri sendiri dan 
orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah perempuan-perempuan yang produktif 
secara ekonomi dan memiliki kebajikan dalam kesadarannya.

Di antara mereka, yang paling menarik bagi saya adalah sosok Meme Mokoh (Ibu 
Gemuk, nama panggil dari Ni Ketut Sringanis oleh anak-anaknya), perempuan agung 
yang telah menjadi mata air inspirasi bagi Putu Oka bagi sejumlah karya. 
Perempuan ini muncul secara eksklusif dalam satu cerpen dan satu puisi Putu Oka 
di kedua buku ini, dan juga muncul sekilas dalam beberapa karya lain.

Pada satu bagian dari cerpen berjudul Meme Mokoh, ia (Ni Ketut Sringanis) 
dihadapkan pada pilihan satu dari dua calon menantu perempuan; apakah yang 
sekampung dengannya atau yang dari kampung seberang bukit.Meme Mokoh mendatangi 
seorang “pemangku” bernama Jero Mangku, untuk meminta petunjuk dengan membawa 
banten atau sesajian. Setelah mendapat petunjuk, Meme Mokoh membuat pembaca 
terperangah dengan pilihannya; bukan calon menantu yang ‘patuh’ sebagaimana 
disarankan Jero Mangku, ia malah memilih perempuan yang—dalam penglihatan 
supranatural Jero Mangku—adalah “…seorang gadis yang berani berjalan sendirian 
di waktu gelap tanpa obor dan tidak menghiraukan panggilan orang tuanya.”Ia 
jatuhkan pilihan pada seorang gadis yang melakukan hal-hal yang “…tidak baik 
buat perempuan”ketimbang gadis di kampung sendiri, seorang anak pemilik warung 
yang “patuh”.  Putu Oka seperti sengaja tidak menjelaskan alasan pilihan yang 
tidak lazim itu dan membiarkan pembaca merenungkan sendiri alasannya.

Kembali ke cerpen Aku Kangen Matari, di sini juga dapat dijumpai satu pandangan 
Pak Putu tentang alasan ekonomi-politik yang sesungguhnya di balik pembunuhan 
massal tahun 1965 seperti dituliskan berikut:


“Tetapi justru pada saat itu, ketika tercenung di depan pura yang telah 
dijadikan fosil, muncul kesadaranku bahwa petani yang dihilangkan itu bagaikan 
sepasang telapak kaki dari  tubuh yang otaknya mencanangkan kemandirian, 
berdiri di atas kaki sendiri. Telapak kakinya telah dimusnahkan, sehingga tubuh 
itu jatuh tersuruk tak mampu lagi berdiri. Mereka telah dijadikan tumbal bagi 
serbuan air bah komoditas dunia agar leluasa membuka pasarnya. Maka warga 
nusantara ini sudah dibikin puas untuk menjadi broker,  pedagang dan pembeli, 
bukan penghasil kebutuhan harkat hidupnya.” (hal. 6)


Dan menggugat persoalan ekonomi-politik ini pada bagian:


“Paru-paruku  tidak lagi menghirup udara alam yang berlimpah ruah dan murah. 
Tetapi telah digantikan dengan udara dalam tabung yang harus dibeli dari luar 
negeri. Aku sedih, bukan hanya mulut harus mengkonsumsi bahan pangan impor 
tetapi juga paru-paruku. Aku berdengus berontak, tetapi reaksiku diterjemahkan 
sebagai batuk yang harus dipadamkan.”  (hal. 7)


Perkara ekonomi-politik yang dikemukakan Putu Oka di atas saya letakkan sebagai 
batu penjuru bagi posisi politiknya. Dari batu penjuru ini kemudian muncul 
persoalan tragedi kemanusiaan berupa pembantaian massal, persekusi dan 
pemenjaraan, serta berdirinya kekuasaan militeristik Orde Baru. Dari batu 
penjuru ini juga muncul persoalan kesenjangan sosial, petani dan nelayan yang 
tergusur dari mata pencariannya, dan buruh yang terus dieksploitasi dalam 
sistem kapitalisme. Dengan memahami ekonomi politik ini maka kita dapat 
memahami mengapa Pak Putu menempatkan manusia yang bermartabat (laki ataupun 
perempuan) adalah manusia yang berproduksi untuk kehidupannya sendiri dan 
sesama.

Secara ideologi-politik, pemikiran Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) ini 
dicetuskan oleh Bung Karno pertama kali dalam pidato Penemuan Kembali Revolusi 
Kita (1959) yang kemudian menjadi Manifesto Politik atau Garis-garis Besar 
Haluan Negara (GBHN) pertama Republik Indonesia. Pemikiran berdikari di 
lapangan ekonomi ini ada dalam satu ikatan dengan “politik yang berdaulat” 
serta “berkepribadian dalam budaya”, yang dikenal sebagai Tri Sakti. Posisi 
demikian juga diketahui sebagai sikap politik “anti-imperialisme”, sekaligus 
memproyeksikan sebuah bentuk “demokrasi nasional” yang terbebas dari sisa-sisa 
struktur perekonomian kolonial dan feodal.

Tak dapat ditampik, sikap anti-feodalisme juga ditunjukkan oleh Putu Oka 
Sukanta dalam karya-karyanya. Sikap ini gamblang ditunjukkan dalam puisi 
“jayaprana dan layonsari(sebuah tragedi percintaan di bumi bali)”, tentang 
percintaan seorang hamba yang menjadi ksatria (Jayaprana) dengan seorang puteri 
dari lingkaran istana (Layonsari). Percintaan mereka ditelikung oleh raja 
melalui tipu muslihat yang mencelakai Jayaprana. Di sini tanpa ampun Pak Putu 
menghantam raja sebagai simbol feodalisme dengan menulis:


raja adalah sarang napsu-napsu

atau induk dari segala kebusukan

raja adalah bahaya perempuan

raja menyulap perempuan jadi sekehendaknya

diisap sekali dibuang atau dipelihara

…… karena raja sarang kebusukan

kebusukanlah meluap dari dadanya


Putu Oka Sukanta tidak memandang perkara perikemanusiaan dari sudut hak-hak 
sipil politik belaka, sebagaimana konsep Hak Asasi Manusia (HAM) dipahami oleh 
banyak orang. Ia menempatkan persoalan perikemanusiaan dalam kaitan erat dengan 
persoalan ekonomi-politik. Dengan demikian sikap politik Pak Putu mengemuka 
sebagai sikap politik khas seorang Marxis yang melihat fondasi hubungan antar 
manusia sebagai hubungan ekonomi politik, yang sejajar dengan penghargaan 
terhadap perikemanusiaan sebagai suatu capaian peradaban.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ada pergeseran atau perubahan sikap 
politikPak Putu dalam rentang waktu 60 tahun itu bila diteropong dari kedua 
buku ini? Tema dan keberpihakan Putu Oka dalam karya-karyanya tidak pernah 
berubah. Petani, buruh, perempuan, perlawanan terhadap militerisme, 
kesewenang-wenangan penguasa, sampai kaum tertindas di negeri seberang seperti 
suku Aborigin, kaum tani tak berkasta dan tak bertanah di Bangladesh, serta 
perjuangan bangsa Timor Lorosae.

Guncangan besar dalam peristiwa politik tahun 1965, serta pengalaman tiap-tiap 
individu yang menjadi korban atau penyintas dalam kurun waktu setelahnya, telah 
mengubah sikap politik ataupun kepribadian banyak orang. Tapi Putu Oka justru 
menuliskan setiap peristiwa yang dialami dan didalaminya melalui proses 
internalisasi yang semakin meneguhkan sikap politik anti-penindasannya.

Puisi “diberi aku” yang ditulis tahun 1977, saat bau penjara orde baru dan amis 
darah siksa sepatu lars seperti masih lekat di penciumannya, seolah menjadi 
monumen kebangkitannya kembali setelah dipaksa mendekam dalam siksa tahanan 
selama sepuluh tahun tanpa pengadilan. Coba perhatikan bagaimana diri “aku” 
berproses untuk mencapai keteguhan ini:


diberinya aku 

diberinya aku segumpal keberanian

mencair di pembuluh darah

diberinya aku seberkas cahaya

memancar di dalam mata

diberinya aku segelas empedu

membalur kilah setiap langkah

diberinya aku sebongkah batu

kuremuk jadi dasar jalanan

diberinya aku cemeti menguatkan otot pangkal lidah

apa lagi yang engkau akan berikan

buat menating harga diri? 


Lalu ia perjelas dalam cerpen Sunyi yang dikreasi antara tahun 1998-2004:


“Sejak hari itu aku menjelma menjadi tahanan yang tak terjerakan oleh lecut, 
injak, tendang dan segala macam bentuk dera.” 


Putu Oka Sukanta telah berkarya dalam kurun lebih dari enam dekade dengan 
cakupan bentuk sastra dan konsistensi yang sulit dicari padanannya. Tema 
tragedi kemanusiaan 1965 mungkin telah banyak diangkat oleh sastrawan-sastrawan 
Indonesia. Tapi sangat sedikit yang diangkat langsung oleh penyintasnya, 
seperti Pramoedya Ananta Toer lewat “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” atau Martin 
Aleida lewat cerpen-cerpennya yang memikat. Kelebihan Putu Oka Sukanta, yang 
harus secara jujur disebutkan, adalah konsistensinya dalam menulis, 
konsistensinya dalam hal keberpihakan pada kaum tertindas, konsistensinya dalam 
melawan penindasan itu, serta cakupan bentuk karya sastradari puisi, prosa, 
cerpen sampai dengan novel.

Lantas, apa yang berubah dari 60 tahun karya Putu Oka Sukanta? Pertama, nada 
dari karya-karya Pak Putu pasca peristiwa ’65 lebih reflektif dibandingkan 
sebelumnya. Dua puisi yang bertemakan buruh masing-masing “dia…buruh”(tahun 
1961) dan “buruh buruh” (tahun 2017) dapat mewakili perbandingan ini secara 
lebih jelas. Di tahun 1961 nyanyian revolusi berkumandang, di tahun 2017harapan 
perubahan nasibtetap ada tapi seperti menggantung pada sesuatu yang entah. 
Kedua, perubahan geopolitik dunia pasca keruntuhan Blok Timur telah memangkas 
pakem-pakem lama tentang “perjuangan kelas”dengan abstraksi suatu masyarakat 
baru (sosialisme[?]) dan menggantikannya dengan realisme kritis yang berisikan 
kritik sosial terhadap kapitalisme tanpa proyeksi yang muluk-muluk akan suatu 
sistem masyarakat baru namun tetap dengan keyakinan akan suatu bentuk hubungan 
antar manusia yang lebih baik di masa yang akan datang.
DOMINGGUS OKTAVIANUS, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD)





Kirim email ke