https://suaraislam.id/yudian-wahyudi-profesor-rektor-kepala-bpip-ujung-ujungnya-ngahok/



*Yudian Wahyudi: Profesor, Rektor, Kepala BPIP, Ujung-ujungnya ‘Ngahok’*

14 Februari 2020



 Yudian Wahyudi dilantik sebagai Kepala BPIP, Rabu (5/2/2020)

Dipilih sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian
Wahyudi tentu saja bukan orang sembarangan.

Gelar akademiknya berderet. Nama dan gelarnya ditulis lengkap Prof. Drs.
K.H Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D di situs resmi UIN Sunan Kalijaga,
Yogyakarta. Doktornya dari McGill University, Kanada, jurusan *Islamic
Studies*. Pernah juga belajar di Harvard Law School.

Pria kelahiran Balikpapan, 17 April 1960 ini juga lulusan Pondok Pesantren
Tremas, Pacitan dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Yudian adalah seorang akademisi yang produktif. Menurut *Wikipedia,* ia
disebut telah menerjemahkan 40 buku bahasa Arab, 13 bahasa Inggris, dan dua
buku berbahasa Prancis ke bahasa Indonesia. Belum termasuk artikel-artikel
ilmiah.

Karena itu Yudian dengan ‘pede’nya pernah menantang Menristekdikti M Nasir.
“(Apabila) jurnal saya dalam bidang masing-masing dengan Pak M Nasir itu
kalah duluan tahunnya, dan jurnalnya kalah wibawa, dan hasilnya kalah
pengaruhnya, saya turun dari rektor,” kata Yudian menggebu-gebu saat
berpidato di depan wisudawan UIN Sunan Kalijaga, Rabu (7/8/2019) lalu.

Diangkat sebagai Kepala BPIP oleh Presiden Jokowi, ia diminta untuk
membumikan Pancasila khususnya kepada generasi muda. Targetnya 129 juta
anak muda Indonesia di bawah usia 39 tahun.

Karena *saking* cerdasnya, tepat sepekan usai dilantik, ia langsung ingin
membumikan Pancasila bukan hanya kepada 129 juta generasi muda, tetapi ke
seluruh rakyat Indonesia yang jumlahnya 260 juta lebih.

Dengan mengatakan, “agama musuh terbesar Pancasila”, Yudian berarti
menyeret seluruh rakyat Indonesia untuk turut terlibat dalam perbincangan
ini

Yudian, yang jadwal pensiunnya sebagai PNS jatuh pada 1 Mei 2030 mendatang,
adalah seorang Guru Besar atau Profesor di Fakultas Syariah dan Hukum UIN
Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pangkatnya Pembina Utama Madya, golongannya
IV/d. Selangkah lagi, pangkat dan golongannya bakal paling puncak, Pembina
Utama IV/e. Bagi seorang dosen, Guru Besar atau Profesor adalah jabatan
puncak.

Jabatan strukturalnya adalah Rektor. Menurut Keppres 9/1985, Rektor PTN
termasuk Pejabat Eselon 1a. Satu kelompok dengan Sekjen, Dirjen, Irjen dan
Kepala Badan di Kementerian.

Yudian menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga untuk periode 2016-2020.
Ia dilantik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kantor Kemenag, Jl
Lapangan Banteng, 12 Mei 2016 lalu. Artinya, sekitar tiga setengan bulan
Yudian bakal merangkap jabatan, sebagai Rektor sekaligus Kepala BPIP.

Dua isu kontroversial yang menarik nama Yudian adalah soal pelarangan cadar
bagi mahasiswi di kampus UIN Sunan Kalijaga dan meloloskan disertasi *milk
al yamin* karya mahasiswa tingkat doktoral, Abdul Aziz, yang oleh banyak
kalangan disebut melegalisasi zina.

Ujungnya ‘Ngahok’

Siapa sangka, dengan ‘kecerdasan’ dan berderet gelar yang dimilikinya,
ternyata setelah menjadi pejabat BPIP, Yudian ujung-ujungnya ‘Ngahok’ dan
sekuler.

Adalah situs berita *Tempo.co,
<https://nasional.tempo.co/read/1307415/kepala-bpip-dalam-berbangsa-geser-kitab-suci-ke-konstitusi#.XkZTXVBBEdc.whatsapp>*
edisi
Jumat 14 Februari 2020 yang menurunkan berita berjudul *“Kepala BPIP: Dalam
Berbangsa, Geser Kitab Suci ke Konstitusi”.* Berikut sebagian dari isi
berita itu:

*Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi mengimbau
semua umat beragama untuk menempatkan konstitusi di atas kitab suci dalam
berbangsa dan bernegara. Adapun untuk urusan beragama, kembali ke
masing-masing pribadi masyarakat.*

*“**Saya mengimbau kepada orang Islam, mulai bergeser dari kitab suci ke
konstitusi kalau dalam berbangsa dan bernegara. Sama, semua agama. Jadi
kalau bahasa hari ini, konstitusi di atas kitab suci. Itu fakta sosial
politik,” kata Yudian saat ditemui Tempo di Kantor BPIP, Jakarta, Kamis, 13
Februari 2020.*

Pandangan Yudian ini, sama persis dengan pandangan Ahok, Basuki Tjahaja
Purnama, yang dilontarkan pada 2013 lalu saat masih menjabat sebagai Wagub
DKI Jakarta.

Setahun kemudian, di acara diskusi ILC* tvONE*, mantan Ketua GP Ansor yang
saat jadi politisi Partai Golkar, juga menyebut hal yang sama. “Ayat
konstitusi di atas ayat Al-Qur’an.”

Pandangan inilah yang akhirnya ‘memanaskan’ masyarakat. Maka, pada khotbah
Jumat di Lapangan Monas, 2 Desember 2016, Imam Besar FPI Habib Rizieq
Syihab dengan lantang mengingatkan umat Islam, hukum Allah di atas
segalanya. Ayat suci di atas ayat konstitusi.

Dengan sepak terjang Yudian yang kontroversial seperti itu, nampaknya
cita-cita Wapres KH Ma’ruf Amin yang disampaikan saat kampanye Pilpres pada
2 September 2018 lalu, bahwa pada 2024 nanti tak ada lagi konflik ideologi
dan persoalan kebangsaan hanyalah ilusi belaka. Sebab Kepala BPIP-nya saja
terus menyemburkan gagasan kontroversial yang memicu perdebatan tak
berujung. *Wallahu a’lam*. [MS]
*Bagikan ini:*

Kirim email ke