Pembelaan orang-orang istana atas pernyataan bodoh Kepala BPIP sebenarnya 
membuktikan mereka melek. Tidak buta. Hanya saja cara mereka melihat dunia 
memang terbalik. 

--- roeslan12@... wrote:
       


Melek Pancasila.

Melek Pancasila!!!; Bukan  sekadar menyelenggarakan seminar nasional tentanng 
Pancasila, karena Pancasila sudah final, jadi nggak perlu lagi untuk di 
seminarkan, seperti model P4-nya orde baru, dan BPIP nya Pak Jokowi yang 
memerlukan biyaya ratusan Juta Rp. Dalam kontekas ini, yang penting adalah kita 
Bangsa Indonesia harus MELEK PANCASILA!!!. Melek Pancasila berarti kita harus 
memdidik diri kita sendiri dan orang lain untuk mempertahankan,dan memahami 
Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, memahami lima 
prinsip-prinsip Pancasila, dan menggunakan prinsip-prinsip itu untuk membentuk 
komunitas-komunitas yang berkelanjutan. Kita perlu merevitalisasi 
komunitas-komunitas kita, terutama komunitas-komunitas kaum terpeljar, 
komunitas-komunitas bisnis dan komunitas-komunitas elite politik kita, 
komunitas-komunitas lingkungan, komunitas-komunitas birokrasi dalam kekuasaan, 
sehingga prinsip-prinsip Pancasila benar-benar terwujud didalamnya sebagai 
prinsip-prinsip pendidikan, manjemen, ekonomi, lingkungan, hukum, politik, 
kebudayaan, dll. Lima prinsip-prinsip Pancasila adalah:

  

1.  Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam pidato membangun dunia kembali dimuka sidang 
umum P.B.B September 1960, Bung Karno mengatakan : Bangsa saya meliputi 
orang-orang yang menganut berbagai macam agama, ada yang Islam, ada yang 
Kristen, ada yang Buda dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun 
demikian untuk delapan puluh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat 
kami, bangsa Indonesia terdiri dari  penganut Islam. Berpangkal pada kenyataan 
ini dan mengingat akan bebeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami 
menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam filsafah 
hidup kami.Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhanpun, karena 
toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang 
Maha Kuasa merupakan karateristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila 
pertama ini (kutipan selesai)

Memahami Pancasila dari sudut pandang elokogi dalam.

Ekologi-dalam tidak memisahkan manusia atau apapun dari lingkungan alamiah. 
Benar-benar melihat  dunia sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi 
sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling bergantung 
satu sama lain secara fundamental. Ekologi-dalam mengakui nilai intrinsik 
(hakekat) semua mahluk hidup dan memandang manusia tak lebih dari satu untaian 
dalam jaringan kehidupan.(Fritjof Capra – The Web of Life)

 Menurut pengamatan saya, kesadaran ekologis yang mendalam (ekologi-dalam) 
adalah sebagai kesadaran spirituil atau religius, yang senafas dengan sila 
pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini berarti ketika konsep 
tentang  jiwa manusia dimengerti sebagai pola kesadaran dimana individu merasa 
dirinya memiliki adanya rasa keberhubungan kepada kosmos sebagai suatu sistem 
keseluruhan dalam alam semesta yang teratur atau harmonis, maka jelaslah bahwa 
kesadaran ekologis bersifat spirituil dalam esensinya yang mendalam. Yang 
secara religius disebut bahwa setiap individu manusia mempunyai keberhubungan 
dengan Tuhan Yang Maha Esa.

  

Jadi artinya; Melek Pancasila dalam konteks Ketuhanan Yang Maha Esa berati 
harus mendidik diri kita sendiri dan masyarakat Indonesia khususnya para elite 
bangsanya agar dapat memahami, menerima dan memperkuat budaya: Plurali sme, 
egaliterisme dan mutikulturalisme,  yang adalah merupakan bentuk tertinggi dari 
peradaban manusia yang sudah berada pada tingkatan kesadaran “hijau” >Green 
meme<; yang teresap masuk dan menjiwai Pancasila. 

  

Jadi Melek Pancasila berarti memdidik diri kita sendiri dan orang lain untuk 
menigkatkan kebudayaannya sampai pada tingkat ``Green- mem``,karena dalam 
kesadaran ini manusia telah kritis terhadap dirinya sendiri, sehingga dapat 
mempunyai perasaan saling hormat-menghotmati antar sesama manusia, mempunyai 
rasa kemanusiaan yang sama, mempunyai kepekaan terhadap ekologi dan jaringan 
kehidupan dalam masyarakat. Disini manusia telah meninggalkan budaya 
intolrransi, karena manusia telah terbebaskan dari segala macam dogma-dogma, 
sehinga terbentuklah komunitas-komunitas manusia yang adil dan beradap.  Diatas 
sudah dikatakan bahwa ekologi-dalam adalah sebagai kesadaran spirituil atau 
religius (Agama); Jadi melek Pancasila harus menolak paradigma Agama musuh 
besar Pancasila, yang di komandangkan oleh ketua BPIP (Badan Pembina Ideologi 
Pancasila) yang baru , yaitu Yudian Wahyudi. Jika Paradigma ini tetap 
dipertahankan, maka demi keutuhan NKRI, sebaiknya BPIP dibubarkan saja.

  

2.  Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam sila yang kedua ini terkandung 
nilai-nilai: Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak 
asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.Dalam konteks Kemanusiaan yang adil 
dan beradab, Melek Pancasila berarti, harus mendidik orang termasuk dirinya 
sendiri untuk dapat meningkatkan martabat manusia dengan segala hak asasinya 
sehingga dihormati oleh siapapun; Melek Pancasila harus mendidik orang, dan 
dirinya sendiri agar supaya besikap adil terhadap sesama manusia, melek 
pancasila harus mendidik orang  termasuk diri kita sendiri, agar supaya 
memahami secara hakiki tentang Hak Azasi Manusia, sehingga dapat mempertahankan 
dan memperkuat berlakukanya Pasal ke dua dari Pancasila. Dalam Sila kedua dari 
Pancasila ini, melek Pancasila harus  menerima dan memahami secara hakiki sila 
pertama Pancasila seperti yang sudah diuraikan diatas. Ini juga berati bahwa 
Melek Pancasila harus mendidik manusia-manusianya untuk mempertahankan budaya 
``Green meme``seperti yang sudah disebutkan dalam sila petama.Diakui atau tidak 
diakui, kesadaran bangsa Indonesia belum sampai pada tingkatan yang sedemikian 
itu. Untuk mencapai kesadaran semacam itu, maka Melek Pancasila harus berusaha 
meningkatkan budaya manusia-manusianya, dalam masyarakat kita yang jumlahnya 
sangat besar unuk memahami budaya pluralisme yang terkandung dalam jiwa dari 
Pancasila , sehingga dapat secara sadar meninggalkan dan membuang jauh-jauh 
budaya egozentris dan Ethnozentris, yang menyebabkan terjadinya budaya 
intoleran.

3.  Persatuan Indonesia- Nasionalisme. Kekuatan yang membakar dari nasionalisme 
dan hasrat akan kemerdekaan selama mempertahankan dan memberi kekuatan 
menjelang kegelapan penjajahan yang lama, dan selama berkobarnya perjuangan 
kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan membakar itu masih tetap 
menyala-nyala,meskipun sudah agak berkurang, tapi tetap memberi kekuatan hidup 
kepada bangsa Indonesia!. Namun demikian nasionalisme Indonesia bukanlah 
Chauvinisme. Bangsa Indonesia sekali-kali tidak menganggap dirinya lebih unggul 
dari bangsa-bangsa lain. Jadi Melek Pansasila dalam konteks Persatuan 
Indonesia-Nasionalisme berarti harus mendidik dan membangkitkan rasa 
nasionalisme yang sejati, dimana suatau bangsa harus menghargai dan menjaga 
hak-hak hidup bangsa, baik yang besar maupun yang kecil,yang lama maupun yang 
baru. Melek Pancasila dalam konteks ini haraus mendidik orang untuk menjadikan 
bangsanya sebagai bangsa yang dewasa dan bertsnggung jawab. Dan harus 
membangkitkan romantisme perjuangan rakyat Indonesia masa kini, yaitu 
membangkitkan perjuangan melawan ideologi neoliberalisme,yang telah menelan 
bulat-bulat NKRI kedalam perut  Neokolonialisme. Sehingga Indonesia yang 
Merdeka sekarang ini dapat dikatakan merupakan replika dari Indonesia Yang 
Tejajah pada zamannya kolonialisme Belanda. Indonesia terus merupakan negara 
yang kehidupannya tergantung pada modal asing dan utang luarnegeri, khususnya 
dalam konteks Pembangunan Infrastrukturnya. Jadi melek Pancasila dalam konteks 
ini harus mendidik orang untuk memahami  dan memperjuangkan demokrasi Ekonomi 
yang bersandar pada Pasal 33 UUD 45, demi memperkuat nasionalisme Indonesia, 
yang semuanya terangkum dalam Trisakti Bung Karno.

4.  Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam 
permusyawarataan/perwakilan” atau Demokrasi. Karena demokrasi tampaknya 
merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan 
kondesi-kondesi sosial yang khusus. Selama beribu-ribu tahun dari peradaban 
Indonesia, telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia, yaitu 
demokrasi yang berdasarkan sila-sila dalam Pancasila. Jadi melek Pancasila 
dalam konteks ini berati harus mendidik dirinya sendiri dan manusia-manusia 
Indonesia untuk memperkuat pengertian Hak azasi Manusia, sehingga bangsa 
Indonesia menjadi bangsa yang bertanggung jawab, menerima dan memahami hak 
keadilan sosial, memperkuat faham permufakatan dan permusyawaratan.Melek 
Pancasial dalam konteks ini juga berarti mendidik oranglain dan dirinya sendiri 
untuk memperkuat system demokrasi Pancasila, yang berdasarkan mufakat dan 
musyawarah, bukan Voting model AS.

5.  “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Pada keadilan Sosial ini, 
dimaksud juga kemakmuran sosial, karena dua masalah ini tidak dapat 
dipisah-pisahkan. Melek Pancasila dalam konteks ini berati harus mendidik 
dirinya sendiri dan orang lain untuk memperjuangkan terlaksananya kesejahteraan 
soaial seperti yang terkandung dalam UUD 45 Pasal 33 dan Pasal 34, yang 
diperkuat oleh Pasal 27 (ayat 2) UUd 45. Jadi Melek Pancasila dalam sila yang 
ke lima ini, berarti kita semua konsekuen turut memperjuangkan terlasakannya 
sytem ekonomi Pancasila berdasarkan pada Pasal 33 UUD 45, untuk  menjadi 
kekuatan yang dapat mewujudkan rekonsiliasi nasional dalam pembangunan ekonomi 
bagi kepentingan rakyat banyak. Melek Pancasila berarti kita harus tetap 
menggelar kesinambungan dan merancang perubahan untuk masadepan yang lebih baik.

Jika dianalisa sedalam-dalamnya, maka Sila yang kelima ini berarti harus 
mendidik orang termasuk diri kita sendiri, untuk secara konsekuen menggunakan 
prinsip-prinsip Pancasila yang tertuang dalam Sila yang ke satu sanpai dengan 
yang ke empat, dan menggunakan prisip-prinsip itu untuk mensuskseskan  
kewajiban kita yang tertuang dalam Sila yang kelima, yaitu mewujudkan suatu 
masyarakat yang mampu memperthankan kehidupannya tanpa merugikan prospek 
generasi-generasi masa depan. Dalam masyarakat kita yang sekarang ini berati 
kita harus dapat mewujudkan komunitas-komunitas yang mampu mempertahankan 
kehidupan yakni lingkungan-lingkungan sosial dan kultural, di mana kita dapat 
memuaskan kebutuhan-kebutuhan kidup kita dan aspirasi kita, tanpa mengurangi 
kesempatan bagi generasi-generasi masa depan.

Kesimpulan akhir: Dari pengamatan saya Tentang Melek Pancasila, dimulai dari 
sila petama sampai dengan sila yang ke Lima, tidak dapat ditemukan bahwa Agama 
adalah musuh besar Pancasila. Jadi sebagai kesimpulan akhir melek Pancasila 
harus menolak paradigma Agama musuh besar Pancasila, yang di komandangkan oleh 
ketua BPIB yang baru , yaitu Yudian Wahyudi. Jika Paradigma ini tetap 
dipertahankan, maka demi keutuhan NKRI, sebaiknya BPIP dibubarkan saja.

  

Roedslan.

----------------------------------------------------------------------------------

  

  

NU soal Ketua BPIP: Tunjukkan Letak Agama Musuh Pancasila

CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 13:04 WIB

Bagikan :    

 Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menganggap Ketua BPIP Yudian ngawur sebut 
agama musuh Pancasila (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

  

Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU) Helmy Faishal Zaini menilai pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi 
Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi ngawur ketika menyebut musuh terbesar Pancasila 
adalah agama.

Helmy menyayangkan jika Yudian memang benar bicara demikian. Ia mengaku bakal 
mengonfirmasi pernyataan itu langsung ke Yudian yang baru dilantik Presiden 
Joko Widodo pada pekan lalu.

"Tapi kalau betul-betul itu dinyatakan oleh kepala BPIP, pernyataan yang ngawur 
itu," kata Helmy kepada CNNIndonesia.com, Rabu (12/2).




Helmy mengatakan berani berdebat tentang keselarasan Pancasila dengan 
nilai-nilai agama Islam. Menurutnya, kelima sila dalam Pancasila itu juga 
sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran.

"Tunjukan kepada saya di mana letak agama itu adalah musuh Pancasila, sila 
pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, jelas sekali dalam Alquran disebutkan surat Al 
Ikhlas," ujarnya.

"Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, keempat, kelima, 
semuanya, dalam Alquran sejalan, dalam pendekatan itu Islam. Begitu juga saya 
kira dengan agama lain," kata Helmy melanjutkan.

| 
Lihat juga:

 MUI Minta Jokowi Pecat Kepala BPIP soal Agama Musuh Pancasila
 |




#yiv0407315217 -- #yiv0407315217ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-mkp #yiv0407315217hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mkp #yiv0407315217ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mkp .yiv0407315217ad 
{padding:0 0;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mkp .yiv0407315217ad p 
{margin:0;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mkp .yiv0407315217ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-sponsor 
#yiv0407315217ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-sponsor #yiv0407315217ygrp-lc #yiv0407315217hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-sponsor #yiv0407315217ygrp-lc .yiv0407315217ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0407315217 #yiv0407315217actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0407315217
 #yiv0407315217activity span {font-weight:700;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0407315217 #yiv0407315217activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0407315217 #yiv0407315217activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0407315217 #yiv0407315217activity span 
.yiv0407315217underline {text-decoration:underline;}#yiv0407315217 
.yiv0407315217attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0407315217 .yiv0407315217attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0407315217 .yiv0407315217attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0407315217 .yiv0407315217attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0407315217 .yiv0407315217attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0407315217 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0407315217 .yiv0407315217bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0407315217 
.yiv0407315217bold a {text-decoration:none;}#yiv0407315217 dd.yiv0407315217last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0407315217 dd.yiv0407315217last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0407315217 
dd.yiv0407315217last p span.yiv0407315217yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0407315217 div.yiv0407315217attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0407315217 div.yiv0407315217attach-table 
{width:400px;}#yiv0407315217 div.yiv0407315217file-title a, #yiv0407315217 
div.yiv0407315217file-title a:active, #yiv0407315217 
div.yiv0407315217file-title a:hover, #yiv0407315217 div.yiv0407315217file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0407315217 div.yiv0407315217photo-title a, 
#yiv0407315217 div.yiv0407315217photo-title a:active, #yiv0407315217 
div.yiv0407315217photo-title a:hover, #yiv0407315217 
div.yiv0407315217photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0407315217 
div#yiv0407315217ygrp-mlmsg #yiv0407315217ygrp-msg p a 
span.yiv0407315217yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0407315217 
.yiv0407315217green {color:#628c2a;}#yiv0407315217 .yiv0407315217MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0407315217 o {font-size:0;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217photos div {float:left;width:72px;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0407315217
 #yiv0407315217reco-category {font-size:77%;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217reco-desc {font-size:77%;}#yiv0407315217 .yiv0407315217replbq 
{margin:4px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-mlmsg select, #yiv0407315217 input, #yiv0407315217 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-mlmsg pre, #yiv0407315217 code {font:115% 
monospace;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-mlmsg #yiv0407315217logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-msg 
p#yiv0407315217attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-reco #yiv0407315217reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-sponsor 
#yiv0407315217ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-sponsor #yiv0407315217ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-sponsor #yiv0407315217ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0407315217 #yiv0407315217ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0407315217 
#yiv0407315217ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0407315217   

Kirim email ke