Kebal Virus
Oleh Dahlan Iskan
Senin, 17 Februari 2020 – 08:38 WIB
https://www.jpnn.com/news/kebal-virus
Kebal Virus - JPNN.com
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com
jpnn.com- Inilah pertanyaan yang sama yang saya ajukan kepada 10 orang
yang berbeda di negara yang berlainan: mengapa tidak ada virus corona di
Indonesia? Percayakah Anda?
"Tidak mungkin tidak ada di Indonesia. Virus ini sudah menyerang seluruh
negara di Asia," jawab seorang teman di Singapura. Ia bukan Robert Lai.
Namun pendapatnya sama dengan Robert.
Tidak satu pun dari 10 orang itu yang percaya kalau virus corona belum
masuk Indonesia.
Baca Juga:
* Julinten Edan <https://www.jpnn.com/news/julinten-edan>
Inilah zaman persepsi --yang fakta kalah dengan persepsi. Dan itulah
nasib Indonesia --dipersepsikan seperti itu.
Bahkan ada yang memandang lebih rendah lagi: mungkin peralatan di
Indonesia belum memadai untuk bisa mendeteksi virus corona.
Saya hanya tertawa mendengar jawaban yang seperti itu. Apa boleh buat.
Reputasi kita memang belum tinggi. Padahal dalam banyak hal kita bisa
lebih baik.
Baca Juga:
* Virus Bersih <https://www.jpnn.com/news/virus-bersih>
Misalnya dalam hal penyakit-penyakit tropik. Pasti dokter Indonesia
lebih ahli.
Namun ada saja orang kaya Indonesia yang tetap emosional. Yang
mengagungkan dokter Singapura secara membabi buta.
Orang kaya itu terkena demam berdarah. Tinggalnya di Jakarta. Ia segera
dibawa ke Singapura karena hanya percaya dokter Singapura.
Baca Juga:
* Dukungan Hashtag <https://www.jpnn.com/news/dukungan-hashtag>
Saya terlambat tahu itu. Saya tidak sempat menasihatinya. Akhirnya ia
meninggal dunia di Singapura.
Masih begitu mudanya --untuk ukuran saya. Ia belum lagi 55 tahun.
Padahal dokter di Indonesia pasti lebih ahli dan berpengalaman menangani
demam berdarah. Atau penyakit lain yang sebangsa itu.
Namun tetap saja dokter kita dipersepsikan kalah.
Teman saya di Beijing menjawab dengan lebih diplomatik. Khas jawaban
orang dari sana.
"Saya juga terheran-heran mengapa virus corona tidak menyerang
Indonesia," katanya. "Kalau benar begitu tentu orang Indonesia sangat
berbahagia," tambahnya.
Saya tidak perlu jawaban basa-basi begitu. Saya pun mengejarnya dengan
pertanyaan yang lebih tegas: apakah Anda percaya? Akhirnya ia menjawab
terus terang: "Sayang sekali saya tidak percaya."
Ada lagi yang berpendapat bahwa virus corona sudah masuk Indonesia.
Hanya saja tidak terdeteksi karena gejalanya hanya mirip flu.
Dan yang terkena 'flu' itu ternyata sembuh. Tanpa diketahui mungkin saja
itu corona.
Memang banyak rumor yang tidak ilmiah ikut beredar. Misalnya soal suhu
udara Indonesia yang panas.
Namun suhu di Singapura kan juga tidak ada bedanya dengan di Indonesia.
Bahkan Australia kini lagi musim panas --toh terkena juga.
Soal rumor tidak makan babi terbantah lebih telak lagi: kan masyarakat
Tionghoa Indonesia juga makan babi. Kok juga tidak terkena.
Di Tiongkok sendiri terbukti kian jauh dari Wuhan kian sedikit yang
terserang corona. Di Provinsi terjauh, Xinjiang, hanya 71 yang terkena,
11 orang di antaranya sudah sembuh. Hanya satu orang meninggal.
Di Provinsi Ningxia, yang muslimnya juga besar, hanya 70 yang terkena
--itu pun yang 33 orang sudah sembuh. Tidak satu pun meninggal.
Demikian juga di Provinsi Qinghai --di antara Ningxia dan Xinjiang--
hanya 18 orang terkena tapi yang 13 orang sudah sembuh. Tinggal lima
orang yang masih dirawat. Tidak satu pun yang meninggal.
Di provinsi terjauh lainnya, Tibet --yang mayoritas Buddha-- hanya satu
orang yang terkena corona. Itu pun sudah sembuh.
Yang mengejutkan memang tetap saja Kota Wuhan. Tiga hari yang lalu
tiba-tiba saja angka penderita barunya melonjak drastis. Dari biasanya
sudah turun ke kisaran 1.000, menjadi 14.800.
Hari berikutnya memang turun lagi tapi masih tinggi: 4.800. Baru kemarin
sudah turun lagi menjadi 1.800 orang.
Lonjakan sampai 14.000 lebih itu ternyata bukan karena wabahnya menggila
lagi. Mulai hari itu dokter dan perawat dikerahkan terjun ke masyarakat.
Dokter dan perawat dari propinsi lain dikerahkan ke Wuhan.
Maka angka penderita barunya tidak lagi hanya yang datang ke klinik. Itu
sudah termasuk hasil operasi jemput bola ke tengah masyarakat.
Saya pun tenang. Melonjaknya angka penderita baru akibat gerakan baru
jemput bola itu.
Wuhan memang lagi 'digempur' habis-habisan. Agar wilayah sumber wabah
ini cepat teratasi.
Adakah Indonesia mirip Tibet? Yang penderitanya hanya satu --itu pun
kemudian sembuh?*(***)*