Puji China Tangani Virus Corona, Netralitas WHO Dipertanyakan
CP name
Kompas.com
Reporter
Vina Fadhrotul Mukaromah
Upload Date & Time
Diterbitkan 19.30, 16/02/2020
https://today.line.me/id/pc/article/Puji+China+Tangani+Virus+Corona+Netralitas+WHO+Dipertanyakan-qgo2p9
* Total count of Like0
* Total count of Comment0
* LINE share button
* Twitter share button
* Facebook share button
* KEEP
* COPY
AFP/FABRICE COFFRINISee detail
Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom
Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020. Tedros
mengumumkan status darurat dunia atas virus corona yang hingga saat ini,
sudah membunuh 212 orang di China.
*KOMPAS.com - *Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Tedros
Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan pujiannya kepada China atas
upaya-upaya dalam menghadapi wabah virus corona.
"Kami mengapresiasi keseriusan China dalam mengatasi wabah ini, terutama
komitmen dari para pemimpin dan transparansi yang ditunjukkan," kata
Tedros sebagaimana dikutip dalam sejumlah media China.
Melansir /CNN, /pujian WHO atas tindakan China dalam menangani wabah
memunculkan sejumlah pertanyaan tentang hubungan kedua entitas tersebut.
Sebab, selama ini WHO mengandalkan dana dan kerja sama dari para
anggotanya untuk dapat beroperasi.
Kondisi ini memberikan kesempatan bagi negara-negara kaya seperti China
untuk memiliki pengaruh yang cukup besar.
Salah satu contoh yang disebut adalah keberhasilan China atas WHO untuk
memblokir akses ke Taiwan, sebuah kondisi yang dapat menyebabkan dampak
nyata bagi orang-orang Taiwan jika virus ada di sana.
Menteri Luar Negeri China tidak merespons pertanyaan terkait hubungan
Beijing dengan WHO.
"Saya tahu ada banyak tekanan di WHO saat kami mengapresiasi tindakan
China. Namun, karena adanya tekanan tersebut, kami harus mengatakan
kebenaran," kata Tedros
"Kami memberikan apresiasi atas hal-hal yang dilakukan sesuai standar
yang ada dan mari menunjukkan solidaritas sebagai sebuah kesatuan dunia
dari apa yang telah dilakukan China," tambahnya.
*Baca juga: WHO Takjub Indonesia Gerak Cepat Minimalisir Penyebaran
Virus Corona*
Antara Politik dan Kesehatan
WHO didirikan pada tahun 1948 di bawah naungan PBB. Badan ini diberikan
mandat untuk mengoordinasikan kebijakan kesehatan internasional,
terutama pada penyakit menular.
Setelah itu, WHO pun berhasil memperoleh kesuksesan dalam mengatasi
sejumlah penyakit seperti cacar dan penurunan kasus polio sebesar 99
persen, kasus penyakit kronis hingga menangani penggunaan tembakau.
Akan tetapi, dalam sejarah keberadannya, WHO seringkali menuai kritik,
mulai dari terlalu birokratis hingga terlalu bergantung pada donasi
besar atau terpengaruh kondisi politik.
Pada 2017 lalu, politisi Ethiopia, Tedros, menjadi Direktur Jenderal WHO
dan menjanjikan reformasi besar. Ia merupakan orang Afrika pertama yang
menjabat posisi tersebut.
Tedros mengambil alih posisi tersebut setelah respons WHO yang dianggap
buruk saat epidemi ebola tahun 2013-2016 di Afrika Barat.
*Baca juga: WHO Jamin Kesehatan 285 WNI yang Selesai Diobservasi di Natuna*
Berdasarkan salah satu penilaian akademis, disebutkan bahwa WHO
membutuhkan waktu lima bulan untuk mendeklarasikan ebola sebagai darurat
kesehatan publik.
Waktu yang lama ini dinilai berkontribusi terhadap skala wabah besar
yang tidak diprediksi sebelumnya.
Pada laporan tahun 2014, mantan konsultan WHO, Charles Clift menuliskan
bahwa kebanyakan pengamat, termasuk orang-orang di dalam organisasi,
setuju bahwa organisasi tersebut terlalu politis, birokratis, dan
didominasi oleh staf medis yang mencari solusi medis atas
masalah-masalah sosial dan ekonomi.
"WHO adalah agen teknis dan badan pembuat kebijakan. Instruksi
berlebihan dari pertimbangan politik dalam kerja teknis WHO dapat
merusak otoritas dan kredibilitasnya sebagai pembawa standar kesehatan,"
tulis Clift.
Tidak seperti organisasi kesehatan lain, WHO biasanya tidak memiliki
timnya sendiri untuk mengumpulkan informasi lapangan. Badan ini
bergantung pada data yang disediakan oleh negara-negara anggota yang
disaring oleh badan regional.
*Baca juga: Indonesia Negatif Virus Corona, Ini Kata WHO Indonesia*
Terjebak di tengah
Terlepas dari isu keuangan, WHO juga secara langsung dikontrol oleh
negara-negara anggotanya, yang mencalonkan, dan memilih Direktur
Jenderal serta menetapkan agendanya.
Kondisi ini berarti bahwa WHO tidak mampu secara politik ataupun
finansial, untuk menentang negara-negara seperti AS atau China, yang
memiliki pengaruh sangat besar terhadap negara lain.
"Jika Tedros ingin WHO tetap memperoleh informasi tentang apa yang
tengah terjadi di China dan mempengaruhi bagaimana negara menangani
epidemi, ia tidak mampu menantang pemerintah China yang terkenal
sensitif. Meskipun jelas negara tersebut kurang transparan akan wabah
itu," tulis Kai Kupferschmidt dalam sebuah jurnal Sains.
Sebaliknya, jika Tedros melakukannya, diprediksi muncul kritik bagi WHO
karena menyerang China di saat krisis yang terjadi saat ini.
Profesor dari Hong Kong University Journalism and Media Studies Center
sekaligus mantan konsultan WHO, Thomas Abraham, menyimpulkan bahwa WHO
dan China sama-sama terjebak di dalam situasi ini.
*Baca juga: Kembali dari Natuna, Pasangan Ini Ingin Anaknya Tetap
Melanjutkan Kuliah di China*
Penulis: Vina Fadhrotul MukaromahEditor: Virdita Rizki Ratriani
Artikel Asli
<https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/16/193000965/puji-china-tangani-virus-corona-netralitas-who-dipertanyakan-?utm_source=LINE&utm_medium=today&utm_campaign=messaging>