Kalau pejabat berpidato selalu putar baik ucapannya, bagaikan  tong kosong
yang berbunyi tanpa kenyataan resonans.

https://www.jawapos.com/jpg-today/29/02/2020/haul-guru-sekumpul-dihadiri-jutaan-jamaah-pejabat-dilarang-berpidato/


*Haul Guru Sekumpul, Dihadiri Jutaan Jamaah, Pejabat Dilarang Berpidato*

KALIMANTAN <https://www.jawapos.com/location/kalimantan/>

BERITA DI SEKITAR ANDA <https://www.jawapos.com/jpg-today/>

29 Februari 2020, 23:00:56 WIB

[image: Haul Guru Sekumpul, Dihadiri Jutaan Jamaah, Pejabat Dilarang
Berpidato]*Jelang Haul ke-15 Guru Sekumpul (Antara/Bayu Pratama)*


JawaPos.com – Peringatan hari wafat atau haul KH Muhammad Zaini bin Abdul
Ghani atau Guru Sekumpul menjadi fenomenal. Musababnya, peringatan hari
lahir ulama besar asal Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang
wafat pada 10 Agustus 2005 atau setiap tanggal 5 Rajab pada usia 63 tahun
tersebut, dihadiri banyak orang, bahkan diyakini jutaan orang.

Dalam kegiatan ini, tidak hanya dihadiri jamaah dari Pulau Kalimantan.
Namun juga dari penjuru Nusantara, bahkan mancanegara. Oleh karena itu,
dipersiapkan sampai empat bulan, karena jamaah yang hadir terus meningkat
setiap tahunnya.

Untuk haul yang ke-15, kegiatan haul ulama yang dilahirkan pada 11 Februari
1942 atau 27 Muharram 1361 di Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar
tersebut, akan dilaksanakan dua hari, yakni, Sabtu (29/2) dan Minggu (1/3)
bertepatan 5 dan 6 Rajab 1441 Hijriah.

Pelaksanaan haul hari pertama digelar usai salat Isya di kubah atau
ditempat dimakamkannya Guru Sekumpul. Sementara di hari kedua, dilaksanakan
Mushala Ar-Raudhah Sekumpul, yang letaknya di samping makam tersebut. Acara
ini merupakan acara puncak.

Di hari pertama acara haul ke-15 ini, jamaah tumpah ruah hadir, hingga
berkilometer jaraknya dari titik utama mushala Ar-Raudhah.

Sementara di H-2, jamaah dari berbagai daerah sudah sangat banyak datang ke
Sekumpul. Mereka ingin hadir lebih dekat dengan mushala Ar-Raudhah. Sebab
jika datang pada hari H, dipastikan tidak bisa lagi masuk ke komplek
mushala Ar-Raudhah. Ini karena padatnya jamaah yang datang bahkan bisa
membludak hingga dua atau tiga kilometer.

Hal ini seperti yang terjadi pada Haul ke-14 tahun 2019 lalu. Parkir jamaah
haul sudah mencapai lapangan Murjani depan kantor Pemerintah Kota
Banjarbaru, di mana jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kegiatan.

Acara haul Guru Sekumpul ini memang mengundang perhatian semua pihak,
bahkan pada Haul ke-13 lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berhadir
bersama Panglima TNI dan Kapolri, serta sejumlah menteri.

Yang mengesankan, acara haul ini murni tidak boleh ditunggangi kepentingan
politik. Sebagai contoh, petinggi negara pun tidak diperkenankan untuk
menyampaikan sambutan.

Acara hanya diisi pembacaan dzikir, maulid Habsyi dan doa, di mana kedua
putra almarhum KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang memimpin, didampingi
para ulama dan habib. Setelah itu semuanya kembali ke tempat asalnya
masing-masing.

600 ekor sapi konsumsi

Haul Guru Sekumpul yang ke-15 ini benar-benar digelar besar, karena sekitar
600 ekor sapi disiapkan untuk konsumsi pada acara puncak. Sumbangan ratusan
ekor sapi dari para jamaah tersebut disebar di 161 dapur umum, di mana akan
di masak dengan menu ala khas timur tengah, yakni, nasi samin.

Salah satu dapur Dapur Umum Sektor Taufik kepada ANTARA mengatakan, sejak
Jumat (28/2) siang telah menerima 37 ekor sapi. Jumlah itu belum termasuk
sumbangan dalam bentuk daging potong yang juga tak sedikit.

“Alhamdulilah, Masya Allah Haul Abah Guru Sekumpul setiap tahunnya terus
meningkat sumbangan masyarakat. Tahun lalu kami hanya menerima sekitar 30
ekor sapi. Bahkan, tahun ini, banyak masyarakat dari jauh turut menyumbang,
ada yang kirim uang dan sebagainya,” kata Hadianorr yang tergabung di Dapur
Umum Sektor Taufik bersama sekitar 500 relawan.

Sumbangan tersebut datang tidak karena diminta, misalnya karena dibuatkan
proposal, tapi murni datang sendiri.

“Karena kecintaan dengan Abah Guru Sekumpul, semua berlomba-lomba ingin
menyumbang, kita hanya menerima amanah mereka,” ujarnya.

Tidak hanya sumbangan daging sapi, dapur umum Haul Guru Sekumpul juga
banyak menerima sumbangan bentuk beras, bahkan sampai ratusan ton.

Jauh-jauh hari sebelumnya, dapur-dapur umum Haul Guru Sekumpul juga sudah
dibanjiri sumbangan dalam bentuk kayu bakar untuk masak, hingga tertumpuk
seperti gunung.

Salah satu penyumbang kayu bakar untuk memasak itu dari Desa Padang
Panjang, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, jumlahnya beberapa truk,
hasil gotong royong.

“Sudah kebiasaan, haul Abah Guru Sekumpul, kami gotong royong untuk
nyumbang kayu bakar, tahun ini juga warga desa kami nyumbang satu ekor
sapi, kami juga jadi relawan untuk menyambut jamaah,” ujar warga Desa
Padang Panjang Junaidi.

Serba gratis

Haul Guru Sekumpul memang memunculkan fenomena lain, yakni, banyak makanan,
minuman bahkan sampai ada BBM, bengkel yang serba gratis.

Seperti berlomba ingin memberikan pelayanan yang baik bagi tamu yang hadir
di Haul Guru Sakumpul, sepanjang jalan protokol A Yani misalnya dari Kota
Banjarmasin, hingga ke Martapura, banyak orang yang berbagi makanan dan
minuman secara gratis.

Jamaah yang melintas di jalan A Yani atau jalan lainnya menuju Martapura,
hampir semuanya mendapatkan makanan dan minuman, bahkan fenomena bagi-bagi
makanan tersebut sejak hari pertama hingga puncak acara.

“Kalau tahun lalu, kita sampai kebanyakan dapat makanan, dari roti, nasi
bungkus hingga beragam minuman, bahkan BBM ada yang bagi juga, saya pakai
motor dapat dua liter hingga oli mesin pun gratis,” ujar H Hasan Zainuddin,
jamaah dari Kota Banjarmasin.

Dia mengaku hampir setiap tahun menghadiri haul Tuan Guru Sekumpul, di mana
jamaah yang hadir dirasanya terus meningkat, karena posisinya hadir terus
menjauh dari komplek mushala Ar-Raudhah.

“Yang di luar akal itu, banyak sekali orang yang datang dari berbagai
daerah, entah dari mana, menakjubkan lagi, banyak sekali orang yang
menyumbang makanan, kita tidak akan kelaparan, bahkan ada rumah makanan
yang terang-terang bikin spanduk di depan, silakan makan gratis di tempat
kami,” ucap Hasan.

Menurut cerita dari teman-temannya di daerah hulu sungai, hal demikian juga
ada tempat makan dan minum gratis itu di sepanjang jalan hingga ke
Sakumpul, Martapura.

Di Sekumpul pun, warganya menyiapkan penginapan untuk istirahat jamaah
bahkan makan selama di sana ditanggung gratis.

Kirim email ke