*Melihat apa yang diberitakan ini, agaknya 10% hasil Blok Masela tuntuk
provinsi Maluku tidak akan diberikan, sebab kalau ada gula biasanya banyak
semut berkerumun. Ada dua contoh yang patut diperhathatikan, yaitu
perjanjian Helsinki antara GAM dan rezim, hingga kini tidak dilaksanakan
maka oleh karena itu kemarin atau kemarin dulu Malik Mahmud dari Aceh
datang ke Jakarta untuk membicarakan masalah tsb. Lihat ini : **Mantan
Petinggi GAM Tagih Janji Pemerinta**h* (
https://www.youtube.com/watch?v=-3u4PJAUbXU* )**Masalah kedua ialah gas
alam yang diambil dari teluk Bintuni di Papua, berapa besar pendapatannya
untuk rakyat Papua tidak jelas beritanya, diam-diam nanti gas habis.Orang
tidak dapat apa-apa.*

https://www.beritasatu.com/ekonomi/605217/proyek-blok-masela-harus-beri-dampak-ekonomi-bagi-pelaku-kumkm
*Proyek Blok Masela Harus Beri Dampak Ekonomi bagi Pelaku KUMKM*

[image: Proyek Blok Masela Harus Beri Dampak Ekonomi bagi Pelaku KUMKM]Rully
Indrawan (kiri) didampingi Sekretaris Panitia Seleksi (Pansel), Reza A.
Damanik berbicara dalam acara konferensi pers di Jakarta, Selasa
(11/2/2020. ( Foto: Ismewa )

Siprianus Edi Hardum / EHD Selasa, 3 Maret 2020 | 23:28 WIB

*Saumlaki, Beritasatu.com* - Proyek Blok Masela pada tahun 2020 ini sudah
bisa memasuki tahapan proses konstruksi fasilitas produksi, sedangkan mulai
produksi (on stream) ditargetkan pada 2027. Dengan dimulainya pengelolaan
Blok Masela ini diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar
yang di dalamnya terdapat pelaku koperasi dan UMKM.

“Jadi kalau lokasi ini bisa berkembang dengan bisnis pada migas tentu
pekerjanya butuh makan, maka jangan menyerahkan kepada pihak luar untuk
menyiapkan urusan seperti itu, tapi berikan kepada masyarakat lokal di
sini,” kata Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan saat
membuka Rakor Perencanaan Pusat dan Daerah (Rakorda) Pemberdayaan KUMKM di
Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Selasa (3/3/2020) sebagaimana dalam
siaran persnya.

“Kemudian juga membutuhkan jenis pekerjaan yang dibutuhkan seperti
penyediaan alat-alat yang mendukung kegiatan produksi, kenapa tidak
dikerjasamakan dengan masyarakat sehingga secara sosial tidak terjadi
pelarisasi di masyarakat, ada kelompok yang diuntungkan, ada kelompok yang
dirugikan. Itu berbahaya,” tambahnya.





Rully juga berharap terjadi sharing ekonomi antara perusahaan dengan
masyarakat setempat. Sharing ekonomi ini akan memberikan manfaat bagi kedua
belah pihak bilamana saling bersinergi.

"Ini pun diharapkan Blok Masela mengembangkan apa itu ekonomi sharing,
ekonomi yang menumbuhkan semua pihak karena tidak berjalan sendiri-sendiri.
Di tahun sekitar 80an-90an ada praktik-praktik di mana masyarakat di
sekitar itu hanya menjadi penonton, malah menjadi korban yang akhirnya
mereka mencari kehidupan di luar negeri. Ini gak boleh terjadi. Kalau
kurang mampu harus dilatih bersama-sama, kalau gak punya pengelaman kasih
pengalaman,” ujar Rully.





“Saya kira ini perlu dikomunikasikan dengan rekan-rekan di level
kementerian perekonomian dalam hal ini nanti kita coba mediasi dengan para
pihak, termasuk juga dengan perusahaan yang akan nanti menjadi leader. Dan
semoga ini menjadi contoh nasional di Tanimbar. Tidak boleh Tanimbar ini
masyarakatnya terusir dari tanah leluhurnya hanya karena dianggap tidak
mampu mengerjakan apa yang dituntut oleh projek tersebut,” sambung Rully.

Kemkop dan UKM sendiri akan menyiapkan sejumlah program bagi penguatan
pelaku koperasi dan UMKM di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. “*Pertama*, kita
suport dari sisi peningkatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan.
Pelatihan apa yang dalam waktu dekat ini akan kita coba sampaikan kepada
masyarakat di sini,” kata Rully.

*Kedua*, Kemkop dan UKM juga menyiapkan kelembagaan koperasi bagi pelaku
UKM di Kabupaten yang berbatasan langsung dengam Australia tersebut. “Kita
fokuskan ke koperasi wanita, karena kebanyakan wanita punya waktu yang
lebih. Nanti kita kucurkan skema kredit Mekar dari PNM. Selanjutnya program
ini akan menjadi pilot project bagi daerah lain yang setipe,” ucap Rully.

*Ketiga*, memberi dukungan pembiayaan bagi penguatan modal usaha pelaku
KUMKM melalui pengembangan startup.
“Tadi kita juga minta PNM terlibat di sini. Nanti Kalau itu sudah berjalan
dan kelembagaan koperasi sudah berjalan itu akan lebih baik dan saya kira
KUR sudah jalan. Kalau diformalkan melalui koperasi maka LPDB bisa bantu,”
katanya.

Bupati Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon menyampaikan keseriusan mereka
dalam mengembangkan dan membina koperasi dan UKM menjelang beroperasinya
Blok Masela. Sampai saat ini jumlah koperasi di salah satu kabupaten
terluar di Provinsi Maluku itu sebanyak 187 unit. Dari jumlah tersebut
sebanyak 159 aktif, sedangkan 28 koperasi tidak aktif. Untuk jumlah UMKM
tercatat sebanyak 7928 unit.

“Dalam menyongsong beroperasinya Blok Masela, pemerintah daerah
mengharapkan campur tangan dari pemerintah pusat dalam hal ini dari
Kementerian Koperasi dan UKM, maupun pemerintah Provinsi Maluku agar kami
dibina, dibantu melalui bidangnya masing-masing, agar KUMKM yang ada di
Tanimbar dapat siap merebut *multiplier effect* (dampak berantai) dari
hadirnya Blok Masela yang dimulai pada tahun 2020 ini,” ujar Petrus..

Ia mengakui banyak kendala yang dihadapi pelaku KUMKM di Kabupaten
Kepulauan Tanimbar. Mulai dari minimnya sumber daya manusia (SDM) untuk
menatakelola KUMKM, terbatasnya modal usaha, serta masih kurangnya sarana
dan prasarana pendukung.

“Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati saya atas nama masyarakat
Kabupaten Kepulauan Tanimbar memohon perhatian, uluran tangan dari Pak
Sesmen, Pak Gunernur dan Kepala Dinas KUMKM kiranya melihat kami yang ada
di perbtasan ini. Jadikan kami sebagai teras Provinsi Maluku. Jadikan pula
kami sebagai teras NKRI untuk menjadi model bagi kabupaten-kota lain,”
pungkas dia.

Menurut dia, proyek Blok Masela yang menelan biaya investasi sebesar 20
miliar USD atau setara dengan Rp 289 triliun itu perlu diantisipasi melaluo
pemberdayaan KUMKM. “Kami sangat berharap campur tangan, bantuan dari
Kementerian Koperasi dan UKM, Dinas Koperasi agar kami dibina, agar tidak
menjadi penonton ketika Blok Masela mulai beroperasi,” tutup Petrus

Sumber: BeritaSatu.com

Kirim email ke