Giliran sembilan pejabat Hubei diperiksa atas pelarian pasien corona
Rabu, 4 Maret 2020 08:36 WIB
Giliran sembilan pejabat Hubei diperiksa atas pelarian pasien corona
Virus corona. TPX IMAGES OF THE DAY (via REUTERS/NEXU Science Communication)
Jakarta (ANTARA) - Giliran sembilan pejabat di Provinsi Hubei menjalani
pemeriksaan aparat penegak disiplin China terkait pelarian dari Wuhan ke
Beijing oleh seorang pasien positif terpapar virus corona jenis baru
atau COVID-19.
Tim investigasi gabungan di bawah koordinasi Kementerian Kehakiman China
tidak memerinci nama kesembilan pejabat tersebut.
Namun China Daily yang dipantau ANTARA, Rabu, menyebutkan dua di antara
sembilan pejabat adalah Kepala Departemen Kehakiman Provinsi Hubei Tan
Xianzhen dan Kepala Biro Pemasyarakatan setempat Hao Aimin.
Sebelumnya empat pejabat dan pegawai di Beijing juga telah menerima
sanksi pemecatan dan pemutasian terkait dengan kasus yang menggemparkan
jagat media dan media sosial di China.
Perempuan bermarga Huang yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19
dengan leluasa melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi bersama
keluarganya ke Beijing begitu bebas dari penjara di Kota Wuhan, Provinsi
Hubei.
Pihak Lapas Wuhan jelas mengetahui kalau Huang punya riwayat kontak
langsung dengan penderita COVID-19 karena menunjukkan gejala demam.
Namun pihak Lapas tidak melapor ke otoritas karantina agar yang
bersangkutan dikarantina selama 14 hari setelah dibebaskan dari penjara.
Justru pihak Lapas yang menghubungi keluarga terpidana di Beijing agar
membantunya meninggalkan Wuhan yang diisolasi sejak 23 Januari 2020
setelah dinyatakan sebagai episentrum COVID-19 itu, demikian hasil
investigasi Kementerian Kehakiman China atas kasus tersebut.
Huang (64) yang dipidana selama 10 tahun atas tuduhan suap di Biro
Konservasi Air Kabupaten Xuan’en, Hubei, dibebaskan dari penjara pada 17
Februari.
Sebelum tanggal 17 Februari, kedua anak Huang tidak diizinkan menjemput
Huang untuk dibawa pulang ke Beijing lantaran jalan raya ditutup.
Setelah pihak Lapas memastikan Huang positif COVID-19, maka dia harus
menjalani karantina di dalam kompleks penjara.
Selama 13-17 Februari, suhu badan Huang diperiksa hingga 13 kali dengan
rata-rata temperatur 37,3 derajat Celcius.
Lalu Huang minta dipulangkan sehingga pihak Lapas mengontak kedua
anaknya tadi untuk mengabarkan disetujuinya permintaan tersebut.
Keluarga Huang menghubungi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular (CDC) Beijing untuk menanyakan kemungkinan berkendara dari Wuhan.
CDC menjawab bahwa jika sudah mendapat izin dari Wuhan, maka tidak
diperlukan pemeriksaan di jalan raya.
Huang sebelumnya juga menulis surat permohonan melakukan karantina
selama 14 hari begitu tiba di Beijing.
Memang Huang bersama kedua anaknya diperiksa suhu tubuh di pos
pemeriksaan Jalan Raya Daqing-Guangzhou, namun sayang petugas tidak
mencatat nama ketiganya.
Parahnya, saat memasuki kompleks permukiman Xinyijiayuan, Distrik
Dongcheng, Beijing, pada 22 Februari pukul 02.00 waktu setempat (01.00
WIB), Huang dan kedua anaknya tidak dicek suhu tubuhnya.
Baru dua hari kemudian dia memeriksakan diri karena flu yang tak kunjung
sembuh.
Dari segi usia, Huang tergolong kelompok berisiko tinggi terpapar virus
yang sampai saat ini telah membunuh 2.948 warga China itu.
*Baca juga:Inggris kini terjangkit 51 kasus terkonfirmasi virus corona
<https://www.antaranews.com/berita/1334126/inggris-kini-terjangkit-51-kasus-terkonfirmasi-virus-corona>
Baca juga:Menkominfo minta masyarakat agar tidak panik soal corona
<https://www.antaranews.com/berita/1334098/menkominfo-minta-masyarakat-agar-tidak-panik-soal-corona>*
Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Fardah Assegaf