Literatur menarik ttg sejarah dan perjuangan kaum buruh bersama rakyat.
Salam. Lusi.-

1. Jalan Ilmiah Meretas Tabu Komunisme di Indonesia.

JALAN PEDANG. Dalam sejarah republik, yang disebut pemberontakan itu
tak hanya dilakukan PKI. Ulama, tentara dan jenderal (ini yang paling
banyak), serta kaum intelektual, semua pernah memberontak dengan alasan
masing-masing.

Kekerasan juga bukan monopoli satu pihak. Kekejaman yang dilakukan
pasukan DI/TII di tanah Pasundan, atau sentimen SARA yang mewarnai
pemberontakan Qahhar Mudzakkar di Sulawesi, adalah sejarah yang sulit
dibantah jika kita mau membuka diri terhadap berbagai sumber informasi.

Apalagi jika berbicara reputasi pasukan NKRI di daerah konflik seperti
Aceh, Papua, Kalimantan di masa PGRS/Paraku, dan Timor Timur atas nama
“keutuhan bangsa” dan Pancasila.

Tak ada yang hitam putih dalam sejarah NKRI. Sejarah bangsa ini bukan
seperti dongeng antara yang jahat dan yang baik. Peri cantik melawan
setan busuk. Atau antara yang alim melawan yang batil.

Tapi dari sekian banyak kisah, hanya cerita PKI yang dipelihara Orde
Baru dan para pengikutnya hingga kini, sembari melakukan kekerasan demi
kekerasan dari Priok, Talangsari, hingga menculik dan menembaki
mahasiswa di Trisakti dan Semanggi untuk menghentikan reformasi.

Lalu dari sekian banyak ideologi atau gagasan yang melatarbelakangi
konflik itu, hanya komunisme yang dilarang dibicarakan. Ia satu-satunya
gagasan yang dianggap paling bengis.

Gagasan-gagasan dalam Islam yang menjadi salah satu dasar perjuangan
Daud Beureueh atau Kartosuwiryo tak pernah dilarang, karena memang
mustahil melarang-larang pemikiran dan gagasan seseorang. Seseorang
hanya bisa dihukum karena tindakan dan kejahatannya. Bukan isi
kepalanya.

Bahkan ketika teror demi teror bom meledak dari Bali hingga Sarinah
dengan korban yang makin sulit dihitung, tak ada yang membuat Tap MPR
untuk melarang “Islamisme”.

“Karena memang tindakan itu tidak mewakili Islam. Dan apakah seluruh
orang Islam harus dipersalahkan?”

Betul. Dan memang seharusnya demikian. Tapi lantas standar kita berbeda
ketika menyangkut komunisme. Kekerasan sebelum ’65 dan peristiwa 30
September yang notabene dilakukan pasukan Tjakrabirawa (sesama
tentara), harus ditanggung oleh ratusan ribu korban dan anak cucunya.
Bahkan hingga kini. Sampai ke simbol-simbol seperti “palu arit” atau
lagu “Genjer-Genjer” yang tak ada sangkut pautnya.

Meski tak pernah mempelajari apa itu komunisme, kebencian pada komunis
terus dipelihara sambil melakoni hidup di jalan kapitalisme yang penuh
riba, meminggirkan, dan tak sedikit memakan korban.

Rata-rata orang hanya sanggup menjelaskan apa itu komunisme tak lebih
dari tiga kata: kejam, pemberontak, dan ateis. Dua kata pertama jelas
bukan monopoli komunis. Sedangkan satu kata terakhir, salah total.

“Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di
dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan
komunis,” tulis Haji Misbach di koran “Soeara Moeslimin”1926.

Kalau mau ditambahkan dalih “tapi hanya PKI yang membunuh ulama”,
silahkan tanya kepada orang Aceh siapa yang membantai Tengku Bantaqiah
dan santri-santrinya di Beutong Ateuh, Juli 1999.

Di sisi lain, para jenderal yang anti-komunis, “Pancasilais”, dan dekat
dengan ulama itu, duduk rapi di jajaran kursi komisaris
perusahaan-perusahaan pertambangan dan perkebunan yang merusak hutan,
mengeringkan mata air, dan memiskinkan warga sekitar.

Doktrin sejarah 30 tahun di masa Orde Baru seolah telah menjadi sel-sel
hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan hanya perlu
satu-dua provokator untuk mengaktifkan sel-sel itu di kepala setiap
orang, terutama setiap menjelang peristiwa politik.

Tiga tahun kawan-kawan Watchdoc memfilmkan dan melakukan riset tentang
sejarah pemberontakan di Indonesia. Kami mendatangi saksi-saksi sejarah
yang terserak di tiga negara.

Serial dokumenter berdurasi masing-masing satu jam ini dikerjakan
dengan standar jurnalistik yang ketat dan pernah ditayangkan di jam
siaran utama (20.00 WIB) sebuah stasiun televisi tahun 2013-2014 lalu.
Lagu “Genjer-Genjer” kami pasang sebagai backsound tanpa ragu. Sebab
kami ingin meretas semua tabu.

Semua pihak berbicara dan diwawancarai.

Karena hak tayangnya bukan lagi di kami, kami tak dapat mengunggahnya
di Youtube seperti karya-karya Watchdoc yang lain. Meski, kami sangat
ingin memberi kontribusi tontonan kepada masyarakat agar bangsa ini
tidak terus menerus mudah dimanipulasi dan ditumbalkan.

Dandhy Dwi Laksono


https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=71&ved=2ahUKEwi91LWwnZPoAhXuUxUIHdE3DoI4RhAWMAB6BAgFEAE&url=http%3A%2F%2Fberikata.com%2F2018%2F10%2F02%2Filmiah-jalan-meretas-tabu-komunisme-di-indonesia%2F&usg=AOvVaw1hp45DRPkEZTL8qmIKD4bn



2. Buruh dan Rakyat Bersatu, Lawan Sistem Imperialisme

Gagasan, Kajian, Opini
#Buruh #Mayday

Berikata.com – Sistem ekonomi neoliberal, yang menjadi pilihan
kebijakan ekonomi pemerintah, benar-benar berdampak sangat buruk bagi
kaum buruh Indonesia. Kapitalisme neoliberal, dengan pencarian
keuntungan yang tanpa batas, telah berakibat pada kondisi kerja yang
buruk, tingkat kesejahteraan merosot, dan hak berserikat yang terus
dihambat.

Ada dua kebijakan neoliberal yang berdampak langsung terhadap kehidupan
kaum buruh, yakni pasar tenaga kerja yang lentur/fleksibel yang di
gagas pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2009 dan semakin
terbatasnya lapangan kerja produktif sebagai konsekuensi penerapan
ekonomi finansial yang bertumpu pada konsumsi. Kedua hal tersebut
bermuara pada kebijakan tenaga kerja murah dan ketimpangan UU no 6
Tahun 2011 Tentang ke imigrasian dan UU no 13 tahun 2003 Tentang Tenaga
Kerja. Semakin murah tenaga kerja, semakin besar nilai lebih yang
diambil dari kerja buruh, semakin besarlah keuntungan mereka,itulah
dasar dari Flexibel Labour Market(2004-Sekarang)

Pemerintah menjalankan semua ini demi iklim yang kondusif bagi
investasi asing, karena harus di akui bangsa ini sedang dalam kendali
atas negara negara imperialis. Dengan memposisikan dirinya sebagai
pencipta iklim yang kondusif bagi investasi, pemerintah terang-terangan
telah menempatkan dirinya sebagai pelayan kepentingan modal asing.

Pasar tenaga kerja yang lentur atau flexibel, yang terwujud dalam
sistem kerja kontrak dan outsourcing, menyebabkan kaum buruh berhadapan
dengan ketidakpastian kerja (rawan PHK), menurunnya posisi tawar buruh,
menurunnya upah riil, kewajiban perlindungan sosial yang diganti
asuransi sosial, pelemahan serikat buruh, dan lain-lain. Sedangkan
politik upah murah telah menekan kesejahteraan kaum buruh dan
menyebabkan mereka sulit memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia.

Di bagian lain, kaum buruh juga harus menyadari bahwa dampak neoliberal
tidak hanya merugikan mereka di lingkungan kerja, tetapi juga di
lapangan kehidupan sosial yang lebih luas. Akibat privatisasi layanan
publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain, kaum buruh makin
sulit memenuhi kebutuhan dasarnya.

Situasi ini juga dirasakan oleh sektor rakyat Indonesia lainnya: petani
dan masyarakat adat berjuang mati-matian menghalau investor asing yang
berusaha mencaplok tanah, sumber daya, dan ruang hidup mereka; kaum
miskin kota juga berjuang untuk menghalau investor yang hendak
menggusur rumah dan ruang kehidupan mereka; produsen kecil juga
berjuang mati-matian melawan serbuan produk dari negeri-negeri
kapitalis maju akibat liberalisasi perdagangan. Iklim itu muncul baru
baru ini lewat miskordinasi antar mentri kabinet joko widodo dengan
BUMN,yang mana sangat terlihat jelas bagaimana bobroknya sistem politik
kita tidak bisa mengakomodir buruh lokal dengan hasil alamnya,ketimbang
memasukkan produk bahan pokok dari luar negeri.

Sebagian argumentasi tak sampai disitu saja, kapital asing juga
mencaplok sumber daya alam dan aset nasional strategis kita. Akibatnya,
negara kehilangan kontrol terhadap sumber daya dan aset nasional
tersebut. Alhasil, apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa,
sebagaimana tercantum dalam pasal 33 UUD 1945, tidak terwujud. Negeri
kita kaya-raya, tetapi bangsa kita dimiskinkan dan dijadikan kuli di
negeri sendiri.

Ketergantungan pemerintah terhadap modal asing, yang kemudian didukung
dengan kebijakan pasar tenaga kerja yang lentur dan tenaga kerja murah,
adalah ciri dari imperialisme modern. 80 tahun yang lalu, melalui
pidatonya yang berjudul “Indonesia Menggugat”, Bung Karno sudah
menyebut empat ciri imperialisme modern: Indonesia sebagai penyedia
bahan baku, penyedia tenaga kerja murah, pasar bagi produk negeri
kapitalis maju, dan tempat penanaman modal asing. Empat ciri
imperialisme yang disebut Bung Karno itu sangat melekat dalam praktek
neoliberalisme saat ini.

Inilah problem pokok bangsa kita saat ini: imperialisme modern.
Imperialisme modern ini menyebabkan cita-cita kemerdekaan nasional
kita, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di lapangan
ekonom, gagal diwujudkan. Padahal, kemerdekaan nasional sejati merupakan
syarat dasar bagi bangsa kita untuk mewujudkan cita-cita masyarakat
adil dan makmur.

Bryan Pratama
Ketua BEM FH UM Jember.





Kirim email ke