-------- Forwarded Message --------
Subject: Utusan Khusus HAM Tiongkok Tegaskan Penjaminan HAM Sesuai dengan Keadaan Riil Masing-masing Negara
Date:   Thu, 12 Mar 2020 10:34:30 +0800
From:   ChanCT <[email protected]>
To:     GELORA_In <[email protected]>



 Utusan Khusus HAM Tiongkok Tegaskan


 Penjaminan HAM Sesuai dengan Keadaan Riil Masing-masing Negara

http://indonesian.cri.cn/20200311/44dec3c2-ecc1-bd8f-99d7-cda774209357.html
2020-03-11 13:15:01

Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB dalam sidangnya hari Selasa kemarin (10/3) melakukan debat umum mengenai laporan negara (country reports) hak asasi manusia. Utusan khusus Kementerian Luar Negeri Tiongkok untuk urusan HAM, Liu Hua menunjukkan, penjaminan HAM tidak sebatas pola Barat, setiap negara harus menempuh jalan yang sesuai dengan keadaan riil di negaranya masing-masing. HAM bukanlah paten yang dimiliki sejumlah kecil negara, lebih-lebih bukan alat politik atau label yang menandakan dirinya lebih unggul daripada yang lain.

Liu Hua menunjukkan, sejumlah kecil negara yang melakukan penuduhan tanpa alasan terhadap Tiongkok malah memiliki status HAM yang tidak terpuji. Dari diskriminasi ras, xenophobia hingga ujaran kebencian dan kejahatan kekerasan, terus meningkat di negara-negara tersebut. Penegakan hukum secara kasar dan pengawasan masif terhadap masyarakat juga tak jarang terjadi di sana. Negara-negara itu mempolitisasi HAM dan memaksakan “demokrasi Barat” kepada negara lain, dengan maksud mengintervensi dan menghalangi perkembangan negara lain.

Liu Hua menyatakan, dalam masalah Xinjiang, di dunia terdengar dua suara yang berbeda. Satu suara ialah, sejumlah kecil negara Barat menolak undangan Tiongkok untuk berkunjung ke Xinjiang dan terus menyebarluaskan rumor yang bermaksud jahat. Suara lainnya ialah, lebih dari 70 negara telah secara tegas menyatakan dukungannya atas kemajuan HAM dan kebijakan pemerintah Tiongkok di Xinjiang. Negara-negara itu berasal dari Asia, Afrika, Eropa dan benua Amerika, termasuk sejumlah negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI. Sebagian besar negara-negara itu telah mengirim personelnya untuk berkunjung ke Xinjiang dan dengan mata kepalanya sendiri telah menyaksikan fakta di Xinjiang. Siapa yang benar dan siapa yang berbohong terlihat secara kasatmata.

Tiongkok telah berkali-kali menegaskan, pemerintah Tiongkok melaksanakan serangkaian tindakan anti terorisme dan deekstremisme di Xinjiang, termasuk pembentukan pusat pelatihan keterampilan dan pendidikan yang justru bertujuan untuk menjaga keamanan Xinjiang dan melindungi hak-hak berbagai etnis di sana. Kebijakan itu telah mendapat dukungan luas masyarakat setempat. Saat ini, semua peserta kursus deekstremisme sudah lulus. Tiongkok berkali-kali menyatakan menyambut komisaris senior HAM PBB untuk berkunjung ke Xinjiang pada tahun ini.

Mengenai situasi Hong Kong, Liu Hua mengatakan, sejak bulan Juni tahun lalu, demonstrasi atau unjuk rasa yang terjadi di Hong Kong sudah jauh melampaui batas kebebasan demonstrasi, dan sudah berujung pada kekerasan yang melanggar hukum dan secara serius menginjak-injak tata hukum dan ketertiban sosial, sehingga dengan serius mengancam keselamatan jiwa maupun harta benda warga Hong Kong, bahkan telah menyentuh garis merah “satu negara dua sistem”.

Kirim email ke