-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/296655-di-balik-banjir-jakarta



Minggu 15 Maret 2020, 00:40 WIB

Di Balik Banjir Jakarta

Riana Septiyani, Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend
 
Di Balik Banjir Jakarta

Dok. Paribadi
Riana Septiyani, Staf Bahasa Media Indonesia

DUNIA tidak akan pernah berubah, kecuali dengan sejarah. Berbagai pergolakan 
yang kita alami sekarang dan usaha yang kita tempuh untuk lepas dari kekelaman 
masa lalu, tidak akan pernah tuntas tanpa melihat akar-akar dan sebab-sebab 
permasalahannya dalam rekaman sejarah. Demikian tulis Yusri Abdul Ghani 
Abdullah dalam buku Histografi Islam: Dari Klasik hingga Modern.

Berkaitan dengan kutipan di atas, bisa diartikan permasalahan yang hadir saat 
ini pasti berhubungan dengan permasalahan yang ada di masa lalu. Salah satu 
contohnya ialah permasalahan banjir yang kerap menemani warga Jakarta dan 
sekitarnya, dari beberapa tahun belakangan hingga akhir Februari tahun ini. 
Alih-alih pergi, banjir malah sempat merendam permukiman yang sebelumnya tidak 
pernah disinggahi.

Terlepas dari sistem drainase yang buruk, ruang terbuka hijau yang sedikit, 
hingga normalisasi sungai yang belum selesai, tidak ada salahnya apabila kita 
mengulik keadaan masa lalu yang menyebabkan mengapa banjir begitu setia dengan 
Ibu Kota.

Di sejumlah daerah di Jakarta sering kali ditemui penamaan tempat dengan awalan 
ci, seperti Cipayung, Cililitan, Cilincing, dan Cilangkap. Kata ci berasal dari 
bahasa Sunda (cai) yang berarti air. Mengapa memakai bahasa Sunda? Itu 
disebabkan wilayah Jakarta pada masa lalu masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. 
Penamaan daerah itu dengan bahasa Sunda merupakan salah satu bentuk eksistensi 
kerajaan tersebut.

Di lain sisi, penggunaan kata ci bukan tanpa alasan. Hal itu disebabkan  pada 
masa itu  Jakarta dikelilingi banyak sungai dan sungai merupakan jalur utama 
dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.

Misalnya, kata Cipayung. Pada suatu masa, di wilayah tersebut terjadi peristiwa 
air sungai meluap saat hujan besar. Peristiwa itu membuat banyak orang 
berdatangan untuk melihat sambil memakai payung. Oleh sebab itu, wilayah 
tersebut akhirnya dinamakan ‘Cipayung’. lain halnya dengan Cililitan. Cililitan 
diyakini berarti sungai yang ditumbuhi tumbuhan perdu lilitan kutu, berbahasa 
ilmiah Pipturus velutinus wedd.

Selain itu, kerap juga dijumpai nama tempat yang berawalan rawa, seperti Rawa 
Buaya, Rawa Terate, dan Rawamangun. Menurut KBBI, rawa berarti ‘tanah yang 
rendah (umumnya di daerah pantai) dan digenangi air, biasanya banyak terdapat 
tumbuhan air’. Penyebutan daerah Rawa Buaya berasal dari keyakinan penduduk 
setempat bahwa daerah itu dahulu merupakan sebuah rawa yang didiami banyak 
buaya. Adapun Rawa Terate berarti rawa yang dipenuhi tanaman bunga teratai 
(disebut terate dalam dialek bahasa Betawi).

Daerah Rawamangun diyakini berasal dari rawa-rawa yang dibangun (mangun) 
menjadi perumahan. Dahulu wilayah tersebut merupakan hutan dan rawa, tapi 
setelah masa perang Mataram, hutan dan rawa itu diubah menjadi perumahan.

Penamaan tempat-tempat berdasarkan peristiwa sejarah, kekhasan yang ada di 
wilayah tersebut (misalnya tumbuhannya, dll) merupakan kebiasaan yang sering 
dilakukan masyarakat masa lalu. Usaha untuk menyelidiki asal-usul nama sebuah 
tempat di suatu wilayah dikenal dengan sebutan toponimi. Dalam KBBI, toponimi 
adalah cabang onomastika yang menyelidiki nama tempat.

Dari penelusuran asal-usul nama beberapa wilayah yang ada di Jakarta tadi, 
dapat dipahami bahwa ternyata Jakarta sejak dulu memang wilayah yang 
dikelilingi banyak tempat penampungan air (rawa) dan aliran sungai. Sayangnya 
di masa kini, tempat penampungan-penampungan air itu malah beralih fungsi 
menjadi wilayah permukiman. Akibatnya sudah jelas, wilayah permukiman bekas 
penampungan air tersebut akhirnya selalu mengalami banjir saat musim hujan 
tiba. Ini juga menjadi bukti, peradaban dapat merusak ekosistem yang ada jika 
tidak dibarengi dengan kebijakan yang mengontrolnya.
 







Kirim email ke