-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/296849-diskriminasi-dan-kegagapan-pemeriksaan-covid-19



Minggu 15 Maret 2020, 21:54 WIB

Diskriminasi dan Kegagapan Pemeriksaan Covid-19

Rudy Polycarpus | Humaniora
 
Diskriminasi dan Kegagapan Pemeriksaan Covid-19

Antara
Petugas kesehatan mempersiapkan tempat tidur pasien ketika simulasi 
kesiapsiagaan di ruang isolasi di Rumah Sakit Pelindo Husada Citra (PHC)
 

STATUS positif Covid-19 yang menjangkiti Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi 
membuat gelisah seluruh jurnalis yang sehari-hari meliput di Istana 
Kepresidenan, Jakarta.

Risiko para wartawan ini terkena virus korona meningkat karena Budi Karya 
tercatat masih menghadiri sejumlah rapat dengan Presiden Joko Widodo dalam dua 
pekan terakhir.

Setelah berkoordinasi dengan juru bicara pemerintah untuk penanganan korona 
Achmad Yurianto, Sabtu (14/3), para jurnalis disarankan mengikuti tes 
pemeriksaan korona di RS Persahabatan, Minggu (15/3). Ada sekitar 40 jurnalis 
yang berisiko tertular dari Menhub menyambangi RS Persahabatan sejak pukul 
08.00 pagi.

 

Baca juga: Sore ini, Jokowi dan Jajaran Menteri Dites Covid-19
 

Namun, inisiatif mereka mengecek kesehatan ternyata berbuah hampa. Pasalnya, RS 
Persahabatan yang menjadi rujukan penanganan korona tidak mampu memeriksa 40 
calon pasien sekaligus. Padahal, sebagian wartawan datang dengan kondisi pilek, 
demam dan sesak nafas.

Setelah terlunta-lunta dan dijanjikan akan menjalani pemerikaaan, akhirnya 
kepastian datang dari Direktur Utama RSUP Persahabatan Rita Rogayah sekiatar 
pukul 12.00 siang. Pemeriksaan tidak bisa dilakukan hari ini.

"Kita baru tahu pagi ini ada wartawan yang mau cek. Kita ga bisa tiba tiba 
siapin alat buat cek 30 orang. Kami rapat dulu," ujar DP, salah satu jurnalis 
online menirukan pernyataan Rita.


DP dan rekan-rekannya kecewa karena di tengah status pandemi Korona, rumah 
sakit tergagap-gagap melayani pemeriksaan. Padahal, jumlah pasien positif 
korona sudah mencapai 117 orang per hari ini dan akan terus bertambah.

"Padahal wartawan sudah insiatif periksa jadi pemerintah tidak perlu tracing 
lagi. Respons pemerintah kaya gini amat," ujar DP.

Kekecewaan senada diungkapkan NO, seorang wartawan cetak. Ia mempertanyakan 
kesiapan fasilitas kesehatan menanggulangi wabah tersebut. Padahal, Presiden 
Joko Widodo menyatakan sudah menambah fasilitas kesehatan yang menjadi rujukan 
penanganan korona menjadi 359 rumah sakit.

"Ini sebenarnya cuma semakin membuktikan bahwa penanganan covid autopilot. 
Semoga rakyatnya pada menjaga kesehatan baik-baik. Sembuh sendiri, kalo 
meninggal ya sudahlah. Karena rumah sakit dll gak siap," tandasnya.

Baca juga: RS Persahabatan Telantarkan Wartawan yang Kontak dengan Menhub

 

Sementara, pada hari yang sama anggota Kabinet Indonesia Maju menjalani 
pemeriksaan virus korona di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot 
Subroto, Jakarta. Mereka antara lain, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Dalam 
Negeri Tito Karnavian, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI Johnny G 
Plate, menko Polhukam Mahfud MD,Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang 
Brodjonegoro hingga Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan 
Nasional Sofyan Djalil. Sebagian menteri menjalani pemeriksaan di tempat lain.

DP menyayangkan ketimpangan prioritas pemeriksaan yang dialami pejabat publik 
dan yang dialami rekan-rekan seprofesinya. "Kalau di Jakarta saja tidak 
fasilitas kita tidak siap, bisa dibayangkan dengan yang terjadi di daerah. 
Pasti jauh lebih buruk dari hari ini," pungkasnya. (OL-8)
 







Kirim email ke