-------- Forwarded Message --------
Subject:        Mengapa Kebijakan Karantina AS Dihujani Kritikan
Date:   Thu, 19 Mar 2020 12:13:41 +0800
From:   ChanCT <[email protected]>
To:     GELORA_In <[email protected]>



 Mengapa Kebijakan Karantina AS Dihujani Kritikan

http://indonesian.cri.cn/20200317/b76d871f-227f-54fc-bbc9-448988a6e41f.html
2020-03-17 17:18:33

图片默认标题_fororder_1

Harga saham di bursa Amerika Serikat hari Senin (16/3) ditutup berguguran menyusul circuit breaker yang dihidupkan untuk ketiga kalinya dalam seminggu, dengan indeks Dow Jones jatuh hampir 13 persen yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kemarin sore Presiden AS Donald Trump dalam jumpa pers Gedung Putih mengakui ekonomi AS kemungkinan mengalami resesi. Ini adalah untuk pertama kalinya Trump mengakui wabah virus corona jenis baru alias Covid-19 berpotensi membawa dampak negatif bagi ekonomi AS. Akan tetapi, saat memberi penilaian atas penampilannya dalam penanganan wabah, Trump malah menilai dirinya dengan angka penuh.

图片默认标题_fororder_3

Balai Riset Tiongkok dan Dunia di bawah naungan/China International Press Group Ltd/(CIPG)melakukan penelitian terhadap 200 ribu laporan media utama AS. Dari hasilnya ternyata tiga topik utama adalah “jumlah kasus Covid-19 dan metode statistik”, “kekhawatiran penularan secara masif dan komunal” dan “kebijakan penanganan yang tidak memadai telah menambah kesulitan pengendalian wabah”. Hasil Big Data menunjukkan, kritik masyarakat terutama berfokus pada sikap pemerintah yang acuh tak acuh, ketidakhadiran kepemimpinan pemerintah serta keterlambatan respons.

图片默认标题_fororder_2

Yang mengejutkan ialah Donald Trump sama sekali tidak mengindahkan kritikan masyarakat, malah terburu-buru melakukan pemfitnahan terhadap negara lain. Pada Senin malam waktu setempat, Trump diakun Twitternya menulis “AS akan dengan kuat mendukung sektor-sektor yang paling parah terdampak ‘Chinese Virus’”, dengan sengaja memviralkan istilah “Virus Tiongkok” di internet.

图片默认标题_fororder_4

Sebelumnya Kepala CDC AS Redfield secara personel mengakui bahwa dari 200 ribu kasus Kematian karena influenza yang merebak di AS sejak 29 September lalu, sejumlah kasus di antaranya kemungkinan meninggal karena penyakit Covid-19. Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga berkali-kali menyatakan, penamaan virus baru harus menghindari referensi ke lokasi geografis yang bersifat diskriminatif.

图片默认标题_fororder_5

Tindakan Trump yang secara terang-terangan “menimpakan kesalahan” pada negara lain segera mengundang kritik dan kecaman luas para pengguna internet. Seorang dokter warga AS keturunan Tionghoa merespons cuitan Trump dengan kata-kata sebagai berikut: “Saya selalu merasa sangat takut ketika Trump mengalihkan fokus masyarakat dari penanganan epidemi menjadi rasialisme dan xenophobia, bahkan mengklaim Covid-19 sebagai ‘Chinese Virus’. Mengingat Presiden AS secara sadar memilih jalan kebencian yang gelap gulita, lantas kita sebagai satu negara akan terjerumus dalam kancah perkara yang mendalam.” Komentar tersebut sempat mendapat 100 ribu lebih “likes” dari warganet.

Komentar lain atas cuitan Trump langsung menjuluki Trump sebagai “racist dickhead” dan memperoleh 50 ribu kali “likes”.

Big Data menunjukkan “keraguan dan kekhawatiran” adalah sentimen arus utama yang muncul dalam laporan media utama AS terkait penanganan wabah Covid-19. Banyak laporan meragukan kebijakan pemerintah dan mempertanyakan pemerintah mengapa terjadi kelangkaan kit deteksi dan mengapa begitu terlambat dalam melaksanakan tes laboratorium.

Kelangkaan kit deteksi mengakibatkan banyak orang tidak bisa dites tepat pada waktunya. Mengapa jumlah tes yang dilakukan di AS sangat sedikit jika dibandingkan negara lain? Hasil survei menunjukkan, pemerintah AS sejak semula tidak menaruh perhatian yang cukup pada wabah kali ini. Pusat pengendalian wabah alias CDC juga kurang memadai dalam menangani epidemi Covid-19. Kesemua itu menjadi unsur utama yang menghambat pengetesan pada pasien yang dicurigai di AS. Keadaan kekurangan pengetesan baru diperbaiki setelah sejumlah lembaga komersial dilibatkan pada akhir bulan lalu.

图片默认标题_fororder_6

Kebijakan pemerintah adalah topik lain yang menjadi fokus perhatian media dalam peliputan wabah kali ini. “Simpang siur informasi”, “kekacauan”, “Presiden bertindak nekat”, dan “tiap negara bagian bertindak sendirian tanpa komando tunggal” adalah konten yang banyak muncul dalam laporan media AS baru-baru ini.

Washington Post dalam laporannya edisi 7 Maret lalu menunjukkan, hanya dalam satu bulan, pemerintah Trump telah 14 kali mengeluarkan informasi yang simpang siur dan bertentangan dengan fakta.

Twitter merupakan media sosial yang paling populer di AS. Big Data menunjukkan, di medsos ini terdapat banyak konten yang penuh dengan sentimen kemarahan dan tidak puas, atau dengan kata lain, banyak komentarnya diliputi nuansa negatif yang meragukan atau menyindir kegagalan pemerintah AS menangani wabah.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, kebijakan pembatasan ketat yang diambil pemerintah Tiongkok telah menyediakan peluang bagi dunia untuk mengantisipasi penularan Covid-19.

图片默认标题_fororder_7

Akan tetapi, dilihat dari respons masyarakat dan media AS, pemerintah AS sepertinya telah menyia-nyiakan peluang yang diciptakan Tiongkok. Dari sikapnya yang begitu tenang, dunia mau tak mau harus bertanya, apakah memang epidemi virus corona jenis baru jauh-jauh sebelumnya sudah merebak di AS, tapi selalu ditutup-tutupi AS dengan menyebutnya sebagai epidemi influenza?

Virus tidak mengenal batas negara. Keamanan kesehatan publik adalah tantangan bersama yang dihadapi umat manusia. Di hadapan tantangan kali ini, setiap negara hendaknya melepaskan perselisihan, bergandengan tangan dan maju bersama, memenangkan perang melawan epidemi Covid-19 melalui kerja sama internasional.

Kirim email ke