-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1782-tuhan-tidak-gaptek


Sabtu 21 Maret 2020, 05:10 WIB

Tuhan tidak Gaptek

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial
 
Tuhan tidak Gaptek

Dok. MI/Ebet
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group .

PERTARUNGAN ilmu pengetahuan dan agama sudah berusia uzur.

Dalam tradisi Islam, ilmu pernah bertarung dengan teologi Jabariah. Teologi 
Jabariah yang lahir pada abad ke-2 Hijriah ini mengajarkan fatalisme atau 
predestination. Fatalisme ialah ajaran bahwa semua yang terjadi di muka bumi 
ini atas kehendak-Nya. Manusia tidak bisa mengubah keadaan kecuali pasrah, 
menerima begitu saja serupa adanya. Bila, misalnya, pejabat penganut Jabariah 
merampok duit rakyat dan ditanya KPK mengapa korupsi, dia akan menjawab, "Tuhan 
telah menetapkan aku sebagai koruptor."

Filsafat, ilmu segala ilmu, mengajarkan pilihan bebas, bahwa manusia merdeka 
memilih dan menentukan yang terbaik buat diri dan sekitarnya. Ilmu agama juga 
mengajarkan bahwa Tuhan memberi kemerdekaan kepada manusia untuk memilih, meski 
bukan hal sulit bagi-Nya untuk menjadikan manusia sebagai presiden atau rakyat, 
dokter atau pasien, KPK atau koruptor, pengemudi ojek daring atau pengemudi 
ojek pangkalan.

Dalam tradisi kristianitas, pertarungan ilmu pengetahuan dan agama terjadi 
ketika ilmuwan Galileo Galilei berhadapan dengan otoritas gereja. Pada 1633, 
Galileo disidangkan gereja karena berteori bumi itu bulat. Gereja dan umat kala 
itu meyakini seyakin-yakinnya, haqul yaqin, bumi itu datar. Galileo dipaksa 
mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman tahanan rumah. Galileo di-lockdown atau 
dikarantina di rumah bukan karena virus korona, melainkan karena virus 
keyakinan agama.

Kita kini menyaksikan kembali pertarungan agama dan ilmu pengetahuan di medan 
pertempuran melawan penyebaran virus korona. Pertarungan itu tergambar ketika 
pemerintah dan otoritas agama membatasi ibadah demi menahan laju penyebaran 
korona.

Yang dibatasi sesungguhnya bukan ibadah, melainkan kerumunannya. Ilmu 
pengetahuan mengatakan virus korona menyebar atau menular ketika terjadi kontak 
fisik dan sosial terlampau dekat. Salah satu upaya menghadang penyebaran virus 
korona ialah dengan menjaga jarak sosial, social distancing.

Fakta menunjukkan virus korona di Singapura dan Korea Selatan berawal dari 
kebaktian di gereja. Di Iran, virus korona berjangkit pertama kali di Qom, kota 
suci tempat berziarah penganut Syiah. Tiga warga negara Indonesia asal Sumatra 
Utara positif terjangkit korona setelah mengikuti tablig akbar di Malaysia.

Oleh karena itu, yang dibatasi ialah ibadah yang berkerumun, seperti salat 
Jumat atau kebaktian. Dibatasi bukan dilarang sama sekali, melainkan ditunda 
atau diganti dengan mekanisme ibadah yang meniadakan kerumunan. Salat Jumat 
diganti salat zuhur. Kebaktian di gereja diganti dengan kebaktian online atau 
daring. Toh, Gusti Allah bukan cuma 'mboten sare,' tidak tidur, melainkan juga 
'mboten gaptek,' tidak gaptek. Kata Pendeta Gomar Goeltom, "Allah kita bukanlah 
Allah yang gagap teknologi."

Akan tetapi, masih banyak orang yang mengatasnamakan agama mencoba melawan ilmu 
pengetahuan. Mereka serupa penganut teologi Jabariah yang fatalistis itu.

Coba simak status seseorang di laman Facebook-nya: 'Tetaplah berjamaah di 
masjid!! Jangan mau ditakut-takuti dengan ancaman virus Corona. Masjid adalah 
rumah Allah SWT dan virus Corona adalah ciptaan Allah SWT. Di sini logika 
keimanan kita diuji. Kalau kalian bener2 beriman untuk apa takut? Allah SWT 
yang mengatur semua itu. Dan apabila ajal kita dijemput di masjid... insha 
Allah akan dimatikan dalam keadaan Husnul Khatimah'.

Wali Kota Prabumulih Ridho Yahya tidak bikin keputusan pegawai kantor wali kota 
bekerja di rumah serta tidak meliburkan sekolah. Ia beralasan, "Namanya 
penyakit dari Tuhan. Seperti kita tidak percaya lagi kepada Tuhan. Toh, 
penyakit itu diberi oleh Tuhan, dicoba oleh Tuhan."

Masih banyak jemaat Gereja Katedral, Jakarta, yang menghadiri misa atau ibadah 
Minggu, 15 Maret 2020. Mereka beralasan tetap sehat. Mereka seperti tidak 
khawatir karena Tuhan menjamin kesehatan dan keselamatan mereka.

Agama sejak lama sesungguhnya telah mengakomodasi dan mengakui kebenaran ilmu 
pengetahuan. Agama dalam banyak hal sejalan dengan ilmu pengetahuan. Agama 
telah melakukan 'gencatan senjata' dengan ilmu pengetahuan. Pemuka agama atau 
ulama telah berdamai dengan pemuka ilmu atau ilmuwan.

Meski baru pada 1990-an atau lebih dari 350 tahun kemudian gereja mengakui 
kebenaran teori bumi bulat yang dibikin Galileo dan merehabilitasi namanya. 
Gereja tidak lagi percaya bumi itu datar. 'Kaum bumi datar' menjadi julukan 
bagi kaum beragama yang tidak mengakui kebenaran ilmu pengetahuan.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengatakan MUI telah meminta 
pendapat ahli terkait dengan penyebaran virus korona sebelum menerbitkan fatwa 
anjuran mengganti salat Jumat dengan salat zuhur di rumah. Anwar Abbas 
mengatakan MUI akan mencabut fatwa tersebut bila ada virolog atau ahli virus 
yang bisa meyakinkan bahwa berkumpul di masjid tidak berpotensi menyebarkan 
virus korona.
 






Kirim email ke