Kalau boleh saya tambahkan, apa yang diajukan jurubicara Kemlu RRT, Zhao
Lijian di twiter nya, bahwa Amerika harus memberikan penjelasan secara
transparan pada dunia, siapa kasus virus Corona pertama di Amerika,
kapan ditemukan dan dirawat di RS mana! Yang sampai sekarang BELUM
dibuka sejelas-jelasnya pada dunia, ... Jadi, AS yang selalu menuding
Tiongkok selama ini menutup-nutupi informasi, justru pemerintah AS
sendirilah yang selama ini menutup informasi pada dunia!
Belum lagi harus menelusuri dengan lebih cermat, merebaknya wabah flu di
AS sejak pertengah tahun yl. sampai begitu banyak warga terjangkit, ada
berita menyatakan lebih 36 juta warga terjangkit dan kematian lebih 14
ribu orang sampai bulan Februari 2020! Kenapa flu biasa saja BISA
akibatkan kematian sampai belasan ribu tapi pemerintah AS diam saja dan
dunia TIDAK menjadi heboh? Padahal sistem pengobatan AS sudah begitu
canggih, angka kematian sebegitu tinggi tidak juga diteliti apa sebab
sesungguhnya??? Sedang pejabat CDC AS setelah terdesak, akhirnya juga
mengakui diantara yang mati dibilang akibat flu itu ada kasus virus
Corona! Lalu kapan itu virus Corona merebak sesungguhnya dan ada berapa
% dari yang lebih 14 ribu mati dianggap flu biasa saja itu???
Sampai sekarang juga BELUM ada kejelasan kenapa tiba-tiba bulan Agustus
2019, *fasilitas utama bio-lab militer AS di Fort Detrick, Maryland,
ditutup???*
Salam,
ChanCT*
*
-------- Forwarded Message --------
Subject: [GELORA45] Another conspiration theory.
Date: Sun, 22 Mar 2020 23:40:32 +0000 (UTC)
From: Al Faqir Ilmi [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>
COVID-19: Skenario
INPOLITIK <https://ndaruanugerah.com/category/politik/>
*Oleh: Ndaru Anugerah*
Apakah kita perlu panik tingkat dewa dalam menyikapi COVID-19?
Mungkin pernyataan Menkes Terawan yang menyatakan bahwa COVID-19 akan
sembuh dengan sendirinya, patut dijadikan rujukan, walaupun terkesan sepele.
Kenapa?
Pertama, Terawan adalah sosok dokter, dan kedua beliau sekaligus sosok
militer yang tahu pasti skenario apa yang sesungguhnya sedang dijalankan
lewat _*panic global*_ yang dipicu oleh munculnya COVID-19 tersebut.
Lewat tulisan ini, sebagai rasa peduli saya kepada bangsa ini, saya akan
coba mengulas secara lengkap tentang COVID-19 ini dari awal hingga
bagaimana kemungkinan skenario akan dikembangkan ke depannya.
Karena panjangnya informasi yang akan saya sajikan, terpaksa tulisan ini
akan saya potong menjadi 2 bagian.
Pada bagian pertama saya akan mengulas tentang skenario awal dan asal
muasal COVID-19. Pada tulisan kedua nanti, saya akan analisa bagaimana
kemungkinan skenario akan berlanjut.
AS, Juli 2019. Seorang anak muda di Baltimore sana, tengah mengisap
rokok elektrik disaat santai. Tanpa disadari, setelah menghisap beberapa
kali, sang pemuda lantas tersungkur dan sesak nafas.
Begitu dilarikan ke rumah sakit, ternyata sang pemuda naas tersebut
divonis telah mengalami pneumonia akut akibat mengkonsumsi rokok elektrik.
Kejadian ini cepat menyebar ke 22 negara bagian di AS dengan total
kematian 193 orang. Dan penyebab kematian menurut AMA (American Medical
Association) adalah aktivitas vaping dari rokok elektrik.
Namun para ilmuwan AS mengatakan bahwa kalo rokok elektrik nggak akan
mengakibatkan pneumonia yang berujung kematian demikian cepat.
Kemungkinan yang paling masuk akal adalah kematian itu dipicu oleh
sejenis virus yang mampu menginfeksi sistem paru-paru manusia.
Dengan kata lain, virus corona-lah yang paling mungkin dituding sebagai
penyebabnya.
Sebelum timbulnya pandemi tersebut di seantero Amrik, fasilitas utama
bio-lab militer AS di Fort Detrick, Maryland, ditutup dengan tiba-tiba
oleh CDC dengan alasan yang tidak dijelaskan.
Selidik punya selidik, salah satu karyawan CDC telah tewas akibat
terserang virus Corona. Padahal Directur CDC, Robert Redfield sebelumnya
mati-matian lewat keterangan pers-nya, bilang bahwa penyebab kematian
staf-nya adalah flu Amerika.
Flu Amerika palalu peyang!
Dan berdasarkan data, yang ditenggarai sebagai Flu Amerika tersebut
telah menyebabkan kematian sekitar 10 ribu orang di AS per Agustus 2019
yang lalu. Apakah flu Amerika disebabkan virus corona? Entahlah…
Satu yang pasti, penutupan pusat penelitian senjata biologis di Fort
Detrick tersebut jelas menimbulkan kecurigaan internasional.
Kenapa proses penutupannya tanpa penjelasan? Kenapa juga semua laporan
yang berkaitan dengan aktivitas di Fort Detrick dihancurkan oleh CDC
tanpa sisa sedikitpun?
Apalagi, kasus pandemi akibat vaping rokok elektrik, muncul ke permukaan
nggak lama setelah penutupan fasilitas bio-lab tersebut.
Tanggal 18 – 27 Oktober 2019, bertempat di Wuhan, berlangsung event
internasional berjudul Conseil Intenational du Sport Militaire (CISM)
alias Military Word Games. Dalam ajang olimpiade militer dunia tersebut,
AS mengirimkan 200 personel militernya untuk berlomba.
Event ini berakhir, tepat 2 minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Dan 2
minggu adalah masa inkubasi virus Corona.
Mungkinkah, US Army menyeludupkan virus tersebut ke Wuhan?
Pada saat yang bersamaan dengan ajang CISM, berlangsung event 201 yang
digelar di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut
John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland AS.
Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates
Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum
(WEF).
Apa isi ajang tersebut?
Simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019.
Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia
dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.
Anehnya, simulasinya kok pakai nama yang sama dengan nCov-2019 sebelum
berganti nama menjadi COVID-19 saat ini? Apakah hanya kebetulan belaka?
Tidak lama berselang, tibalah saat yang ditunggu-tunggu.
China bersiap merayakan hari raya Imlek. Hari yang sangat penting bagi
orang China, karena saat tersebut orang biasanya berbondong-bondong
pulkam untuk merayakan hari raya bersama keluarga tercinta.
Sialnya, wabah Wuhan melanda dan cepat tersebar justru ditengah
keramaian hiruk pikuk orang. Imlek yang seharusnya dirayakan penuh
kegembiraan, menjadi gagal total. Dan China nggak lama kemudian
menerapkan status lockdown sebagai langkah antisipasi.
Dan China yang tengah leading saat trade-war digelar dengan Amerika,
dipaksa mundur sejenak. Menurut kaca mata intelijen, siapa yang
diuntungkan dari suatu peristiwa, dialah sosok dibalik peristiwa tersebut.
*Sebenarnya, darimana asal muasal COVID-19?*
Kristian Andersen seorang ahli biologi evolusi dari Scripps Research
Institute, telah menganalisa urutan COVID-19 untuk merunut dari mana
asal virus tersebut. Berdasarkan temuannya, dari 27 turunan virus
Corona, ternyata berasal dari 1 leluhur yang sama. (25/1)
Dan menurut para peneliti Jepang yang dipublikasi oleh televisi Asahi
pada Februari lalu, mereka mengklaim bahwa virus Corona awalnya berasal
dari AS dan bukan dari China.
“Sebanyak 14.000 kematian di AS yang katanya disebabkan oleh influenza,
kemungkinan besar justru disebabkan oleh virus Corona,” begitu bunyi
siaran pers-nya.
Ini jadi masuk akal, karena hanya AS lah yang memiliki induk alias
‘batang pohon’ dari semua 27 turunan virus Corona di seluruh belahan
dunia. Tak terkecuali virus Corona di Wuhan, China.
Dan semua turunan itu dikembangkan di bio-lab militer AS Fort Detrick
yang telah ditutup oleh CDC pada Juli 2019 lalu.
Bagaimana skenario akan dijalankan ke depannya?
COVID-19: Vaksinasi dan Uang Digital
Pada bagian pertama tulisan, saya sudah ungkapkan tentang asal muasal
dan skenario panic global yang dimainkan lewat COVID-19 ini.
Skenario panic global akan memunculkan kekacauan dan juga keputusasaan.
Dan menurut rumusannya, orang yang panik akan lebih mudah dimanipulasi
oleh pihak yang dari awal merencanakan agendanya.
Siapa whistle blower dari panic global ini?
Tak lain adalah badan kesehatan dunia, tepatnya Tedros Adhanom
Ghebreyeus sebagai Sekjen WHO saat ini. Tanpa pikir panjang, setiap
negara ditekan habis-habisan dengan harapan segera menetapkan status
tanggap darurat atas pandemi global COVID-19.
Siapa Tedros? Pada lain tulisan saya akan mengulasnya.
Padahal status tanggap darurat atas pandemi global COVID-19 jelas
mengada-ada.
Kenapa?
Pertama, status tersebut hanya mungkin diterapkan jika dan hanya jika,
tingkat kematian akibat infeksi telah mencapai angka lebih dari 12%.
Mari kita lihat datanya.
Berdasarkan data yang dirilis oleh John Hopkins University, kasus
COVID-19 telah mencapai 156.112 kasus di seluruh dunia (total 141
negara), dengan 73.955 orang berhasil recover dan 5.829 orang mati
(15/3). Artinya, tingkat kematiannya hanya 3,7%.
Di benua Eropa, bahkan tingkat kematiannya hanya 0,4%, dengan tingkat
kematian terbesar ada di Italia yang mencapai sekitar 6,3%. Kenapa
demikian banyak angka kematian di Italia? Karena Italia adalah negara
kedua di Eropa yang menandatangani agreement dengan China lewat proyek
BRI-nya.
Bahkan China, tempat dimana COVID-19 muncul ke permukaan, disaat peak
season-nya, tingkat kematian hanya menyentuh angka 3%. Masih jauh dari
angka 12%.
Dan yang kedua, para ahli biotek China dan Jepang berkali-kali
mengatakan bahwa COVID-19 generasi pertama yang menghantam China dan
negara-negara sekitarnya (Korea Selatan, Jepang, Hong Kong) serta korban
yang terinfeksi dibelahan dunia lainnya, 99,9% merupakan genom Mongoloid.
Nah kalo China yang bergenom Mongoloid, yang awalnya disasar COVID-19
kini telah pulih, (karena mereka mengkonsumsi obat yang disebut
Interferon Alpha 2B (IFNrec) yang didatangkan khusus dari Kuba), ngapain
juga dunia harus panik plus pakai acara lockdown segala?
Ini artinya, status yang disematkan Tedros atas COVID-19 jelas
mengada-ada alias lebay.
Apakah Tedros sebagai peniup pluit nggak punya agenda terselubung
dibalik upayanya membuat situasi dunia panik? Tentu sebaliknya, Rudolfo.
Inilah yang akan saya ulas pada tulisan kedua ini.
19-25 September 2019. Bertempat di New York sebuah aliansi yang bernama
ID2020 yang disponsori oleh World Economic Forum, mengadakan Konferensi
Tingkat Tinggi tentang Dampak Pembanguan Berkelanjutan dengan tema:
“Rising to the Good ID Challenge”.
Nah hasil pertemuan tersebut kembali dimatangkan di Davos, Swiss pada
Januari 2020 yang lalu.
Apa isi kesepakatan tersebut?
Mereka akan mengeluarkan platform identitas digital di seluruh dunia.
Dan Bangladesh telah ditunjuk sebagai negara perintis yang akan
menerapkan program tersebut pada tahun 2020 ini.
Saat WHO mengeluarkan status darurat pandemi global, apa kira-kira yang
mungkin dilakukan sebagai antisipasinya? Tak lain adalah upaya vaksinasi
global.
(Makanya, dalam analisa saya terdahulu, vaksin COVID-19 memang sejatinya
sudah ada, tinggal dikeluarkan saja pada waktunya nanti.)
Vaksinasi global ini akan bersifat memaksa kepada semua orang karena
status gawat daruratnya tadi. Kalo perlu pakai bantuan pihak berwajib
atau kalo perlu militer, sekalian. Yang nggak mau divaksinasi, maka
harus siap dijebloskan ke penjara atau didenda, karena telah melanggar
UU darurat.
Dan kalo sudah bicara vaksinasi global, siapa yang diuntungkan secara
ekonomis dengan proyek dunia tersebut? Tak lain adalah Big Pharma dan
GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunisation). Siapa mereka, saya
pernah mengulasnya.
Mungkin kalo kita yakin bila yang disuntikkan nanti hanya vaksin
COVID-19 doang, kita bisa mahfum. Tapi kalo ada material yang lain?
Misalnya vaksin tersebut diberikan dengan tujuan terselubung yaitu untuk
kontrol populasi dunia yang mulai nggak terkendali jumlahnya.
Dimasa depan, tiba-tiba muncul penyakit misterius yang bisa
mengakibatkan orang-orang mati mendadak atau kejadian dimana para wanita
kemudian mendadak mandul tanpa hal yang bisa dinalar akal sehat.
Kita patut curiga, mengingat Bill Gates merupakan seorang penyokong
aliran kontrol over populasi.
Hal ini jadi klop saat Aliansi ID2020 merekomendasikan vaksinasi sebagai
platform identitas digital.
Teknisnya?
Yang paling mungkin adalah bersamaan dengan proses vaksinasi tersebut,
chip nano juga disuntikkan pada tubuh manusia. Chip nano inilah yang
kelak digunakan sebagai penanda digital dengan sistem biometrik.
Tujuannya apalagi selain kontrol atas data pribadi orang diseluruh
dunia. Dan yang terlebih penting adalah kontrol atas uang digital yang
semuanya akan terkoneksi lewat digital ID tadi.
Jadi kalo ada orang yang berani bertindak menentang arus mainstream,
maka virus dorman yang telah disuntikkan lewat vaksinasi tadi, akan
diaktivasi dan orang tersebut bisa mati seketika. Atau mungkin juga
rekening korannya di bank diblokir sehingga dia nggak bisa ngapa-ngapain
lagi.
Jangan heran bila Dr. Tedros lewat WHO jauh-jauh hari sudah
mengumandangkan seruan penggunaan uang digital sebagai pengganti uang
konvensional.
“Penggunaan uang (terutama uang kertas) dapat meningkatkan penyebaran
virus Corona,” begitu kurlebnya.
Sampai sini paham ya, skenario yang mungkin dijalankan ke depannya.
Makanya, saya berkepentingan untuk memberi dukungan moril buat Jokowi
untuk menentang upaya WHO untuk menetapkan status gawat darurat pandemi
COVID-19. Dengan menetapkan status tersebut, maka akan membuka jalan
badan kesehatan dunia tersebut untuk mengobok-obok Indonesia.
Ada baiknya pakde justru menggandeng China yang sudah berhasil keluar
dari jebakan batman yang dibuat oleh Amrik. Setidaknya, dengan merapat
ke China, langkah antisipasinya sudah berada pada jalur yang tepat.
Hopefully, this disaster will be overcome soon.
Salam Demokrasi!!
(Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)
Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone
<https://overview.mail..yahoo.com/?.src=iOS>