*Kalau negara pincang, maka bisa jadi rakyat lumpuh*.

https://www.suara.com/tekno/2020/03/24/092840/penanganan-virus-corona-ilmuwan-dunia-sebut-indonesia-mengkhawatirkan?utm_source=izooto&utm_medium=notification&utm_campaign=terpopuler


*Penanganan Virus Corona, Ilmuwan Dunia Sebut Indonesia Mengkhawatirkan*

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami

Selasa, 24 Maret 2020 | 09:47 WIB

[image: Penanganan Virus Corona, Ilmuwan Dunia Sebut Indonesia
Mengkhawatirkan]

Peta sebaran virus corona Microsoft. (bing.com/covid)

*Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling
menkhawatirkan.* *Suara.com
- *Meskipun obat virus corona (COVID-19) diklaim telah berhasil ditemukan,
para *ilmuwan* <https://www.suara.com/tag/ilmuwan> di seluruh dunia masih
terus menyoroti cara penanganan, khususnya Asia Pasifik. Dari pantauan para
ilmuwan dunia, Indonesia dinilai memiliki *penanganan virus corona*
<https://www.suara.com/tag/penanganan-virus-corona> terburuk.

"Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia yang paling menkhawatirkan.
Indonesia memiliki populasi yang sangat besar namun birokrasi yang tidak
rapi. Penanganan krisis yang buruk di Indonesia akan membuat negara
terpapar semakin buruk," ujar Dosen Griffith University Lee Morgenbesser,
seorang ahli dalam politik Asia Tenggara, dilansir laman *smh.com
<http://smh.com>*, Selasa (24/3/2020).

Sementara itu, Profesor virologi Universitas Queensland, Ian Mackay
menyoroti beberapa tanda peringatan yang datang dari Indonesia. Peringatan
itu memberi sinyal bahwa situasi di Indonesia bisa jauh lebih buruk
daripada jumlah kasus yang diekspos ke publik.

"Ketika Anda melihat banyak kematian dalam waktu singkat, seperti yang
terjadi, itu menunjukkan ada beberapa kasus selama beberapa waktu. Kami
juga telah melihat banyak pelancong yang terinfeksi keluar dari Indonesia
dan itu masalah lain karena mereka hanya belum cukup diuji," ucap Mackay.

Tingkat kematian di Indonesia saat ini sekitar delapan persen dari kasus,
jauh lebih tinggi daripada rata-rata internasional, meskipun ini mungkin
hanya mencerminkan sejumlah kecil tes yang dilakukan secara proporsional.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah menyangkal penyebaran virus selama
berminggu-minggu. Indonesia telah menguji sekitar 1.500 orang dari 270 juta
populasi, angka yang tidak sebanding jika dibandingkan dengan lebih dari 80
ribu orang yang diuji di Australia dan 250 ribu orang di Korea Selatan.

Morgenbesser menambahkan bahwa ia tidak percaya angka yang dilaporkan oleh
Laos dan Kamboja, yang mengklaim hingga hari ini tidak ada yang terindikasi
virus corona . Untuk setiap pemerintah di wilayah ini, krisis virus Corona
merupakan tes kompetensi yang setara dengan krisis keuangan, serangan
teroris besar, atau perang.

"Ini adalah ujian terhadap sesuatu yang tidak bisa Anda lihat dan Anda
hanya punya sedikit kontrol, paling tidak pada awalnya. Yang diuji adalah
seberapa transparan diri Anda, akuntabel diri Anda, dan seberapa efisien
sistem yang telah Anda tempatkan," jelas Morgenbesser.

Beberapa negara di Asia telah mencatat kenaikan terbesar dalam satu hari
untuk jumlah kasus virus Corona (COVID-19). Terpantau pada Selasa
(24/3/2020) melalui situs resmi Johns Hopkins Coronavirus Resource Center,
Indonesia tercatat telah ada 579 kasus, Malaysia 1.518 kasus, dan Thailand
sebanyak 721 kasus.

Sementara Vietnam (123 kasus), Kamboja (87 kasus), dan Filipina (462 kasus)
mencatat peningkatan infeksi harian yang stabil. Sedangkan Laos dan Myanmar
masih mengklaim tidak ada kasus.

Singapura sendiri, yang mencatat kasus pertama kali pada 23 Januari lalu,
telah mencapai 509 infeksi. Negara ini melaporkan, telah terjadi dua
kematian pertamanya dari kasus COVID-19 pada Sabtu (21/3/2020). Salah satu
korban adalah seorang WNI dari Indonesia.

Clarence Tam, asisten profesor penyakit menular di Universitas Nasional
Singapura, mengatakan Hong Kong dan Singapura telah menangani pandemi virus
Corona dengan relatif baik. Kedua negara ini memiliki keuntungan
tersendiri, seperti wilayah yang lebih kecil sehingga memiliki batas
terkontrol dengan baik dan membuat pelacakan kontak dan penyaringan kontak
intensif lebih mudah.

[image: Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) melintasi pintu pagar
setibanya di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau,
Kalbar, Sabtu (21/3). [ANTARA FOTO/Agus Alfian]]Sejumlah Pekerja Migran
Indonesia (PMI) melintasi pintu pagar setibanya di Pos Lintas Batas Negara
(PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Sabtu (21/3). [ANTARA FOTO/Agus
Alfian]

Kedua negara itu telah memiliki bekal pengalaman dalam menghadapi epidemi
SARS pada tahun 2003. Artinya, selama 15 tahun terakhir kedua negara itu
juga telah berinvestasi dalam kapasitas dan infrastruktur untuk menangani
jenis wabah seperti COVID-19.

"Untuk COVID-19, saat ini kami tidak tahu berapa banyak anak yang tertular.
Mungkin banyak kasus pada anak-anak yang tidak terdeteksi karena penyakit
pada anak-anak cenderung ringan, tetapi kami juga tidak melihat banyak
wabah di sekolah," ucap Tam, seperti dikutip dari *Sarasota Memorial Health
Care System*.




Hal penting yang dapat dipelajari dari negara seperti Singapura, Hong Kong,
Taiwan, dan Korea Selatan dalam menangani virus Corona adalah pengujian
yang dilakukan sejak awal dan secara luas, isolasi yang efektif,
penulusuran kontak, dan karantina. Itu menjadi kunci untuk mengendalikan
virus di bawah kendali.

"Setiap negara yang belum dapat menerapkan langkah-langkah ini dengan
cepat, untuk alasan apa pun, berisiko tinggi terjadi penularan pada
masyarakat yang tidak terkendali, seperti yang kita lihat sekarang di
sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat," jelas Tam.

Kasus lain, seperti di Malaysia juga menjadi perhatian khusus karena
dilaporkan mengalami kenaikan lebih dari 100 kasus per hari selama lima
hari berturut-turut, dan lebih dari dua pertiga dari kasus tersebut terkait
dengan tiga hari acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan pada akhir
Februari lalu.

Tetapi dengan sistem kesehatan Malaysia relatif maju, para dokter dan
profesornya terlatih dengan baik dan kompeten. Tam menilai kondisi Malaysia
lebih siap daripada vanyak negara di wilayah Asia Tenggara untuk menangani
COVID-19 dan penutupan perbatasannya dengan orang asing.

Malaysia disebut telah memperkenalkan beberapa kontrol perbatasan yang
paling ketat. Thailand dan Singapura juga melakukan hal serupa.

Singapura memperkenalkan aturan karantina 14 hari untuk kedatangan
internasional dan sementara melarang kedatangan dari negara-negara
tertentu. Sedangkan, Filipina memberlakukan lockdown di seluruh kota
termasuk Manila.

[image: Virus Corona Covid-19. (Shutterstock)]Virus Corona Covid-19.
(Shutterstock)

Tam mengatakan, butuh waktu sekitar dua minggu untuk mengetahui apakah
langkah-langkah baru dan ketat yang diambil Malaysia dapat memperlambat
penyebaran virus

Namun, berbeda dengan Indonesia yang memiliki lebih dari 50 kali populasi
Singapura dan yang telah melaporkan 49 orang meninggal, Tam menilai kondisi
yang terjadi di Indonesia saat ini menimbulkan kekhawatiran terbesar.

Indonesia, Malaysia, dan Filipina menghadapi tantangan yang sangat spesifik
karena populasi yang sangat besar dan tersebar luas, serta fakta bahwa
negara-negara itu memiliki populasi pekerja imigran yang sangat besar.

"Untuk memiliki respons yang efektif dan terkoordinasi, negara membutuhkan
investasi yang jauh lebih besar dalam memperkuat sistem kesehatan di
seluruh wilayah," ujar Tam.

Kirim email ke