Saran IDI Lockdown
By. Erizeli Jely Bandaro
Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) meminta agar pemerintah segera melakukan 
lockdown kalau tidak ingin penyebaran virus corona meluas. Saya tidak tahu 
lockdown seperti apa yang dimaksud oleh IDI. Lockdown itu sendiri artinya 
mengunci dengan benar benar mengunci. Apanya yang dikunci? Kalau ingin meniru 
negara lain, negara mana?  Apakah ingin meniru China yang lockdown Wuhan. Baik 
saya gambarkan secara sederhana lockdown di Wuhan. 
Ketika pemerintah pusat China mengumumkan Lockdown kota Wuhan, maka seluruh 
kekuasaan kota di bawah Militer. Kebetulan Panglima Tertinggi pengedalian wabah 
nasional adalah wanita, Jenderal. ia jarang tampil depan publik dan jarang 
bicara tetapi tindakannya jelas dan diikuti oleh semua institusi. Semua stasiun 
kereta, bus dan termasuk bandara di segel oleh aparat. Artinya tidak boleh ada 
operasional angkutan. Semua tempat keramaian di segel.  Setiap orang Wuhan di 
monitor oleh sistem IT melalaui gadget mereka. Artinya mereka harus download 
aplikasi yang memungkinkan pemerintah bisa mononitor aktifitas mereka setiap 
detik. 
Sistem IT ini yang menentukan status merah, kuning dan hijau mereka. Kalau 
merah, langsung petugas datang membawa mereka ke RS. Engga bisa nolak. Kalau 
kuning pemaksaan karantina diri di ruman dan di monitor setiap detik oleh 
petugas secara online.  Tidak boleh keluar rumah. Setiap kawasan apartement di 
jaga oleh militer. Kalau hijau, dapat konpensasi keluar rumah. Aplikasi pada 
gadget itu jadi passport mereka  kalau diperiksa oleh petugas. Setiap hari 
status itu bisa berubah. Tergantung hasil monitor. 
Selama lockdown itu praktis semua aktifitas bisnis berhenti. Tidak ada 
perusahaan dan pabrik buka kecuali tempat tertentu yang di izinkan, dan itupun 
SOP nya sangat ketat dibawah pengawasan aparat. Bagaimana mereka dapatkan 
makanan? lagi lagi melalui online. Pemerintah pastikan semua makanan harganya 
tidak naik. Negara melibatkan semua institusi untuk menjamin logistik dan 
memastikan makanan sampai di rumah setiap orang. Apakah makanan itu gratis? 
tidak. Tetap harus bayar melalui aplikasi online. Setiap orang China punya akun 
di WeChat. 
Pada waktu bersamaan pemerintah dengan cepat mengalih fungsikan semua gedung 
milik negara yang layak untuk dijadikan RS khusus Corona. Kurang? dengan cepat 
pemerintah membangun RS darurat disemua provinsi yang terpapar. Ribuan dokter 
Paramedis Militer dilibatkan langsung ke RS darurat tersebut. Semua manajemen 
berjalan secara IT sistem. Sekali komando di keluarkan oleh Presiden, sistem 
big data dan Egoverment China bekerja,  sehingga koordinasi berlangsung cepat 
dan efisien. Semua real time. Tidak ada istilah terlambat dalam hitungan menit 
apalagi jam, atau hari. Karena mereka berhitung detik. Semua lembaga riset juga 
bahu membahu menemukan vaksi dan menetukan jenis obat yang tepat untuk kasus 
corona.
Nah bayangkan. Ketika kota Wuhan di lockdown, semua bisnis berhenti. Kehidupan 
sehari hari di bawah pengawasan militer. Orang dipaksa tidak keluar rumah. 
Ngeyel? urusannya dengan aparat. Dan semua itu tidak ada konpensasi dari negara 
berupa uang kepada rakyat Wuhan. Kok bisa? ya karena  Wuhan itu 90% adalah 
kelas menengah, yang semua orang punya tabungan untuk bertahan hidup lebih dari 
tiga bulan. Tapi negara memberikan stimulus kepada semua perusahaan yang 
terkena dampak dari adanya Lockdown kota Wuhan tu. Konon katanya mencapai $174 
billion atau setara dengan Rp. 2600 triliun. Itu tidak termasuk pemangkasan 
suku bunga. Sehingga ketika kota wuhan unlock,  mesin ekonomi kembali berputar 
untuk terjadinya sustainable growth. Dan akhirnya mereka jadi pemenang.
Nah apakah lockdown itu seperti itu yang kita mau? Jelas engga ada satupun 
negara yang bisa. Secara politik, ekonomi, budaya, agama tidak mendukung untuk 
bisa seperti China menghadapi wabah. Jerman yang hebat saja, hanya bisa 
mengeluarkan aturan melarang orang berkumpul lebih dari 2 orang. Semua negara 
di dunia jadi keliatan kampungan kalau melihat cara china memerangi wabah. 
Benar benar kampungan. Saya setuju kalau kita meniru jerman saja walau dibilang 
kampungan.

Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone

Kirim email ke