GONJRENG
Anies Baswedan dan Seruan Lockdown 28/03/2020 Lohmenz Neinjelen 1 Comment amerika serikat, anies baswedan, Bill Gates, covid-19, donald trump, fadli zon, gubernur dki jakarta, Jakarta lockdown, jokowi, kebijakan lockdown, pandemi covid 19 Gonjreng.com – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta memperpanjang status tanggap darurat hingga 19 April 2020 karena tingkat penyebaran pandemi virus corona (Covid-19) semakin tinggi di wilayahnya. “Status tanggap darurat di Jakarta diperpanjang mulai 5 April sampai 19 April,” kata Anies Baswedan seperti dikutip dari cnnindonesia.com. Kembali Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengimbau masyarakat untuk tetap tinggal di rumah dan tidak bepergian kecuali ada kegiatan mendesak, juga masyarakat dihimbau agar menjaga jarak atau social distancing yang kini sudah berubah menjadi physical distancing. Bukan hanya Anies Baswedan yang berulang kali melakukan himbauan seperti di atas tadi, Jokowi dan pejabat lainnya pun pernah mengatakan hal yang sama. Masalah yang berkait dengan disiplin ini menjadi salah satu perhatian dan kadang menimbulkan pertanyaan serta keheranan di benak sebagian pihak. Mengapa masyarakat tidak disiplin? Bukankah himbauan pemerintah pusat dan daerah demi kebaikan masyarakat juga? Roma Tidak Dibangun dalam sehari. Ungkapan ini seharusnya bisa menjelaskan hal di atas tadi. Penanganan masalah pandemi virus corona (Covid-19) pun masih menjadi pembicaraan dan perdebatan yang hangat. Pilihan kebijakan lockdown atau tidak menimbulkan pro dan kontra. Baik pihak yang pro dan kontra memiliki alasan masing-masing, dan sekilas semua alasannya itu terlihat baik. Wajar saja kalau masyarakat awam pun bingung. Beberapa tokoh nasional dan mereka yang bergelut di bidang kesehatan sudah ada yang menyerukan agar diterapkan kebijakan lockdown guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). Fadli Zon termasuk sosok yang ngotot menyarankan agar pemerintah segera melakukan lockdown, bahkan telah mengirim surat terbuka kepada Jokowi. Tapi menurut Menko Polhukam Mahfud MD, kebijakan lockdown itu tidak manusiawi, meski tidak diberikan contohnya seperti apa tidak manusiawi-nya. Dewan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pun antara lain telah menyarankan agar pemerintah melakukan lockdown. Sila baca juga: Kebijakan Lockdown Didukung Dewan Guru Besar. Kebijakan lockdown atau tidak ini pun mewarnai perdebatan di negara maju seperti Amerika Serikat. Pendiri Microsof dan orang kaya di dunia yang nilai kekayaannya diperkirakan US$ 96,3 miliar, Bill Gates mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana membuka kawasan negaranya pada April nanti, padahal bulan itu diperkirakan puncaknya kasus virus corona (Covid-19). Bill Gates pun menyarankan agar dilakukan kebijakan lockdown di sana. Tidak hanya di Indonesia, di negara maju seperti Amerika Serikat pun masih menjadi polemik kebijakan lockdown atau tidak lockdown ini. Jokowi dan Donald Trump berada dalam posisi buah simalakama. Apapun pilihannya, lockdown atau tidak lockdown memiliki resiko atau konsekuensi masing-masing. Anies Baswedan sudah mengumumkan status tanggap darurat untuk wilayah DKI Jakarta diperpanjang hingga 19 April 2020, tapi apakah nantinya akan diberlakukan Jakarta lockdown atau masyarakat masih dihimbau lewat social distancing (psysical distancing) dalam penanganan pandemi virus corona (Covid-19), diperkirakan Anies Baswedan tidak akan mengambil keputusan sendiri. Ia akan manut atau menuruti apapun keputusan pemerintah pusat mengingat status DKI Jakarta adalah ibu kota negara ini, selain kebijakan lockdown itu memiliki resiko atau konsekuensi sendiri. Lebih “aman” bagi Anies Baswedan untuk manut, taat, atau patuh pada keputusan pemerintah pusat. Keputusan Jakarta lockdown akan diambil Anies Baswedan jika pemerintah pusat telah menyetujuinya. Cukup mengejutkan jika Anies Baswedan mengambil keputusan sendiri seperti Papua atas diterapkannya kebijakan lockdown di DKI Jakarta. Tapi sekali lagi diperkirakan Anies Baswedan akan “bermain aman” tanpa resiko atau konsekuensi politik yang besar. Mungkinkah perkiraan di atas tadi masih bisa salah? Kemungkinan salah itu masih tetap ada. Makdarit (maka dari itu), sila ikuti dan amati saja, karena waktu jua yang akan menjawab dan membuktikannya. ***
