Virus corona: Perawat yang meninggal akibat Covid-19: 'Saya hidup,
mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk untuk profesi'
Callistasia WijayaWartawan BBC News Indonesia
*
2 jam lalu
* Bagikan artikel ini dengan Facebook
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52074437#>
* Bagikan artikel ini dengan Messenger
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52074437#>
* Bagikan artikel ini dengan Twitter
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52074437#>
* Bagikan artikel ini dengan Email
<mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=https%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-52074437>
* Kirim <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52074437#share-tools>
corona, perawatHak atas fotoEPAImage caption(Foto ilustrasi) Sejumlah
staf medis memakai baju pelindung dalam menangani para pasien Covid-19.
Sebelum pemerintah mengumumkan kasus Covid-19 pertama pada Maret 2020,
tenaga medis di sejumlah fasilitas kesehatan menangani pasien seperti
biasa, tanpa Alat Pelindung Diri (APD) khusus. Beberapa kemudian
terinfeksi dan meninggal dunia.
Salah seorang tenaga medis yang meninggal adalah Ninuk, perawat RS Dr.
Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di usianya yang ke-37 tahun.
* Dokter dan perawat meninggal akibat virus corona: 'Kalau mereka
kolaps, keadaan akan lebih buruk lagi'
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52022140>
* Kasus Covid-19 diprediksi capai lebih dari 8.000, seperti apa
kapasitas kesehatan Indonesia?
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51958299>
* Malaysia perpanjang 'lockdown', TKI: 'Makan dikurangi, hanya mi dan
nasi' <https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52069394>
* Pemerintah pusat godok PP untuk atur pelaksanaan karantina wilayah
<https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52061531>
"/Yah/, aku positif Covid-19… masih bisa hidup/nggak/aku ya?" tanya
Ninuk kepada suaminya, Arul, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS
Dr. Cipto Mangunkusumo pada 10 Maret lalu, sebagaimana dikenang Arul.
NinukHak atas fotoKELUARGA ALM. NINUKImage captionSalah seorang tenaga
medis yang meninggal adalah Ninuk, perawat RS Dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta, di usianya yang ke-37.
Setelah 12 tahun menjadi perawat di rumah sakit itu, tepatnya di ruang
ICU, Ninuk terbaring lemah sebagai pasien di RSCM karena penyakit yang
dideritanya sejak awal Maret.
Ia mengalami rasa lelah yang amat sangat, demam hingga 39 derajat
Celcius, diare, hingga sesak napas. Ninuk akhirnya dirawat di RSCM,
setelah sebelumnya dua kali rawat jalan di RS itu.
Pemerintah Indonesia sendiri baru mengungkapkan kasus Covid-19 pertama
di Indonesia tanggal 2 Maret.
perawatHak atas fotoKELUARGA ALM. NINUKImage captionNinuk bekerja
sebagai perawat di RSCM selama 12 tahun.
Di ranjang IGD, tubuh Ninuk tak hentinya berpeluh, sementara hidungnya
terus berair. Ia juga mengeluh pinggangnya terasa nyeri.
Suaminya, Arul, menemaninya sambil menyeka keringatnya dan mencoba
meredakan nyeri di pinggangnya dengan obat gosok.
"Saya bilang tenang saja. Allah yang memberikan sakit, Allah juga yang
menyembuhkan. Saya hanya bisa menyemangati saat itu," kata Arul,
mengenang perbincangannya dengan istrinya.
tenaga medisHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas medis memeriksa
kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma
Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3).
Menjelang malam, Ninuk semakin kesulitan bernapas hingga ia harus
dibantu dengan ventilator.
"Di ruang isolasi (IGD RSCM), kami panggil petugas medis, perawat,
susah. Saya pantau saat almarhum dipasangi ventilator…Saya juga yang
nengok-nengok, kadang-kadang (alatnya) eror karena dia gelisah, tercopot
alatnya. Saya panggil petugas medis baru dipasang ulang," ujar Arul.
Keesokan harinya, keluarga dilarang untuk bertemu dengan Ninuk.
Ninuk dibawa pihak RSCM ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, rumah
sakit rujukan Covid-19 di Jakarta. Dia diisolasi di sana hingga akhirnya
meninggal dunia (12/03).
PETUGAS KESEHATANHak atas fotoDESTYAN SUJARWOKO/ANTARA FOTOImage
captionPetugas kesehatan dengan APD di Puskesmas Ngantru.
Menurut data Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ninuk adalah
perawat pertama yang tercatat meninggal akibat Covid-19.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan sebanyak 50 tenaga
medis di Jakarta, yang terdiri dari dokter dan perawat, telah terinfeksi
virus corona.
Sementara, menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI), setidaknya lima orang
dokter meninggal akibat Covid-19.
apdHak atas fotoANTARA FOTOImage captionBantuan APD dari China tiba di
Malang, Jawa Timur, 23/03).
Dari mana Ninuk tertular virus?
Sebelum jatuh sakit, selain bekerja di RSCM, Ninuk tengah mengambil
kuliah D-4 keperawatan di Jakarta Selatan serta menjalani praktik
lapangan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat.
Ninuk, yang berdomisili di Cikarang, Bekasi, dan beraktivitas dengan
kereta commuter line ini, pernah menderita radang paru-paru di masa lalu.
"Kalau saya pribadi (berpikir), mungkin dia (terinfeksi) di RSCM atau RS
Grogol," kata Arul.
apkHak atas fotoANTARA FOTOImage captionSejumlah guru membuat baju
khusus untuk tenaga medis di SMK Negeri 5 Palu di Palu, Sulawesi Tengah,
(23/03).
Arul mengatakan sepengetahuannya, istrinya tidak memakai Alat Pelindung
Diri (APD) untuk menghadapi pasien yang mungkin mengidap Covid-19 saat
bertugas. Apalagi RSCM bukan merupakan rumah sakit rujukan Covid-19.
Istrinya juga tidak tahu menahu apakah ia sedang atau pernah menangani
pasien dengan Covid-19, kata Arul.
Jika pemerintah mengetahui adanya kasus Covid-19 lebih cepat, Arul yakin
rumah sakit akan lebih sigap menangani penyakit itu.
"Kalau ada informasi, minimal rumah sakit kan pasti tau seperti apa
manajemennya," ujar Arul.
APDHak atas fotoANTARA FOTOImage captionSeorang peserta pelatihan Balai
Latihan Kerja (BLK) mengenakan alat pelindung diri (APD) di BLK Dinas
Tenaga Kerja Kota Semarang, Jawa Tengah (27/3).
Ninuk sempat dikabarkan terkena virus corona setelah merawat seorang WNA
Korea Selatan
<https://metro.tempo.co/read/1319203/kabar-perawat-meninggal-karena-corona-dirut-rscm-sebagian-salah/full&view=ok>dengan
gejala Covid-19 pada bulan Februari.
Namun, RSCM enggan mengonfirmasi hal itu, meski tidak membantahnya.
"Maaf, kami tidak dapat membahas hal tersebut. Semua kasus disampaikan
melalui Jubir Nasional yang ditunjuk presiden. Demikian," ujar Direktur
Utama RSCM Lies Dina Liastuti dalam pesan tertulis.
Sejauh ini, Jubir Nasional yang ditunjuk Presiden Joko Widodo, Achmad
Yurianto, tidak membuka keterangan terkait penelusuran (/tracing/) suatu
kasus.
Lies juga tidak mau menjawab tentang apakah WNA Korea Selatan itu betul
terinfeksi virus corona.
"Untuk positif dan negatif, data ada di Litbangkes (Kemenkes)," ujarnya.
PERAWATHak atas fotoARI FAHRIAL SYAMImage caption'Petugas kesehatan
dapat tertular langsung dari pasien baik di poliklinik maupun di rawat
inap.'
Menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Dokter Ari
Fahrial Syam, petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien baik
di poliklinik maupun di rawat inap.
"Terus terang ini juga sudah saya prediksi, bahwa model penyebaran
kontak langsung seperti saat ini membuat petugas kesehatan bisa menjadi
korban," ujarnya.
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPerawat mengenakan pakaian
Alat Pelindung Diri baju hazmat (Hazardous Material) menuju kamar
isolasi khusus RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur.
Pemerintah Indonesia baru mengumumkan kasus pertama Covid-19 di
Indonesia di awal Maret (02/03), meski ada laporan yang mengindikasikan
kasus Covid-19 sudah ada di Indonesia sebelum Maret.
Singapura, misalnya, melalui website resmimoh.gov.sg
<https://www.gov.sg/article/covid-19-cases-in-singapore>mengungkapkan,
beberapa warganya terinfeksi virus corona setelah kunjungan ke Jakarta
dari pertengahan Februari hingga awal Maret (kasus 107, 148, 153, 162).
Seorang warga Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia (03/03) karena
Covid-19, sebagaimana dikonfirmasi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil,
meski sebelumnya pemerintah mengatakan warga itu negatif terinfeksi
kasus corona.
'Belum terima hasil tes sampai sekarang'
Suami dan dua anak yang ditinggalkan Ninuk, hingga dua pekan setelah dia
mengembuskan napas terakhir, belum mendapat kepastian dari Kementerian
Kesehatan tentang status kesehatan mereka.
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas berjalan di samping
karangan bunga dukungan untuk tenaga medis dan staf Rumah Sakit Penyakit
Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso di Jakarta, (21/3).
Arul mengatakan, ia dan keluarganya telah menjalani tes swab, yang
diminta dinas kesehatan terkait, setelah Ninuk dinyatakan meninggal
akibat terkena virus Covid-19.
"Prosesnya kok lama/banget/? Kami kasihan sama tetangga. Mereka sampai
sekarang belum bisa berangkat kerja karena nunggu hasil tes saya," ujarnya.
Padahal, kebanyakan dari tetangganya, kata Arul, adalah pekerja pabrik.
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPekerja menata potongan kain
berbahan "polypropilene spunbond" yang akan dijahit menjadi pakaian APD
(alat Pelindung Diri) kesehatan di UKM Tulip Craft, Tulungagung, Jawa
Timur, (27/3).
Hingga kini, Arul mengatakan dia dan anak-anaknya dalam keadaan sehat,
meski kedua anaknya sangat terpukul dengan kepergian Ninuk.
Mereka tidak bisa memasuki ruangan isolasi maupun melihat wajah jenazah
ibunya karena perlakuan khusus yang diterapkan pada pasien dengan Covid-19.
APDHak atas fotoASWADDY HAMID/ANTARA FOTOImage captionPetugas kesehatan
mengenakan APD di salah satu fasilitas kesehatan di Dumai.
Arul hanya bisa memberi mereka pengertian.
"Saya sebagai ayahnya, saya bilang mama itu pahlawan. Mereka bangga
punya ibu seperti itu, yang secapek apapun setelah dinas, nggak pernah
marah atau menunjukkan dia lelah," ujarnya.
Menjelang ajal, Arul juga mengingat apa yang disampaikan Ninuk.
"Dia mengatakan 'saya hidup untuk orang yang saya sayangi dan mati untuk
orang yang saya sayangi, termasuk (untuk) profesi saya'," ujarnya.
APB, virus coronaHak atas fotoFAJAR SODIQImage captionRSUD Dr Moewardi
Solo membuat sendiri APD.
'Perawat yang harus benar-benar pakai APD'
Setelah melonjaknya angka kasus Covid-19 di Indonesia, sejumlah rumah
sakit, baik yang rujukan maupun bukan, memperketat pengamanan terhadap
tenaga medis dengan pemakaian APD.
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionDokter RSUD Kota Bogor
melakukan pemeriksaan terhadap pasien suspect virus COVID-19 saat
simulasi di ruang isolasi RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, (4/3).
Annisa, seorang dokter paru-paru yang bertugas di rumah sakit swasta dan
rumah sakit pemerintah di Jakarta, mengatakan kini petugas kesehatan
diminta memperlakukan seorang suspek sebagai positif Covid-19, sampai
terbukti sebaliknya.
Ia menambahkan perawat lah yang paling penting memakai APD.
"Yang harus benar-benar pakai itu ya perawat karena mereka kontak erat
(dengan pasien). Mereka yang ambil darah, ganti popok pasien, mereka
yang benerin infus. Kalau dokter mungkin sekadar periksa, observasi,
tapi kalau perawat itu benar-benar intens dengan pasien, mereka harus
pakai," ujar Annisa.
TENAGA MEDISHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas medis
menggunakan alat pelindung diri (APD) di dalam Gedung Pinere, RSUP
Persahabatan, Jakarta, (4/3).
Meski begitu, kata Annisa, keberadaan APD terbatas, apalagi di rumah
sakit swasta, yang bukan rujukan pemerintah.
"Seperti (contohnya), yang dipakai bukan/go//g//gle/medis...
tapi/go//g//gle/untuk industrial pun kita pakai karena tidak ada yang
lain. Sedangkan kita itu/shift/-nya bisa sampai 8 jam dan APD tidak bisa
dilepas karena udah nggak ada lagi (stok APD-nya)," ujar Annisa.
TENAGA MEDISHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas medis mengecek
ruang isolasi khusus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kraton,
Pekalongan, Jawa Tengah, (5/2).
Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhillah,
mengatakan hingga 26 Maret masih banyak perawat yang mengeluhkan
langkanya APD.
Sebelumnya, tenaga medis di sejumlah daerah, seperti Serang di Banten,
dan Surabaya, Jawa Timur, mengenakan jas hujan karena keterbatasan APD.
tenaga medisHak atas fotoMUH. AMRAN AMIR/KOMPAS.COMImage captionAlat
Pelindung Diri (APD) Tim medis RSUD Lakipadada Tana Toraja, minim dan
susah didapatkan, maka petugas membuat dan memanfaatkan bahan sederhana.
Dalam pernyataan bersama IDI, PPNI, dan sejumlah organisasi lainnya,
mereka mendesak terjaminnya APD bagi para petugas medis karena dalam
kondisi wabah, setiap pasien mungkin adalah orang dalam penularan (ODP)
atau pasien dalam pengawasan (PDP).
"Bila hal ini tidak terpenuhi, maka kami meminta kepada anggota profesi
kami untuk sementara tidak ikut melakukan perawatan penanganan pasien
Covid-19 demi melindungi dan menjaga kesehatan Sejawat," ujar organisasi
itu dalam pernyataan tertulis (27/03).
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas medis bersiap di
ruang perawatan Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet
Kemayoran, Jakarta (23/3).
Apa yang dilakukan pemerintah?
Pemerintah mengklaim telah mendistribusikan 151.000 APD ke seluruh
provinsi di Indonesia, termasuk ke wilayah yang kesulitan transportasi
seperti di Papua dan Papua barat serta wilayah perbatasan.
"Pertama, APD tersebut akan didorong khususnya kepada daerah-daerah yang
memiliki kesulitan transportasi dan di perbatasan," kata Paban
IV/Operasi Dalam Negeri Staf Operasi TNI, Kolonel Aditya Nindra (27/3).
"Dari rumah sakit-rumah sakit yang ada di daerah, bisa berkomunikasi
kepada gugus tugas daerah sehingga mereka bisa mendapatkan alokasi dari
APD yang sudah didistribusikan itu," kata Aditya.
Sementara di Jakarta, Gubernur Anies Baswedan menyediakan Hotel Grand
Cempaka untuk ditempati para petugas medis.
Ia mengatakan hal itu dilakukan untuk mengakomodasi tenaga medis yang
khawatir pulang ke rumah masing-masing karena takut membawa penyakit.
PERAWATHak atas fotoANTARA FOTOImage captionPetugas Medis berada di
dalam bilik disinfektan di Hotel Grand Cempaka Bisnis, Jakarta, (28/3).
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan tempat tinggal dan
transportasi untuk tenaga medis dan kesehatan yang menangani pandemi
virus corona atau COVID-19.
Anies mengatakan, dalam waktu dekat tiga hotel milik BUMD DKI juga akan
segera menyusul, dengan jumlah total 261 kamar tambahan dan 361 tempat
tidur.