Djawoto: Tokoh Pers yang Dihapus dari Sejarah Indonesia

Misi AAJA untuk menantang hegemoni pers kapitalis dan imperialis yang 
sebelumnya menguasai wacana publik di negara-negara jajahan. Dalam upaya 
memerangi pers kapitalis itu, AAJA percaya wartawan di negara-negara Dunia 
Ketiga harus bisa menyampaikan kebenaran dan menyingkap kebohongan
29 Maret 2020

   
   - 
   - 
   - 
Buku jurnalisme yang ditulis oleh Djawoto/Istimewa
Koran Sulindo – Pada suatu Januari, sekitar setahun yang lalu. Seorang pembuat 
film dokumenter asal Tiongkok menghubungi lewat pesan messenger Facebook. Ia 
memperkenalkan diri sebagai Jiahui Zeng. Ia menghubungi karena direkomendasikan 
seorang teman di Belanda.

Ketika itu, Ja – demikian nama panggilannya – berniat riset dan membuat film 
dokumenter tentang Djawoto. Ketika ia menyebut nama itu, tentu saja 
mengejutkan. Nama yang begitu asing di Indonesia, namun menjadi sesuatu yang 
penting bagi seorang pembuat film seperti Jiahui Zeng.

Permintaan Ja itu seperti gayung bersambut. Selain karena sudah pernah 
mendengar namanya, juga penasaran akan buku karya Djawoto di bidang 
jurnalistik.. Judul kitab Djawoto itu: Jurnalistik Dalam Praktik. Buku ini 
agaknya sulit ditemukan di masa sekarang.

Lalu, siapa sesungguhnya Djawoto? Boleh dibilang ia adalah tokoh pers Indonesia 
dan sudah berkiprah sejak sebelum Republik menyatakan proklamasi kemerdekaan 
pada Agustus 1945. Berdasarkan sebuah tulisan di blog Perpustakaan Online 
Genosida 1965-1966, Djawoto disebut lahir di Tuban, Jawa Timur pada 10 Agustus 
1906. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Djawoto mengikuti kursus guru, lalu 
benar-benar menjadi guru di beberapa sekolah swasta di antaranya Taman Siswa. 
Sejak 1927, Djawoto selama 15 tahun menjadi guru.

Selama menjadi guru dan sempat tinggal di Makassar, Djawoto juga aktif 
berpolitik. Ia pernah menjadi sekretaris Partai Sarekat Islam Indonesia 
pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto cabang Makassar. Tidak lama kemudian, masih 
di Makassar, ia pindah ke Partai Nasional Indonesia pimpinan Soekarno.

Ketika PNI dibubarkan, Djawoto masuk ke Pendidikan Nasional Indonesia di bawah 
pimpinan Sjahrir. Setelah merdeka, Djawoto masuk ke dalam Partai Sosialis 
pimpinan Amir Sjarifuddin dan Sjahrir. Ia didapuk menjadi Kepala Departemen 
Pendidikan di partai itu. Ketika Partai Sosialis pecah, Djawoto memusatkan 
pikiran dan tenaganya di Kantor Berita Antara. Selama masa Perang Dunia II, 
Djawoto bekerja sama dengan Adam Malik di Kantor Berita Domei.

Setelah proklamasi kemerdekaan Agustus 1945, Kantor Berita Antara dibuka 
kembali. Djawoto kembali berkiprah di sana. Ketika ibu kota negara pindah ke 
Yogyakarta, Kantor Berita Antara juga ikut pindah dan Djawoto pun dipilih 
sebagai pemimpin redaksinya.

Jejaknya di Kantor Berita Antara ini sama sekali tak berbekas. Itu terbukti 
ketika saya bersama Jiahui Zeng mengunjungi Galeri Foto Jurnalistik Antara 
(GFJA) dan Museum Graha Bakti Antara sekitar akhir Januari 2019. Di sana 
terpampang jelas foto-foto tokoh yang pernah memimpin Kantor Berita Antara. 
Foto Djawoto? Sama sekali tidak ada. Dan pengelola tempat tersebut pun merasa 
asing mendengar nama Djawoto.

Selain menjadi pemimpin redaksi Kantor Berita Antara, Djawoto juga aktif dalam 
pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tujuan utama pembentukan wadah 
organisasi profesi wartawan ini sebagai peran aktif mereka untuk meyakinkan 
masyarakat dan tentara bahwa Indonesia harus merdeka 100 persen. Juga 
mempersatukan rakyat dan militer melawan penjajah yang masih ingin menguasai 
Indonesia.

Djawoto bahkan pernah beberapa kali terpilih menjadi Ketua PWI mulai dari 1948, 
1950 dan 1951. Dan baru menjadi ketua lagi ketika PWI mengadakan kongres di 
Makassar pada 16 Mei 1961. Rentang periode 1952 hingga 1960, PWI dikuasai 
orang-orang yang terafiliasi dengan kelompok Masyumi, PSI dan orang-orang yang 
anti-Bung Karno, anti-Manipol dan anti-PKI.

Maka terpilihnya kembali Djawoto dalam kongres itu, menurut A. Umar Said dalam 
Mengenang Kebesaran Bung Djawoto sebagai kemenangan pendukung garis politik 
Bung Karno yang anti-imperialisme dan anti-neokolonialisme. Yang mencerminkan 
kemenangan kelompok revolusioner melawan golongan kontra-revolusioner dalam 
negeri di kalangan pers.

Dan segera setelah itu, tulis Umar Said, wartawan-wartawan Indonesia yang 
tergabung dalam International Organization of Journalists (IOJ) pada 1962 
berhasil mengumpulkan tandatangan para wartawan Asia-Afrika di Budapest 
(Hongaria) untuk menyelenggarakan Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Indonesia.

Sekjen AAJA
Menanggapi hal itu, Bung Karno dengan semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung 
mengusulkan kepada Djawoto agar Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan 
Konferensi Wartawan Asia-Afrika itu pada 1963. Setelah konferensi, peserta pun 
sepakat membentuk Persatuan Wartawan Asia-Afrika (AAJA). Keberadaan AAJA, 
menurut Taomo Zhou dalam Global reporting from the Third World: the Afro-Asian 
Journalists’ Association, 1963–1974 di bawah payung Organisasi Solidaritas 
Rakyat Afro-Asia (AAPSO) dengan semangat progresif yang anti-imperialisme.
Majalah Persatuan Wartawan Asia Afrika/Koran Suluh Indonesia
Dikatakan Zhou, semangat AAJA merupakan kesinambungan dari Konferensi Asia 
Afrika di Bandung. Apalagi penyelenggaraan Konferensi AAJA bersamaan dengan 
peringatan delapan tahun Konferensi Bandung. Seperti semangat Konferensi 
Bandung, dalam Konferensi AAJA juga ditekankan tentang kedaulatan dan tanpa 
intervensi di dalam jurnalisme.

Setelah penyelenggaraan konferensi itu, Djawoto terpilih sebagai Sekjen PWAA 
atau AAJA. Dalam pertemuan perdana ini, kata Zhou, Djawoto menyampaikan misi 
AAJA untuk menantang hegemoni pers kapitalis dan imperialis yang sebelumnya 
menguasai wacana publik di negara-negara jajahan. Dalam upaya memerangi pers 
kapitalis itu, AAJA percaya wartawan di negara-negara Dunia Ketiga harus bisa 
menyampaikan kebenaran dan menyingkap kebohongan.

Kebenaran, bagi anggota AAJA, berarti informasi dan pendapat yang sesuai dengan 
aspirasi rakyat untuk kemerdekaan nasional, kemajuan sosial, demokrasi, 
kebebasan dan perdamaian. Sebaliknya, kebohangan berarti merujuk kepada laporan 
yang membawa kepentingan kekuatan kolonial dan eksploitasi terhadap rakyat.

Berjarak setahun atau pada 1964, Bung Karno mengangkat Djawoto sebagai Duta 
Besar Indonesia untuk Tiongkok. Tugas harian Sekjen AAJA digantikan Jusuf Isak. 
Di Tiongkok, Djawoto masih aktif menjabat sebagai Sekjen AAJA dan kepala 
sekretariatnya dijabat Umar Said itu. Jejaknya inilah yang ditemukan Jiahui 
Zeng di Tiongkok sehingga tertarik mengabadikannya sebagai film dokumenter.

Sungguh kita bersyukur Jiahui Zeng yang orang Tiongkok itu masih mau menghargai 
Djawoto. Sebab, tanpa itu mungkin tidak akan ada yang mengenalnya. Dari 
perjalanan hidupnya yang puluhan tahun mengabdikan diri sebagai wartawan, maka 
tak berlebihan rasanya menyebut Djawoto sebagai salah satu tokoh pers yang 
terkemuka di negeri ini. Namun, jejaknya sengaja dihapus dari sejarah Republik 
ini hanya karena ideologinya. Damailah di sana Bung! [Kristian Ginting]

Kirim email ke