Media AS: Akibat Fatal Perpecahan antara Donald Trump dengan Tiongkok
2020-03-30 17:08:14 http://indonesian.cri.cn/20200330/82205a70-e6c3-a6f0-35d3-3afe6eaad809.html
Situs web The Atlantic AS pada hari Sabtu lalu (28/3) memuat sebuah artikel dari Profesor The City University Of New York, Peter Beinart yang berjudul “Akibat Fatal Perpecahan antara Donnald Trump dengan Tiongkok”.
Artikel tersebut menunjukkan, saat melawan wabah, sejumlah politikus dan komentator AS berpendapat bahwa AS harus putus hubungan Tiongkok, akan tetapi pelajaran yang didatangkan oleh wabah virus corona bukanlah menghentikan kerja sama dengan Tiongkok, melainkan membangun kembali kerja sama kesehatan publik Tiongkok-AS yang telah dihancurkan pemerintah Trump.
Artikel tersebut mengatakan, dalam aksi-aksi melawan SARS pada tahun 2003, flu burung H1N1 pada tahun 2009 dan virus Ebola, kerja sama antara AS dan Tiongkok memainkan peranan penting dalam menghadapi wabah. Menurut laporan Washington Post, pemerintah Trump secara besar-besaran mengurangi biaya untuk mencegah wabah pada tahun 2018. Saat virus corona merajalela, Trump masih mengusulkan untuk mengurangi saparuh biaya kepada WHO.
Tindakan pengurangan biaya tersebut menimbulkan dampak serius terhadap aksi badan kesehatan AS di Tiongkok. Sejak Trump memegang jabatan sebagai Presiden AS, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Institut Kesehatan Nasional (NIH) AS mengurangi jumlah stafnya di Beijing. Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional AS menutupi perwakilannya di Tiongkok. Ahli Penyakit Menular Pusat Riset Kebijakan Asia-Pasifik di bawah Perusahaan RAND Huang Zhihuan menyatakan, pendapat intern pemerintah AS adalah, jika bersama-sama mengadakan penelitian dengan ilmuwan Tiongkok, ini berarti memperbesar kekuatan Tiongkok, tidak menguntungkan AS, karena Tiongkok adalah pesaing strategis.
Saat ini, situasi wabah sedang merajalela di AS, kerja sama antara Washington dan Beijing sangatlah penting. Direktur Pusat Keamanan Kesehatan di Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg di bawah naungan Universitas Johns Hopkins, Tom Inglesby menyatakan, dilihat dari segi penanggulangan wabah, hubungan AS-Tiongkok adalah sangat penting. Dia mengatakan, karena Tiongkok telah mengendalikan wabah, maka orang AS perlu belajar bagaimana bertindak. Apakah Tiongkok sedang mencari cara pemulihan kehidupan normal tanpa penggunaan vaksin? Menjaga jarak sosial merupakan cara efektif bagi pengendalian wabah. Bagaimana Tiongkok melakukannya?
Tiongkok sedang mengirimkan sejumlah besar barang-barang pelindung kepada Eropa. Staf medis AS memerlukan masker, kaca mata pelindung, sarung tangan, baju pelindung dan termometer. Tarif AS telah mempersulit pembelian barang-barang kebutuhan tersebut. Yang lebih aneh lagi ialah anggota Dewan Perwakilan Jim Banks menyerukan akan membalas dendam kepada virus Tiongkok dengan meningkatkan tarif.
Artikel menunjukkan, virus corona mengklarifikasi dua kenyataan yang secara langsung berlawanan dengan pandangan Trump. Pertama, dalam dunia yang saling terkoneksi ini, peningkatan kerja sama biasanya dapat memelihara keamanan warga AS dengan lebih baik. Memperdalam kerja sama antara AS dan Tiongkok merupakan tanggapan yang rasional terhadap ancaman raksasa ini.
Kenyataan kedua diungkapkan virus corona ialah keseimbangan pengetahuan dan kekuatan di dunia telah berubah. Saat terjadi SARS pada tahun 2003, AS adalah guru Tiongkok, saat ini, dokter dan ilmuwan AS sangat ingin mengetahui bagaimana Tiongkok mengalahkan virus corona. Saat virus corona menjadi pandemi, pabrik Tiongkok akan menjadi “gudang amunisi” kesehatan publik seluruh dunia.
