Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Ketika kasus COVID-19 bertambah dari 2 menjadi 1.528
Oleh Laily RahmawatyRabu, 1 April 2020 07:08 WIB
Ketika kasus COVID-19 bertambah dari 2 menjadi 1.528
Warga turun dari motornya saat pemberlakuan penutupan akses wilayah di
Komplek Pondok Jaya, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2020). ANTARA
FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
kebijakan 'social distancing' dilakukan supaya penularan COVID-19 tidak
cepat, ini ditargetkan untuk usia produktif, karena di Indonesia banyak
kelompok milenilal yang usia produktif memiliki aktivitas mobilitas yang
tinggi.
Jakarta (ANTARA) - Sebulan sudah sejak pertama kali Presiden Joko Widodo
didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan dua kasus
pasien positif COVID-19 asal Indonesia pada Senin (2/3).
Seperti bendera "start" diangkat, masyarakat Indonesia berlomba-lomba
belanja kebutuhan bahkan di pasar masker hilang, hand sanitizer sulit
ditemukan, bahkan alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan tenaga medis
ikut habis.
Ditambah lagi dengan berseliweran berita bohong (hoaks) melalui media
massa dan jaringan pertemanan tentang pandemi itu. Polda menyebutkan
sudah ada 43 kasus hoaks yang ditangani serta beberapa pelakunya sudah
mendekam dalam penjara.
"/Panic buying/' juga menjadi fakta yang menyertai selama
pandemi terjadi. Bahkan sehari pascadiumumkan, warga Jakarta
berbondong-bondong mendatangi pusat perbelanjaan, memborong perbekalan
mulai dari bahan pokok, tisu hingga makanan kalengan.
Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati mengatakan
'/panic buying/' sebagai reaksi alamiah manusia yang merespon situasi
yang tidak terkendali.
'Panic buying' tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi negara-negara
seperti Amerika dan Eropa juga mengalami kejadian serupa.
"'Panic buying' bagian dari upaya manusia untuk memastikan dirinya dan
keluarganya siap menghadapi situasi," kata Devie.
Devie melihat, di tengah '/panic buying'/tersebut ada kondisi di mana
masyarakat tidak mendapatkan informasi yang utuh tentang penanganan
COVID-19 di Indonesia.
Maraknya kabar bohong yang memicu ketidakpastian di masyarakat. Perlu
informasi yang komprehensif dan masif yang diperbaharui setiap warga
untuk meminimalkan gejolak di masyarakat terkait COVID-19.
*Baca juga:Polisi sebut pemberlakuan isolasi mandiri harus dijaga
kondusifitas
<https://www.antaranews.com/berita/1394374/polisi-sebut-pemberlakuan-isolasi-mandiri-harus-dijaga-kondusifitas>
Baca juga:Menkumham terbitkan larangan sementara orang asing masuk
Indonesia
<https://www.antaranews.com/berita/1394302/menkumham-terbitkan-larangan-sementara-orang-asing-masuk-indonesia>
Baca juga:Kelurahan Jatipulo pasang pagar pembatas untuk cegah sebaran
COVID-19
<https://www.antaranews.com/berita/1392798/kelurahan-jatipulo-pasang-pagar-pembatas-untuk-cegah-sebaran-covid-19>
Baca juga:Kemarin, wacana karantina hingga pengecer ikan di Jakarta
<https://www.antaranews.com/berita/1392430/kemarin-wacana-karantina-hingga-pengecer-ikan-di-jakarta>*
*'Social Distancing'*
Dua pasien positif COVID-19 seorang ibu usia (61) dan anaknya (31) lalu
diberi nama pasien 01 dan 02. Setelah keduanya menjalani isolasi di RSPI
Sulianti Saroso, tim medis menemukan lagi pasien 03 yang juga putri dari
pasien 01.
Ketika ditelusuri riwayat perjalanan kontaknya dengan pasien positif
COVID-19 asal Malaysia terjadi di lantai dansa di sebuah bar di bilangan
Kemang, Jakarta Selatan pada tanggal 14 Februari 2020.
Dari temuan pasien 01, 02, lalu 03, angka tersebut terus bertambah,
seiring dipulangkannya 258 anak buah kapal (ABK) Diamond Princes dan
World Dream ke Pulau Sebaru.
Selain itu, kasus impor transmition atau penularan dari orang-orang yang
melakukan perjalanan keluar negeri juga menambah daftar jumlah pasien
COVID-19 di Indonesia khususnya Jakarta.
Tanggal 15 Maret 2020 Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meminta
warga Ibu Kota melakukan 'social distancing' atau pembatasan sosial
dengan menjaga jarak saat beraktivitas.
"Dalam menjalani hari- hari ke depan semua warga Jakarta harus melakukan
yang namanya/social distancing measure/. yaitu menjaga jarak antar
warga, mengurangi kontak fisik, menjauhi tempat- tempat berkumpul orang
banyak,"kata Anies dalam pesan suaranya yang diterima ANTARA, Minggu (15/3).
Langkah cepat yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk
mencegah penyebaran virus corona COVID-19 yang begitu cepat di masyarakat.
Hingga langkah tersebut diperluas cakupannya, dengan menginstruksikan
warga tetap di rumah, yakni bekerja di rumah, belajar di rumah dan
beribadah di rumah.
Seiring perjalanan waktu istilah '/social distancing/', kembali
dipersempit dengan melakukan pembatasan fisik atau '/physical
distancing/' tujuannya agar warga benar-benar menjaga jarak secara fisik
dengan yang lainnya supaya penularan virus bisa dicegah.
Kini kebijakan '/social distancing/' atau/physical distancing/telah
berlaku di sejumlah daerah yang terkonfirmasi positif COVID-19 sesuai
dengan instruksi Presiden Joko Widodo.
Selain perkantoran dan sekolah, imbauan untuk dilakukan pembatasan
sosial juga berlaku di objak wisata, tempat hiburan dan pusat perbelanjaan.
Kini sejumlah pertokoan, pusat perbelanjaan dan objek wisata yang ada di
Jakarta sebagian besar telah tutup operasional.
Begitu pula layanan umum seperti Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang
menutup sementara layanan ziarah dan pengurusan izin penggunaan tanah
makam (IPTM) sampai batas waktu yang ditentukan yakni 12 April 2020.
Konsultan Kesehatan Masyarakat Nurul Nadia mengatakan kebijakan '/social
distancing/' dilakukan supaya penularan COVID-19 tidak cepat, ini
ditargetkan untuk usia produktif, karena di Indonesia banyak kelompok
milenilal yang usia produktif memiliki aktivitas mobilitas yang tinggi.
"Kebijakan kerja di rumah, tidak banyak kumpul tempat umum, acara publik
sudah harus dilarang, supaya jangan sampai menulari orang-orang yang
daya tahan tubuhnya rendah, menyebabkan penyebaran kasus meningkat dan
meningkatkan angka kematian," kata Nurul dalam diskusi virtual meliput
COVID-19, Selasa (17/3).
*Dampak*
Dalam upaya mencegah penularan virus corona penyebab COVID-19 yang
sangat cepat di masyarakat, penerapan '/social distancing/' memberikan
efek domino bagia dunia usaha maupun warga yang berpenghasilan rendah.
Sejumlah pekerja harian kehilangan sumber sebagian penghasilan, ketiga
warga dirumahkan. Seperti pengemudi ojek online, pedagang keliling,
pedagang kaki lima, dan penjual harian di sekolah.
Pengemudi angkot yang biasa ngetem di stasiun dan halte semakin lama
mengetem karena menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Pengemudi ojek online, yang setiap pagi kebagian mengantar siswa
sekolah, harus kehilangan pendapatan ketika siswa belajar dari rumah.
Pedagang kaki lima yang biasa berjualan di depan objek wisata tidak lagi
bisa menggelar dagangannya ketika Taman Margasatwa Ragunan ditutup
sementara dari tanggal 14 Maret sampai dengan 12 April 2020.
"Kalau sekolah diliburkan, objek wisata ditutup, karyawan juga
dirumahkan, nah.. kita mau naik apa yah," kata Nisam (40) pengemudi ojek
daring saat ditemui di Taman Margasatwa Ragunan, Sabtu (14/3).
*Kepedulian di tengah pademi*
Pademi COVID-19 selain menimbulkan kecemasan juga mengundang kepedulian
orang-orang untuk saling berbagi.
Seperti yang dilakukan relawan dari Sekolah Relawan yang rutin
membagikan suplai makanan dan APD untuk paramedis yang merawat pasien
COVID-19 di rumah sakit rujukan pemerintah.
Sekolah Relawan juga menggalang dana untuk menyalurkan Bantuan
Keberlangsungan Hidup bagi pekerja harian yang terdampak 'social
distancing' seperti tukang ojek daring, pengemudi angkot, pedagang
asongan, pengamen, loper koran, tuna netra, dan pedagang jajanan keliling.
Tidak hanya Sekolah Relawan, banyak organisasi kemanusiaan lainnya yang
bergerak membagikan bantuan kepada mereka yang kehilangan penghasilan
harian mereka. Seperti yang dilakukan KAMMI Pusat.
"Berbagi tidak memandang status sosial, apalagi dalam kondisi pademi
yang sudah global seperti ini, siapapun yang hidup mereka berhak
mendapat bantuan mengatasi kesulitanya," kata Staf bidang Kemitraan dan
Hubungan Kemasyarakatan Sekolah Relawan, Agil Mulqi Syahrial, Senin (30/3).
*Bersama melawan corona*
Sejak diumumkan dua pasien positif di Indonesia pada 2 Maret, dalam
kurun waktu 30 hari jumlah kasus COVID-19 positif Indonesia meningkat tajam.
Hingga Selasa (31/3) malam, data dalam situs corona.jakarta.go.id
menunjukkan sebanyak 1.528 kasus positif COVID-19 di Indonesia, dengan
rincian 1.311 orang dirawat, 81 sembuh dan 136 meninggal dunia.
Sebuah harapan untuk bisa melewati badai pademi ini terus digaungkan,
salah satunya dari pasien sebuh COVID-19, yakni pasien 01, 02 dan 03.
"Jadi kita punya kekuatan dari dalam diri kita untuk menyembuhkan,
asalkan kita disiplin minum air putih yang banyak," kata pasien 03 yang
dinyatakan sembuh dari Virus Corona COVID-19 dalam konferensi pers di
RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (16/3).
Selain disiplin minum air putih, menerapkan pola hidup sehat seperti
istirahat yang benar serta asupan gizi, sayuran dan vitamin juga perlu
dilakukan agar tubuh tetap fit.
"Jaga imun sistem, dan laksanakan personal 'hygene' yang ketat rajin
mencuci tangan dan dengarkan saran dari pemerintah," katanya.
Pasien 03 mangajak masyarakat untuk mematuhi apa yang disarankan oleh
pemerintah seperti melakukan pembatasan sosial sementara untuk mencegah
penyebaran Virus Corona (COVID-19).
Ia juga mengingatkan bahwa, bagi pasien positif Corona yang tidak
disertai tanda-tanda gejala apapun terkait pademi global tersebut lebih
berbahaya karena tanpa disadari telah menularkan kepada orang lain.
Oleh karena itu ia mengimbau kewaspadaan masyarakat untuk menjaga diri
dan orang lain dari penularan virus tersebut saat beraktivitas.
"Kasus saya yang dinyatakan positif tapi tidak memiliki tanda-tanda
apapun itu sebenarnya lebih berbahaya karena kita melakukanaktifitas
seperti biasa dan bisa menularkan ke orang yang imunnya dan kesehatannya
lebih lemah dari kita. Itu akan berefeknya lebih parah," kata pasien 03.
Perang bersama melawan penyebaran corona juga digaungkan di sejumlah
wilayah, mulai dari gerakan bersih masjid dengan penyemprotan
disinfektan, lalu disinfeksi di seluruh fasilitas umum, fasilitas
sosial, perkantoran, sekolah, hingga jalanan di Ibu Kota.
Dewan Masjid Indonesia (DMI) menggaungkan gerakan semprot disinfektan 10
ribu masjid di Indonesia, peluncurannya dilakukan di Masjid Jami' Al
Munawwar, jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (20/3).
Ketua DMI Indonesia Jusuf Kalla yang hadir dalam peluncuran gerakan
masjid itu mengatakan lebih baik sekarang sibuk di masjid dengan
bersih-bersih dari pada sibuk di rumah sakit.
Seiring bertambahnya jumlah kasus, kini masyarakat diminta semakin
memperketat isolasi mandiri di rumah aja, dengan beribadah dilakukan
dari rumah. Shalat Jumat diganti dengan shalat Dzuhur.
Seperti pesan sosial yang selalu disampaikan dalam konferensi pers di
Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
"Jadilah kita semua disiplin jadi pahlawan COVID-19, lindungi orang
lain, mari kita memenangkan perang melawan COVID-19, Indonesia bisa. Salam".
Oleh Laily Rahmawaty
Editor: Ganet Dirgantara