TEROR COVID-19 ADALAH DAMPAK DARI 

PERANG DAGANG RRT DAN USA.

 

Dalam memasuki gelombang ketiga, evolusi perkembangan kebudayaan Ilmu 
Pengetahuan manusia, kita telah menyaksikan terjadinya benturaan 
kekuatan-kekuatan nuclear Mutual Assured Destruction (M.A.D), yang telah 
memunculkan Perang Dingin, perang antara kubu negara-negara kapitalis 
Neoliberal mimpinan AS, melawan kubu negara-negara Sosialis, yang dampapaknya 
akan menyerempet-nyerempet bahaya terjadinya pemusnahan manusia. Fase ini telah 
kita lalui dengan selamat.

 

Evolusi kebudayaan Ilmu Pengetahuan manusia akan terus berlanjut, seperti apa 
yang sudah saya singgung dalam postingan saya tanggal 24.03.2020, yang  
berjudul Teror dimasa depan.

Dalam postingan itu sudah saya utarakan bahwa dewasa ini kita semua telah 
menyaksikan adanya benturan-benturan kekuasaan yang dahsyat antara RRT dan USA, 
dalam rangka seleksi alamiah survival of the fittest, yang tercermin dalam 
perang dagang RRT dan USA, yang dampaknya menyrempet-nyrempet bahaya penumpasan 
manusia, dalam bentuk Pandemi Virus Corona baru, yang ujutnya sangat 
kecilsekali, berukuran nano (0,0000000001)m=seper miliard meter,yang secara 
umum disebut VOVID-19, yang muncul di era Perang dangang antara RRT lawan USA, 
yang dampaknya telah menyerang kehidupan manusia di seluruh dunia,sehingga 
telah menjadi mimpi-buruk umat manusia dewasa ini; Kecuali di Indonesia dibawah 
kekuasaan rezim neolib Jokowi, dan segenap jajarannya, yang tercermin dalam 
kebijakannya  yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mungkin akan dapat diserang 
oleh virus Corona baru tersebut, dengan alasan bahwa Indonesia adalah negara 
Tropis, dengan alasan seperti itulah, maka para elite yang berkuasa di 
Indonesia, dan seluruh jajarannya mengeluarkan dalil : Indonesia ZERO Virus 
Cokorona baru yang disebut COVID-19. Menurut pendapat saya sikap seperti  itu 
saya tanggapi sebagai sikap yang sombong, arogan, dan tidak bertanggung jawab, 
yang sampai sekarang terus dipertahankan; Mengapa sampai begitu?, padahal 
bangsa Indonesia, yang katanya  berideologi Pancasila dan secara lantang 
memoropagandakan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP). Tapi apa yang terjadi 
di Indonesia dalam menyikapi  teror COVID-19, yang lelas-jelas mengancam 
kehidupan umat manusia diseluruh dunia. Dalam konteks ini Indonesia menolak 
kebijakan Lockdown yang berusaha untuk menyelanatkan umat manusia.

 

Virus corona yang  disebut VOVID-19  kini  telah menjadi topik terhangat di 
dunia sejak  terakhir Januari 2020. Virus ini mendadak menjadi teror yang 
mengerikan bagi masyarakat dunia, karena telah merenggut nyawa ratusan bahkan 
ribuan orang, hanya dalam waktu hitungan hari saja. Jadi memang benar-benar 
sangat mengerikan,karena virus ini terus mencari mangsanya, yaitu umat manusia 
tanpa pandang bulu, tanpa pandang kedudukan sosial manusia dalam masyarakatnya, 
tanpa pandang agama yang dianut oleh manusia, tanpa pandang etnis dll; 
sementara obatnya hingga saat ini belum ditemukan. 

 

Virus corona jenis baru mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah pada 
20 Januari 2020,  setelah otoritas kesehatan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, 
Tiongkok, mengatakan ada tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia 
yang disebabkan virus tersebut. Sejak saat itulah banyak negara di dunia, 
diantaranya 11 negara yang melakukan strategi Lockdown untuk melawan serangan 
ganas Covid-19 yang mematikan.

 

Lockdown dilakukan demi menekan angka yang terinfeksi akibat virus corona. 
Bahkan dengan harapan dapat menghentikan virus yang serupa dengan flu ini. 
Selain Tiongkok, berikut 11 negara-negara ikut melakukan lockdown  demi 
menggempur virus corona (Covid-19). Kita asemua suadah mengetahui sikap rezim 
Jokowi yang dari semula sudah mengatakan Indonesia adalah Negara zero virus 
Corona, karena menurut pehitunagnnya Indonesia adalah Negara Tropis, jadi 
takmungkin dapat dimasuki oleh Virus Corona (Covid-19). Ternyata perhitungan 
itu merupakan kesalahan perhitungan yang sangat fatal, sehingga Indonesia 
kehilangan banyak waktu yang berharga, yang dampaknya  telah menyebabkan 
Indonesia mengalami banyak korban manusia yang meninggal karena terpapar 
Covid-19, dan terancam bencana ekonomi yang parah, karena sejak  20 Januarai , 
awal diumumkannya wabah Covid-19, rezim Jokowi tidak mempunyai political will, 
political courage dan capacity to implement, untuk melakukan strategi 
pencegahan percepartan gerakan virus Corona,yaitu lockdown seperti yang 
dilakukan oleh Tionhok, Malaysia, Vietnam, dan  berbagai negara di Uni Eropa 
dan Amerika. Menurut pengamatan saya kebijakkan rezim Jokowi yang menolak 
Lockdown pada dasarnya disebabkan oleh kareana bagi Presiden Jokowi dan Perdana 
mentrinya yaitu Luhut Binsar Panjaitan (LBP), bagi mereka yang penting adalah 
mensukseskan pembangunan infrastruktur khususnya perencanaan pembanmgunan 
``Ibukota Baru`` di Kalimantan Timur, yang tentu saya padat modal artinya akan 
menyedot  banyak  sekali APBN. Oleh karena itulah presiden Jokowi beserta 
perdana mentrinya LBP menolak Lockdown, karena lockdown yang pasti akan 
menggangu dana pembangunan infrastruktur yang bermuatan teknologi canggih RRT. 
Oleh karena itulah Rezim Jokowi yang dipimpin oleh Perdana mentrinya LBP 
menolak Lockdown. Dalam konteks mengutamakan proyek infrastrukturd dan 
pembangunan Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur, terkesan kuat bahwa Rezim Jokowi 
dibawah pimpinan perdana mentrinya yaitu LBP, telah menjalankan kebijakan :  
Sayang Uang, tidak sayang Nyawa Orang!!!. Inilah yang terjadi, maka sunguh 
relefan jika saya mengatakan bahwa rezim Jokowi dibawah ptmpinan perdana 
mewntri LBP,telah  melanggar pasal ke dua  Pancasila, yang bunyjnya : 
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam sila yang kedua ini terkandung 
nilai-nilai: Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak 
asasinya yang harus dihormati oleh siapapun; Perlakuan yang adil terhadap 
sesama manusia. Kemanusiaan yang adil dan beadap dalam situasi dimana kehidupan 
Rakyat terancam oleh teror ganas Covid-19, yang mematikan, harus dijadikan 
tugas utama yang harus dijalankan,yaitu tugas melindungi kehidupan semua Rakyat 
Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya.

 

Jadi tidak salah jika saya mengatakan bahwa Jokowi dan LBP belum melek 
Pancasila, oleh karena itulah terkesan kuat bahwa Jokowi dan LBP tidak paham 
Pancasia atau bahkan anti pancasia berlindung dibawah jargon BPIP. Ini 
tercermin dalam kebijakannya yang mengutamakan uang untuk membiyayai pembanguan 
infrastruktur, dan pembanguan Ibukora Baru, ketimbang menggunakan uang  untuk 
membela kehidupan manusia-manusia (Rayat Indonesia) yang hidup di bumi pertiwi 
Indonesia, yang sekarang ini kehiduoannya terancam oleh teror ganas COVID-19.

 

Aneh bin ajaib, karena munculnya teror ganas yang pelakunya sama sekali tidak 
dapat dilihat oleh mata telanjang, karena wujutnya diperkirakan sangat kecil 
sekali sekitar satu permiliard m (0,0000000001m), ibarat mahluk gaib yang 
lahirnya dibidani oleh  perang dangang  antara RRT dengan USA.

Jadi dapat dipercaya bahwa apa yang disebut COVID-19 sesungguhnya adalah 
merupakan virus rekayasa manusia,  artinya virus Corona adalah bikinan manusia, 
yang sengaja atau tidak sengaja dijadikan sebagai senjata biologis, yang 
digunakan  dalam rangka seleksi alamiah survival of the fittest, yang tercermin 
dalam perang dagang antara RRT lawan USA. Tentang siapa pencipta Virus Corona 
sekarang ini masih merupakan rahasia besar yang masih sukar untuk dibongkar, 
tapi saya yakin bahwa entah kapan akhirnya mudah-mudahan akan bisa terbongkar. 
Berita yang tersiar Virus Corona adalah hasil pengembangan dalam penyelidikan 
virus Sars yang dilakukan di labur biologis di Wuhan, Oleh karena  virus Corona 
itu untuk pertama kalinya muncul di Wuhan RRT. Oleh karena itulah presisen 
Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Covid-19 adalah Virus Cina (Cina 
virus).

 

Roeslan.

 

 

 

 

 

Kirim email ke