-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1797-bumi-jeda-minum-kopi



Rabu 08 April 2020, 05:30 WIB

Bumi Jeda Minum Kopi

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group | Editorial
 
Bumi Jeda Minum Kopi

MI/EBET
..

SYAHDAN, pada 1854, fisikawan Jerman Hermann von Helmholtz menyadari hukum 
termodinamika dapat diterapkan pada alam semesta. Hukum kedua dari tiga hukum 
termodinamika, membahas apa yang disebut entropi. Entropi bermakna 
ketidakteraturan, ketidakseimbangan.

Sudah menjadi hukum alam bahwa suatu perubahan atau proses yang dapat terjadi 
dengan sendirinya (spontan) cenderung berlangsung menuju keadaan lebih tidak 
teratur atau peningkatan derajat ketidakteraturan (entropi). Itu artinya, alam 
semesta dan seisinya pada waktunya hancur, musnah, binasa.

Akan tetapi, manusia menantang proses entropi, untuk setidaknya menunda 
kehancuran. Manusia menantang entropi spontan dengan upaya terdesain, entah itu 
berupa intervensi, rekayasa, atau adaptasi. Kloning, rekayasa genetika, 
perbaikan gizi dan pola hidup, sampai bertaburannya klinik, obat, atau kosmetik 
antipenuaan merupakan upaya menantang entropi. Hasilnya, antara lain 
meningkatnya usia harapan hidup manusia. Bahkan konon ada ilmuwan yang terus 
meneliti untuk mengusahakan agar kelak kehidupan kekal.

Namun, akibatnya, kata Thomas J Bollyky, konsultan kesehatan masyarakat, “Dunia 
terlalu sehat.” Celakanya, dunia yang terlalu sehat menyebabkan bumi sakit. 
Manusia sehat dengan ekonomi sehat mengonsumsi makanan dan energi dengan rakus 
yang menyebabkan bumi sakit karena polusi.

Bumi yang sedang sakit, dalam bahasa James Ephraim Lovelock, ialah bumi yang 
sedang tak bisa mencapai kesimbangan untuk menopang dirinya sendiri. Pada 
1970-an, Lovelock, ilmuwan, enviromentalis, dan futuris, mengajukan teori yang 
disebut hipotesis Gaia. Gaia artinya bumi dalam bahasa Yunani. Hipotesis Gaia 
memformulasikan bumi punya sistem mengatur diri sendiri, swakelola.

Jika karena suatu keadaan bumi tak bisa mencapai keseimbangan untuk menopang 
kehidupannya, Gaia membuat umpan balik sibernetik yang mendorong mikroorganisma 
yang sebelumnya tersembunyi untuk menjaga keseimbangan sistem dengan cara 
tertentu.

Dalam sejarah, mikroorganisma bernama influensa, kolera, cacar, SARS, MERS, 
ebola, hadir menjaga keseimbangan bumi dengan cara mereka sendiri. Kini, hadir 
mikroorganisma bernama covid-19 menjenguk bumi yang sedang sakit untuk 
mendorong bumi menjaga keseimbangannya, memulihkannya, dengan cara tertentu.

Tanda-tanda kesimbangan bumi mulai terlihat. Langit cerah tanpa polusi. Halaman 
depan harian ini edisi Rabu, 8 April 2020, menampilkan foto langit bersih 
Jakarta. Begitu bersihnya langit Ibu Kota, Gunung Gede Pangrango yang biasanya 
tersembunyi di balik polusi terlihat jelas. Sejak kemarin pula, jagat maya 
diramaikan dengan unggahan foto langit bersih tanpa polusi.

Langit cerah tanpa polusi karena bumi sedang jeda dari pergerakan manusia yang 
bepergian atau bekerja menggunakan mesin-mesin rakus energi. Kita manusia 
belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Kita jeda, bumi pun jeda. Jedanya 
kita membuat covid-19 bisa segera kembali ke alamnya, tak perlu terlalu lama 
menjenguk kita, karena bumi lekas pulih kembali.

Itu artinya, meski punya kemampuan swakelola, bumi tetap memerlukan partisipasi 
kita sebagai penghuni bumi. Pemerintah terlibat membuat dan menerapkan berbagai 
kebijakan dan protokol untuk mencegah penyebaran covid-19 dan mengobati yang 
positif covid-19. Tenaga medis berpartisipasi merawat dan menyembuhkan mereka 
yang positif covid-19. Kita warga negara berpartisipasi mencegah penyebaran 
covid-19 dengan menjaga jarak fisik dan sosial, juga mencuci tangan pakai sabun 
dan mengenakan masker. Partisipasi kita akan membuat bumi lekas kembali 
mencapai keseimbangannya.

Saya optimistis sejak dalam pikiran, bahwa bila kita berpartisipasi membantu 
bumi memulihkan dirinya, kehidupan belum akan kiamat gara-gara covid-19. 
“Kehidupan akan menemukan jalannya,” kata Ian Malcolm dalam film Jurrasic Park. 
Sejak dalam pikiran, saya optimistis bahwa bumi serupa sedang jeda minum kopi 
karena covid-19, untuk menemukan jalan kehidupannya. Tapi, minum kopinya di 
rumah saja.
 





Kirim email ke