Ini Kiat Ekonom Senior Rizal Ramli:

BANGKIT DARI KETERPURUKAN EKONOMI PASCA CORONA
 
Sabtu, 11 April 2020 -21:59 


Jakarta, Akuratnews.com - Meski dampak pandemik virus Corona telah
memukul perekonomian Indonesia, peluang bangkit kembali tetap masih
ada. Asalkan, tim ekonomi negeri ini memiliki terobosan nyata yang
mampu menggairahkan kembali perekonomian rakyat.

"Semua masalah pasti selalu ada jalan keluarnya, selama kita memiliki
terobosan. Bahkan, masalah itu bisa menjadi peluang," ujar ekonom
senior, Rizal Ramli, Sabtu (11/4).

Rizal yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan,
dan Industri (Menko Ekuin) itu mengisahkan kesuksesan tim ekonomi di
era Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam mendorong
percepatan pertumbuhan ekonomi dari pertumbuhan ekonomi negatif ke
positif.

Ia menjelaskan, salah satu strategi kebijakan yang dijalankan Tim
Ekonomi Gus Dur sehingga sukses mempercepat pertumbuhan ekonomi dari
negatif 3 persen ke positif 4,9 persen adalah melalui program
restrukturisasi korporasi milik negara maupun unit usaha swasta.

“Seiring dengan itu, utang-pun berkurang, dan mencapai indeks Gini
Ratio terendah (0,31) sepanjang sejarah Indonesia adalah melalui
program restrukturisasi korporasi milik negara maupun unit usaha
swasta,” beber Rizal.

Rizal yang juga mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu menyebutkan,
sejumlah contoh sukses restrukturisasi korporat, antara lain,
restrukturisasi Bulog, PT Dirgantara Indonesia (PT DI), dan PT
Perusahaan Listrik Negara (PLN), pemisahan manajemen PT Telkom dan PT
Indosat, serta penanganan Bank Internasional Indonesia (BII). Selain
itu, kebijakan di sektor properti, Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha
Tani.

Ia menceritakan, semasa pemerintahan Suharto,Bulog dikenal sebagai
lembaga yang sangat korup. Kemudian, diubah oleh tim ekonomi Gus Dur
menjadi lembaga yang transparan, profesional, dan akuntabel.

Langkah pertama adalah melakukan mutasi besar-besaran yang mencakup
lima pejabat eselon satu (Deputi) dan 54 pejabat eselon dua (Kepala
Biro dan Kepala Dolog). Dari 26 Kepala Dolog, 24 di antaranya
dipensiunkan atau dimutasi. Total sekitar 80 karyawan di bawahnya
dipensiunkan secara dini.

Langkah selanjutnya adalah memangkas rekening Bulog dari 117 rekening
menjadi hanya 9 rekening. Sistem pembukuan di Bulog yang tidak jelas
standarnya diubah menjadi General Accepted Accounting Principles,
sehingga dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan. Ketika selesai
dibenahi, Bulog surplus Rp5 triliun (yang akhirnya malah dibelikan
pesawat Sukhoi pada era setelah Gus Dur).

Bulog di era pemerintahan Gus Dur, kata Rizal, juga meningkatkan
pembelian gabah, bukan beras, dari para petani. Tujuannnya untuk
memotong kecurangan tengkulak yang sebelumnya selalu membeli gabah
petani, mengoplosnya dengan beras impor, baru menjualnya ke Bulog.
Langkah ini efektif karena gabah lebih tahan lama disimpan di
gudang-gudang Bulog ketimbang beras.

Cara seperti itu, menurut Rizal, sangat menguntungkan petani, karena
selama musim panen ketika harga gabah turun, Bulog terjun untuk
menyerap dengan patokan harga dasar yang optimal. Sedangkan ketika masa
paceklik gabah stok Bulog dilepas dan digiling di desa-desa untuk
mencegah kenaikan harga beras.

Pada periode itu, sambung Rizal, Bulog juga dilarang impor beras, hanya
swasta yang boleh impor beras dengan dikenakan sedikit tarif (tanpa
sistem kuota). Akibat dari kebijakan ini, selama masa pemerintahan Gus
Dur harga beras menjadi sangat rendah dan stabil.

Tim ekonomi Gus Dur, imbuh Rizal, juga sukses menyelamatkan PLN dari
kebangkrutan dengan cara renegosiasi harga beli listrik dari swasta
yang ketinggian (akibat KKN peninggalan Suharto) dari USD cents 7-9/kWh
ke harga normalnya sekitar USD cents 3,5/kWh, sehingga beban utang
pemerintah dan PLN turun dari USD 80 miliar ke USD35 miliar. Selain
itu, revaluasi aset sehingga aset PLN meningkat 4 kali lipat dari Rp52
triliun ke Rp202 triliun dan modal PLN yang awalnya minus (-) Rp9,1
triliun bertambah menjadi Rp119,4 triliun.

Ditambahkannya, sewaktu masih bernama Industri Pesawat Terbang
Nusantara (IPTN) di tahun 1998, perusahaan itu masih merugi Rp75 miliar
dan hanya mencatatkan penjualan sebesar Rp508 miliar.

Setelah masuk era Gus Dur, IPTN diubah namanya menjadi PT Dirgantara
Indonesia seiring juga diubahnya paradigma dari industri yang bersifat
biaya tinggi menjadi industri penerbangan yang kompetitif.

PT DI tidak hanya memproduksi pesawat terbang atau helikopter, tetapi
juga memproduksi suku cadang dan komponen untuk memasok kebutuhan
industri pesawat terbang terkemuka di dunia (seperti: Boeing, Airbus,
British Aerospace, dll). Akibat kebijakan ini pada tahun 2001, PT DI
berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,4 triliun (nyaris 3 kali
lipat dibandingkan dengan tahun 1998) dan keuntungan sebesar Rp 11
miliar.

“Setelah era Gus Dur kondisi PT DI kembali memburuk karena kesalahan
strategi pemerintahan setelah Gus Dur, sehingga dampaknya harus memecat
6.600 karyawannya,” kata Rizal.

Sedangkan di sektor properti, sektor ini adalah entitas bisnis yang
terkait dengan lebih dari 100 jenis industri (seperti: semen, genteng,
besi baja, keramik, furnitur, kayu, cat, alat kelistrikan, dan
sebagainya) dan menyerap sangat banyak tenaga kerja.

Karena itu, demi kembali membangkitkan kembali sektor properti yang
terpuruk pasca krisis, pada April 2001 tim ekonomi Gus Dur meluncurkan
kebijakan restrukturisasi utang bagi para pengembang properti.

Kemudahan ini lebih diutamakan kepada para pengembang Rumah Sangat
Sederhana (RSH). Akibat kebijakan ini nilai kapitalisasi bisnis sektor
properti naik dari Rp9,88 triliun (2001) menjadi Rp12,99 triliun (2002)
dan Rp26,95 triliun (2003). Akhirnya menjadi pendorong pertumbuhan
ekonomi di era pasca Gus Dur.

Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Usaha Tani
Pada era Gus Dur, jumlah UKM yang terbelit kredit macet di perbankan
mencapai 14 ribu unit usaha. Tim ekonomi pada tahun 2000 meluncurkan
kebijakan memotong utang pokok UKM dan bunganya sebesar 50 persen
asalkan dibayar dengan tunai.

Menurutnya, kebijakan restrukturisasi utang UKM ini berkontribusi
menambah keuntungan Bank Mandiri sebesar Rp1 triliun pada tahun 2001.
Restrukturisasi utang juga diperoleh pelaku usaha tani di era Gus Dur.
Bila luas lahan yang dimiliki petani kurang dari 0,5 Ha, petani
mendapatkan potongan utang pokok sebesar 50 persen. Bila luas lahan
0,5-1 Ha, potongan utang pokok sebesar 35 persen. Bila luasa lahan
lebih besar dari 1Ha, potongan utang pokok sebesar 25 persen.

Pada era Gus Dur terjadi pemisahan manajemen silang (cross management)
dan kepemilikan silang (cross ownership) di tubuh PT Indosat dan PT
Telkom. Tim ekonomi Gus Dur ingin agar antara kedua perusahaan ini
berkompetisi secara fair, meninggalkan kerjasama terselubung yang
selama ini dipraktekan keduanya. Kebijakan ini menyebabkan negara
mendapatkan Rp5 triliun tanpa menjual selembar saham.

Di awal Juli 2001, terjadi rush di Bank Internasional Indonesia (BII)
yang awalnya hanya puluhan miliar rupiah kemudian mencapai Rp500
miliar. Kondisi ini membahayakan sistem perbankan nasional. Saat itu
IMF mengusulkan dua opsi, yaitu: 1) membail-out BII sebesar Rp 4,2
triliun; dan 2) melikuidasi BII yang memakan biaya Rp5 triliun.

Tim ekonomi Gus Dur tidak menuruti nasehat IMF karena IMF dipandang
memiliki rekam jejak menjerumuskan Indonesia pada krisis ekonomi yang
parah tahun 1997, namun memilih opsi sendiri.

Tim ekonomi segera menggelar konferensi pers mengumumkan bahwa
pemerintah melalui Bank Mandiri “seolah-olah” mengakuisisi BII sebesar
80 persen.

Keesokan harinya pers release ditempel di seluruh cabang BII.
Mengetahui bahwa pemerintah dan bank terbesar “berencana” mengakuisisi,
para nasabah BII pun merasa aman dan mulai kembali menyimpan dananya.
Kemudian tim ekonomi mengganti direksi BII dengan bankir-bankir didikan
Bank Mandiri.

“Setelah itu kondisi BII pun kembali normal. Pertama kali dalam sejarah
Indonesia, sebuah bank diselamatkan dari rush tanpa melakukan bail-out
dan likuidasi,” pungkasnya.

Kirim email ke