https://www.wartaekonomi.co.id/read280720/puluhan-tenaga-medis-yang-tangani-corona-meninggal-ini-deretan-penyebabnya


Minggu, 12 April 2020 12:55 WIB
Puluhan Tenaga Medis yang Tangani Corona Meninggal, Ini Deretan Penyebabnya

31 tenaga medis yang merawat pasien COVID-19
<https://www.wartaekonomi.co.id/tag30582/covid-19> meninggal dunia.
Berbagai faktor menjadi penyebabnya, apa sajakah itu?

Dalam laporan Kementerian Kesehatan RI, Dirjen Pelayanan Kesehatan
Kementerian Kesehatan (Kemenkes
<https://www.wartaekonomi.co.id/tag4247/kementerian-kesehatan-kemenkes>)
Bambang Wibowo mengungkap, kebutuhan APD sangat tinggi di tengah pandemi
tapi stok terbatas.

"Kebutuhan APD sangat tinggi, sementara persediaannya terbatas. Pada saat
pandemi seperti sekarang, APD ternyata tak hanya digunakan tenaga medis,
tetapi pasien dan masyarakat umum pun menggunakannya," kata Bambang
beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Corona dan DBD Ancam Warga Indonesia Sekaligus, Jubir
Pemerintah: Belum Disiplin, di Rumah Aja!
Baca Juga
Sungguh Terlalu! Negatif Corona, Pasutri ABK Kapal Pesiar Carnival Tetap
Ditolak Warga
<https://www.wartaekonomi.co.id/read280750/sungguh-terlalu-negatif-corona-pasutri-abk-kapal-pesiar-carnival-tetap-ditolak-warga>
Jika Tak Mau Bernasib Seperti AS, Italia, dan Inggris, Indonesia Harus
Lakukan Ini
<https://www.wartaekonomi.co.id/read280744/jika-tak-mau-bernasib-seperti-as-italia-dan-inggris-indonesia-harus-lakukan-ini>
Tak Ampuh Tangkal Penyebaran Corona, WHO: Lockdown Bahaya Jika . . .
<https://www.wartaekonomi.co.id/read277537/tak-ampuh-tangkal-penyebaran-corona-who-lockdown-bahaya-jika>
Jika Tak Mau Bernasib Seperti AS, Italia, dan Inggris, Indonesia Harus
Lakukan Ini
<https://www.wartaekonomi.co.id/read280744/jika-tak-mau-bernasib-seperti-as-italia-dan-inggris-indonesia-harus-lakukan-ini>

Keterbatasan APD ini menjadi ancaman serius para garda terdepan penanganan
COVID-19 di Tanah Air. Padahal, APD sangat dibutuhkan karena atribut itu
berfungsi sebagai penghalang bahan infeksius seperti virus dan bakteri yang
bisa saja menempel di kulit, mulut, hidung, atau selaput lendir mata para
tenaga kesehatan.

Tidak hanya itu APD ini pun digunakan untuk memblokir kontaminasi darah,
cairan tubuh, dan sekresi pernapasan pasien COVID-19. Lalu, saat alat
pelindungnya saja terbatas, dengan apa para tenaga medis ini berlindung?

*Sifat Tidak Jujur Pasien*

Masalah lain yang dihadapi petugas medis di Indonesia dalam menangani kasus
COVID-19 ini adalah sifat tidak jujur pasien. Ya, ini juga menjadi fakta
yang mesti dijadikan pembelajaran bagi siapapun. Ternyata, masih banyak
pasien tidak mau menjelaskan secara jujur kondisi kesehatan maupun riwayat
hidupnya. Dalam situasi ini apakah Anda tak sadar sangat membahayakan
petugas medis yang merawat?

Jika Anda tidak bercerita jujur misalnya dengan mengatakan tidak ada
keluhan batuk atau telah lakukan perjalanan ke luar negeri, petugas medis
tak akan memperlakukan Anda sebagai ODP (Orang Dalam Pemantauan) maupun PDP
(Pasien Dengan Pengawasan).

Kalau sudah begini, dokter dan tenaga medis sangat rentan terpapar karena
tidak menyadari telah merawat pasien namun tidak sesuai protokol COVID-19.
Akibatnya, para tenaga medis yang berada di garda terdepan dalam Indonesia
lawan corona, banyak yang jadi korban. Konyol sekali, bukan?



Kejadian ini terjadi di Purwodadi, Jawa Tengah. Petugas medis dan pegawai
rumah sakit terkena imbas karena pasien dengan gejala COVID-19 tak
bercerita jujur mengenai kondisinya.

Si pasien tidak mengaku bahwa dirinya tak habis bepergian dari luar negeri
maupun daerah zona merah COVID-19. Karena pernyataan tersebut, pasien tak
ditempatkan di ruang isolasi melainkan di bangsal biasa dengan pasien
non-COVID-19.

Setelah perawatan beberapa hari, ditemukan gejala pneumonia. Setelah itu
baru pasien mengaku jujur bahwa dirinya habis bepergian ke luar negeri.
Pernyataan tersebut lantas membuat seluruh petugas medis yang menangani
pasien wajib melalukan *rapid test*.

*Adanya Kegiatan Medis yang Berpotensi Menularkan Corona Lewat Udara*



Nasib petugas medis yang tak langsung bertemu dengan pasien COVID-19 pun
kini semakin mengkhawatirkan. Sebab, WHO belum lama ini mengeluarkan
pernyataan bahwa virus corona COVID-19 bukan hanya menular lewat droplet,
melainkan airborne atau menular lewat udara.

Namun, ada catatan penting yang diselipkan WHO dalam pernyataannya itu.
Dikatakan di sana, penularan virus corona COVID-19 melalui udara mungkin
terjadi ketika melakukan prosedur pendukung yang menghasilkan aerosol.

Aktivitas macam apa itu? WHO memberi contoh, prosedur medis seperti
intubasi endotrakeal, bronkoskopi, penyedotan terbuka, pemberian pengobatan
nebulisasi, ventilasi manual sebelum intubasi, mengubah pasien ke posisi
tengkurap, memutus hubungan ventilator pada ventilasi tekanan positif non
invasif, trakeostomi, dan resusitasi kardiopulmoner.

Nah, kegiatan di atas ternyata banyak dijumpai dalam praktik sehari-hari
dokter gigi dan dokter telinga, hidung, tenggorokan (THT). Karena itu,
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengimbau
agar dokter gigi dan THT tak beroperasi selama pandemi. Ini dilakukan untuk
meminimalisir penularan virus corona COVID-19 pada dokter gigi dan THT.



Dari semua fakta ini, tentu menjadi tugas kita bersama bangsa Indonesia
untuk saling melindungi. Seperti pesan Jubir Pemerintah Penanganan COVID-19
Achmad Yurianto, caranya sederhana, berdiam diri di rumah agar penyebaran
virus tak semakin meluas.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses
internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari
kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran
Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas
pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi *klik di sini
<https://www.wartaekonomi.co.id/ad_inventory/view/446>*.

Partner Sindikasi Konten: Okezone
<https://www.okezone.com/tren/read/2020/04/12/620/2197924/inilah-penyebab-banyak-tenaga-medis-di-indonesia-meninggal-terkena-corona-covid-19?page=1>

Kirim email ke