*Agaknya bahan pelicin kepada pemberi izin kurang lancar, dan oleh sebab
itu terbitnya izin akhir Maret, hal ini ibarat motor yang kurang minyak
pelicinan maka jalannya tak cepat, bisa-bisa mogok. hehehehe*

https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/15911/diajukan_november_2019__izin_impor_gula_baru_terbit_akhir_maret
*Diajukan November 2019, Izin Impor Gula Baru Terbit Akhir Maret*

Jumat , 10 April 2020 | 08:42


JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan bahwa
sulitnya birokrasi untuk memperoleh izin impor menjadi alasan impor gula
terlambat sehingga stok di pasaran menipis dan menyebabkan harga komoditas
tersebut mahal.

Dalam rapat virtual bersama Komisi IV DPR, Budi Waseso atau akrab disapa
Buwas menjelaskan bahwa BUMN pangan tersebut telah mengajukan impor gula
mentah (raw sugar) kepada Kementerian Perdagangan sejak November 2019.
Impor gula mentah itu untuk diolah melalui anak usaha mereka, yakni Pabrik
Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) menjadi gula kristal putih atau gula
konsumsi.

Bulog baru bisa merealisasikan impor gula mentah tersebut pada akhir Maret,
setelah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas di Kemenko Perekonomian
dengan izin yang diperoleh sebesar 29.750 ton. "Namun, ini juga baru bisa
direalisasikan akhir Maret, karena begitu sulitnya birokrasi yang kami
tempuh sehingga pada akhirnya kami tidak bisa menggiling gula untuk
kepentingan-kepentingan tadi," kata Buwas di Jakarta, Kamis (9/4/2020)

Ia memaparkan bahwa Bulog telah mengajukan izin impor pada November 2019
lalu karena PT GMM telah selesai masa giling tebu, sehingga harus dipasok
melalui gula mentah.

Bulog juga mengusulkan untuk impor gula kristal putih (GKP) atau gula
konsumsi agar bisa segera dipasok ke pasaran dan harga gula kembali stabil.
Namun, prosedur penerbitan izin impor pun juga diakuinya tidak mudah.

"Kami sedikit memaksa pada bulan Maret akhir untuk kami bisa mengimpor gula
kristal putih yang mana kami mengajukan untuk 20 ribu ton minimal. Namun,
karena prosedurnya tidak mudah, akhirnya ada keterlambatan," kata Buwas.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS),
harga rata-rata gula pasir nasional hingga Kamis (9/4/2020) sudah mencapai
Rp 18.550 per kilogram. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga
eceran tertinggi (HET) gula yakni Rp 12.500 per kg.

Namun demikian, Buwas mengaku sejauh ini impor gula konsumsi yang telah
masuk sebanyak 5.000 ton. Kemudian, Bulog juga mendapat pasokan gula dari
Pabrik Gulaku di Lampung sebanyak 15.000 ton yang saat ini tengah
didistribusikan.

Kementerian Perdagangan sebelumnya telah mengeluarkan keputusan untuk
mengalihkan stok gula rafinasi sebesar 250.000 ton yang biasa digunakan
oleh industri makanan dan minuman, untuk diolah menjadi gula kristal putih
atau gula konsumsi masyarakat.

Sebanyak 250.000 ton gula rafinasi tersebut saat ini berada di
pabrik-pabrik industri gula di Indonesia. Artinya, tidak memerlukan waktu
lagi untuk memasukkan barang tersebut ke dalam negeri, atau tidak
diperlukan impor.

"Kami yakin sesegera mungkin harga gula kembali normal, namun sampai hari
ini di beberapa pinggiran Jakarta, masih mencapai Rp 15.000 per kg, ini
akan kami lakukan terus operasi pasar untuk gula," kata Buwas. *(E*

Kirim email ke