https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/15786/pemimpin_ideal_untuk_mengatasi_krisis



Pemimpin Ideal untuk Mengatasi KrisisRabu , 08 April 2020 | 09:00

CORONA virus disease-2019 (Covid-19) membuat kekacauan di mana-mana. Hanya
dalam waktu tiga bulan sudah menyebar kelebih dari 200 negara dan teritori.
Sektor bisnis yang langsung terpukul adalah pariwisata, otomotif,
penerbangan dan kelautan, kDihadapkan kepada kekacauan yang dapat merembet
ke masalah sosial dan keamanan, serta masa pemulihan yang lama, para
pemimpin berbagai negara rajin muncul di depan kamera. Mereka menjelaskan
kebijakan yang sudah dan akan diambil, disertai harapan agar rakyat ikut
serta menangani dMateri yang disampaikan Trump dan Lee, nyaris serupa.
Trump gelontorkan Rp 275,8 triliun, sedangkan Lee Rp 63 triliun. Keduanya
meyakinkan rakyat bahwa pemerintah akan berupaya keras menangani Corona.

Sebaliknya mereka meminta rakyat untuk mematuhi seruan pemerintah. Kata
Lee, bila beli makanan atau minuman di pusat jajanan. Bawa pulang. Makan
dan minumlah bersama keluarga. Para pemimpin kini tidak mengutarakan garis
besar saja, namun sudah menyangkut hal-hal yang mendasar dan menyentuh hati
rakyat. Hal itu merupakan bagian dari strategi memimpin dan mengorganisir
rakyat.

*VUCA*

Menurut teori, yang diambil dari dunia bisnis, pemimpin negara lazim
menghadapi periode *Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity* atau
VUCA. Kondisi yang dapat membawa negara kepada krisis karena tidak terduga
dan berkepanjangan.

Pemimpin sangat diuntungkan bila mempunyai organisasi yang teratur, rapih,
berdasarkan hirarki yang jelas dan mempunyai logistik yang cukup.
Sebagaimana yang terlihat pada Trump dan Lee. Lee ternyata juga telah
mempunyai pengalaman menghadapi pandemi SARS pada 2003.ampak penyebaran
Covid-19.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampil secara berkala disertai
Wakil Presiden Mike Pence dan para pejabat terkait. Bila Trump muncul
dengan tim, PM Singapura Lee Hsien Loong empat kali tampil sendiri sejak 15
Maret sampai 2 April lalu.onstruksi dan real estate serta manufaktur.

Jika ditelisik lagi, lebih banyak subsektor yang terpengaruh dan sangat
banyak karyawan yang dirumahkan. Cuti tanpa gaji atau pemutusan hubungan
kerja (PHK).

Sepertinya juga ada kesulitan memahami perilaku Corona. Satu pihak
menyatakan, ia tidak akan menular melalui udara, tetapi belakangan pendapat
itu dianulir. Sejumlah menyatakan lockdown adalah yang efektif memutus
penularan, namun yang lain menentang. Seseorang menyatakan tidak perlu
memakai masker, namun yang lain berpendapat perlu dan seterusnya.

Gara-gara Corona masyarakat mendapat banyak beban. Takut terinfeksi virus.
Cemas kehilangan pekerjaan atau bahkan sudah kehilangan pekerjaan. Bingung
dengan demikian banyak informasi. Bukan hanya masyarakat yang terpengaruh.
Pemerintah dan perusahaan tidak menduga dampak Corona sebesar dan sedalam
yang dirasakan saat ini. Mereka terpaksa harus mengambil langkah-langkah
yang tidak populer.

*Lebih Menyeluruh*

Dampak Covid-19 lebih menyeluruh dibandingkan dengan *Middle East
Respiratory Syndrome* (MARS ) dan* Severe Accute Respiratory Syndrome* (SARS)
karena mencakup seluruh dunia dan mempengaruhi banyak sektor bisnis. Inilah
salah satu contoh keunggulan perang biologi dibanding perang nuklir. Tidak
menimbulkan kerusakan infrastruktur tetapi melumpuhkan kehidupan umat
manusia.

Bank Pembangunan Asia meramalkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020
akan mencapai 2,5%, Bank Indonesia ( 4,2-4,6%), Moody’s InvestorService
(3%), Bank Dunia (2,1%), Kementerian Keuangan (-0,4 -2,3%) Morgan Stanley
(3,7%) sedangkan Standard and Poor’s Global Rating (4,7%).

Dihadapkan kepada kekacauan yang dapat merembet ke masalah sosial dan
keamanan, serta masa pemulihan yang lama, para pemimpin berbagai negara
rajin muncul di depan kamera. Mereka menjelaskan kebijakan yang sudah dan
akan diambil, disertai harapan agar rakyat ikut serta menangani dampak
penyebaran Covid-19.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampil secara berkala disertai
Wakil Presiden Mike Pence dan para pejabat terkait. Bila Trump muncul
dengan tim, PM Singapura Lee Hsien Loong empat kali tampil sendiri sejak 15
Maret sampai 2 April lalu.

Materi yang disampaikan Trump dan Lee, nyaris serupa. Trump gelontorkan Rp
275,8 triliun, sedangkan Lee Rp 63 triliun. Keduanya meyakinkan rakyat
bahwa pemerintah akan berupaya keras menangani Corona.

Sebaliknya mereka meminta rakyat untuk mematuhi seruan pemerintah. Kata
Lee, bila beli makanan atau minuman di pusat jajanan. Bawa pulang. Makan
dan minumlah bersama keluarga. Para pemimpin kini tidak mengutarakan garis
besar saja, namun sudah menyangkut hal-hal yang mendasar dan menyentuh hati
rakyat. Hal itu merupakan bagian dari strategi memimpin dan mengorganisir
rakyat.

*VUCA*

Menurut teori, yang diambil dari dunia bisnis, pemimpin negara lazim
menghadapi periode *Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity* atau
VUCA. Kondisi yang dapat membawa negara kepada krisis karena tidak terduga
dan berkepanjangan.

Pemimpin sangat diuntungkan bila mempunyai organisasi yang teratur, rapih,
berdasarkan hirarki yang jelas dan mempunyai logistik yang cukup.
Sebagaimana yang terlihat pada Trump dan Lee. Lee ternyata juga telah
mempunyai pengalaman menghadapi pandemi SARS pada 2003.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Singapura banyak membangun *Intensive Care
Unit* (ICU) di rumah-rumah sakit swasta. Saat ini semua ICU langsung
dikendalikan pemerintah.

Lee juga mewarisi situasi politik yang lebih nyaman. Lee jarang mendapati
kritik dan saran dari akademisi ilmu sosial dan politik yang menurut
ayahnya, sok ahli. Para ahli yang punya teori favorit tentang bagaimana
masyarakat harus dibangun, kemiskinan harus dikurangi dan kesejahteraan
harus diperluas.

Sayangnya, tidak semua pemimpin memiliki kelebihan seperti di atas. Mereka
seringkali dihadapkan kepada kondisi yang serba minim termasuk soal
informasi dan pengalaman menghadapi krisis. Sekalipun begitu pemimpin tetap
dituntut mengambil sikap tegas dan keputusan yang jelas.

*Tujuh Aspek*

CEO General Electric untuk Indonesia Handry Satriago mengungkapkan, tujuh
hal yang harus dimiliki pemimpin pada masa pandemi virus Corona dan dampak
ekonomi, baik pada saat ini maupun nanti.

Ketujuh hal itu didapatnya dari pengalaman dan berbagai pihak yang
mengajarkan bagaimana seharusnya pemimpin dalam menghadapi krisis.

1. *Leader* dalam situasi krisis harus mulai dengan asumsi bahwa* problem
is worse than it appears*. Sehingga langkah mengatasinya dan rencana A, B,
C, D-nya kuat. Bukan untuk menjadi pesimis dan negative thinking, tapi
realistis dan berhitung dengan cermat, sehingga aksinya jadi cepat dan
tepat. Jangan menyepelekan sesuatu ketika krisis datang.

2. *Be Transparent*. *Candid*. Masalah harus diketahui dengan jelas dan
disampaikan kepada* followers* dengan transparan. Tidak terjadi panik kalau
masalah disampaikan dengan kejelasan langkah-langkah yg akan dilakukan
untuk mengatasinya.

3. Ketika krisis datang, Leader harus muncul, *show up!...Show that we are
the one who set the tone!* tidak bisa di belakang layar dan meminta orang
lain yang memimpin. Team penanganan bisa dan boleh dibentuk, tapi yang
tampil dan berkomunikasi dengan *followers*-nya haruslah* leader* itu
sendiri.

4. *Act with humility*. Selalu siap belajar dan mendengarkan masukan.
Jangan khawatir terlalu banyak mendengarkan nanti bingung mengambil
keputusan. *Leader* yg baik pada akhirnya akan bisa memilah masukan dan
kemudian memutuskan.

5. *Lead with focus*. Ambil keputusan, walaupun tidak populis.
Komunikasikan rasionalitasnya. Eksekusi dengan tingkat monitoring yang
tinggi. Selalu akan ada orang yg tidak senang, *that’s ok...we cannot
satisfy everybody, but it is our job to navigate the ship through the
danger.*

6. *Be Creative* dalam langkah-langkah mencari solusi. Hard time biasanya
memberikan kemampuan *think of the unthinkable*. Pergunakan itu. Jangan
jadikan doa dan harapan sebagai strategi. Doa perlu selalu dilakukan,
harapan harus selalu dihidupkan, tapi itu bukan strategi mengatasi krisis.

7. *Have resiliency,* daya tahan dalam mengatasi krisis. Hantaman akan
selalu datang dari kiri dan kanan. Fokus saja terhadap langkah yg
dilakukan. Buang jauh jaim baper, dan *blaming others*. Saat krisis tidak
ada waktu untuk itu.

*Versi Lee Kwan Yew*

Sebagai penutup, PM Singapura Lee Kuan Yew ( 1963-1990) dalam wawancara
dengan Graham Allison cs dari Harvard John F. Kennedy School of Government
menyatakan:

(1) pemimpin harus melukiskan visinya tentang masa depan kepada rakyatnya.
Menterjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang harus dia yakinkan
kepada rakyatnya bahwa kebijakan itu layak didukung. Pemimpin kemudian
menggembleng rakyat untuk membantunya dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.

(2) Pemimpin tidak harus populer sepanjang saat ia memerintah. Jika
pemimpin ingin menjadi populer sepanjang waktu, ia akan menjadi pemimpin
yang buruk.

(3). Pemimpin jangan terlalu khawatir atau terobsesi dengan jajak pendapat
atau jajak popularitas. Pemimpin yang mengkhawatirkan hal-hal seperti itu
akan menjadi pemimpin yang lemah. Pemimpin yang akan mengikuti kemana angin
bertiup.

(4). Pemimpin bertugas untuk menginspirasi dan menggembleng rakyat, bukan
untuk membagi pikiran kalut anda. Rakyat akan berkecil hati jika pemimpin
membagi kekalutan itu.(*sjarifuddin*)


<https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/15786/pemimpin_ideal_untuk_mengatasi_krisis#comment>
<https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=/opinidaneditorial/read/15786/pemimpin_ideal_untuk_mengatasi_krisis>

Kirim email ke