WHO Balas Tuduhan Tak Masuk Akal Politikus AS dengan Fakta

http://indonesian.cri.cn/20200412/dffcc2d4-d825-20ef-80d6-396379dcf5df.html
2020-04-12 17:29:52


Baru-baru ini, pemerintah AS berturut-turut memprovokasi pada WHO. Presiden AS Donald Trump mencurigai tanggapan WHO terhadap wabah, menuduh WHO selalu memusatkan Tiongkok. Sementara itu, beberapa politikus AS juga mengarahkan ujung tombaknya kepada WHO. Pakar menunjukkan, AS menjunjung tinggi ‘Amerika First’, dan secara membuta mengejar maksimalisasi kepentingan negeri sendiri, mencoba menghindari tanggungjawab internasional. Di bawah latar belakang penanggulangan wabah global menyerangi WHO, mungkin merupakan pertandanya AS mundur lagi dari kelompok.


Politikus AS memberi tekanan kepada WHO selangkah demi selangkah.

Pada 10, April, Donald Trump dalam briefing pers mengenai wabah di Gedung Putih menyatakan, akan mengeluarkan pernyataan berkaitan WHO pada minggu selanjutnya, dan bermaksud akan untuk sementara menghentikan dukungan dana senilai US$500 juta kepada WHO. Menurut laporan situs web “Politico” AS pada 10 April, para asisten Donald Trump sedang membahas sejumlah langkah yang mungkin lebih berpengaruh agar menghukum WHO, termasuk memutuskan dukungan dana dari AS, dan mencoba membentuk suatu lembaga pengganti.

Pakar terkait Tiongkok Su Xiaohui berpendapat, Senator AS menuntut Dirjen WHO Tedros menghadiri sidang Kongres AS untuk memberi bukti, sebenarnya ialah membalas dendam. Sebenarnya, Kongres AS sama sekali tidak mempedulikan informasi yang diumumkan WHO dan upaya WHO untuk menanggulangi wabah, mereka hanya berharap WHO bekerja sama dengan AS untuk menstigmakan Tiongkok.


WHO Membalas Tuduhan Tak Masuk Akal Politikus AS dengan Fakta

Berkenaan dengan tuduhan tak masuk akal terhadap WHO belakangan ini, WHO memberi balasan keras. Pada 8, April, yakni keesokan hari Donald Trump menganccam akan dengan kuat menghalangi dukungan dana AS kepada WHO, Dirjen WHO Tedros dalam jumpa pers rutin mengambil kesimpulan mengenai 5 pekerjaan penting penanggulangan wabah WHO selama 100 hari setelah menerima informasi dari Tiongkok tentang kasus pertama wabah Covid-19.

Pertama, WHO berupaya mendukung pembangunan kemampuan penanggulangan wabah berbagai negara. Dan kini WHO telah menerima dana atau komitmen penanggulangan wabah senilai lebih dari US$800 juta.

Kedua, menyediakan informasi tepat soal wabah bersama dengan mitra dan memberantaskan kejahatan informasi.

Ketiga, WHO telah mengantar 2 juta lebih unit perlengkapan perlindungan personal kepada 133 negara, dan pada beberapa minggu mendatang akan mengantar lagi 2 juta unit lebih, serta mengantar sejuta unit lebih alat-alat deteksi diagnose kepada 126 negara seluruh dunia.

Keempat, berupaya membina dan memobilisasi pekerja medis. 1,2 juta orang lebih telah menggunakan 43 jenis bahasa mendaftar nama 6 pelajaran di platform WHO, dan skala ini akan mencapai puluhan juta orang pada masa depan.

Kelima, berkoordinasi penelitian dan pengembangan lebih pesat yang berkaitan dengan wabah; menghidupkan proyek ‘percobaan solidaritas”, berupaya bersama dengan 90 negara lebih untuk secepatnya menemukan metode pengobatan yang efektif; berkoordinasi dengan 40 negara lebih untuk menyusun rancangan penelitian.

Mengenai tuduhan Donald Trump terhadap WHO pada 7, April, Tedros mengatakan, “Jika kamu tidak mau lihat lebih banyak kantung mayat, maka jangan mempolitisasikan virus. Informasi yang saya mau sampaikan sangat singkat: Silakan karantina virus corona yang dipolitisasikan. Suatu negara yang bersolidaritas sangat penting demi mengalahkan virus yang bahaya ini.” Dia menekankan pula, titik berat pekerjaan WHO sellau ialah bekerja sama dengan berbagai negara dan mitra, seluruh dunia bersatu padu untuk menanggulangi ancaman ini; biar masa lalu maupun nanti, WHO akan dengan teguh berupaya menyediakan jasa kepada rakyat seluruh dunia secara adil, objektif dan netral.”

Pakar Berpendapat AS yang Hobi “Mundur” Ingin Menghindari Tanggungjawab Lagi

Pakar terkait Su Xiaohui menyatakan, AS berteriak-teriak akan menghentikan sementara biaya keanggotaan kepada WHO, ini sebenarnya adalah tidak mempedulikan tanggungjawab internasional.

Kini, AS masih hutang biaya keanggotaan tahun 2019 kepada WHO, lebih dari 70%, dan harus membayar biaya keanggotaan tahun 2020 sebanyak US$120 juta sebelum 1, Januari tahun ini, dan belum bayar satu sen pun pada hingga kini.

Su Xiaohui menyatakan, suara kritik dalam AS kepada pemerintah AS tak henti-hentinya. Sebenarnya, pemerintah AS mengabaikan peringatan yang berulang kali dikeluarkan WHO, langkah pencegahan dan pengendalian wabah serta persiapan material medis sangat ketinggalan, dan akhirnya mengakibatkan kehilangan pengendalian situasi merebaknya wabah. Pemerintah AS menimpakan kesalahan ini kepada Tiongkok menjadi cara utama AS untuk melarikan diri dari tanggungjawab. Dan pada saat ini, WHO membenarkan dan mendukung hasil pencegahan dan pengontrolan wabah Tiongkok, dan ini mempersulitkan AS menimpakan kesalahan kepada Tiongkok, maka politikus AS tentulah menjadi gila mengamuk.



 Kesombongan Senator AS Tidak Bisa Tutupi Kesalahan AS

http://indonesian.cri.cn/20200412/eee628b8-5a6b-af1c-2ad5-cbbec0a8d61e.html
2020-04-12 15:07:28

Senator Partai Republik AS Lindsey Graham dalam acara Fox News AS secara kasar mengatakan, lebih dari 16.000 warga AS meninggal dunia dan 17 juta warga kena PHK harus ditanggung jawab oleh Tiongkok.

Baru-baru ini argumentasi tersebut telah banyak dibicarakan oleh politikus AS, mereka wanti-wanti menimpakan kesalahan AS kepada Tiongkok untuk membela kepentingan egois grup dan partai sendiri.

Akan tetapi, kesalahan AS tidak bisa ditimpakan kepada orang lain.

Washington Post baru-baru ini menunjukkan, sejak menerima peringatan wabah dari Tiongkok pada 3 Januari hingga AS menjalani keadaan darurat nasional pada 13 Maret, selama 70 hari ini, AS tidak berbuat apa yang sukses untuk menangani wabah Covid-19, sehingga waktu yang diperjuangkan Tiongkok begitu dibuang oleh AS.

Dalam editorialnya, Boston Global Times menunjukkan, keputusan Gedung Putih membuat AS, negara yang terkaya di dunia, akan mengalami malapetaka yang sulit digambarkan. New York Times mengkritik, tanggapan pemerintah AS pada wabah Covid-19 sebenarnya terpengaruh oleh “perhitungan politik”.

Beberapa oknum AS termasuk Lindsey Graham tidak meninjau kembali kesalahannya di bidang penanganan wabah dan kebijakan ekonomi, malahan menimpakan wabah Covid-19 dan penganggurannya di negerinya kepada Tiongkok, perbuatan ini sama sekali tidak beralasan.

Menimpakan kesalahan tidak bermanfaat, solidaritas dan kerja sama barulah solusi satu-satunya untuk mengalahkan wabah Covid-19.



 70 Hari Disia-siakan AS untuk Tangani Covid-19

http://indonesian.cri.cn/20200412/a34a28eb-6dc5-b704-86d5-d9b9c2f7ff42.html
2020-04-12 15:15:41

Sejalan dengan semakin beratnya wabah Covid-19 di AS, Washington Post baru-baru ini menganalisis bagaimana pemerintah AS menyia-nyiakan 70 hari pertama pada tahap awal meletusnya wabah ini.

Artikel itu menyebut, AS selalu dianggap sebagai negara yang paling mantap untuk menangani penyakit menular, tapi saat ini jumlah pasien meninggalnya lebih banyak dari pada negara mana pun.

Artikel itu mengatakan, 70 hari setelah menerima peringatan wabah Covid-19, presiden Donal Trump baru menyadari betapa berat virus ini, sehingga  lebih dari 2 bulan begitu saja disia-siakan.

Artikel itu berpendapat, pertikaian intern dan perlawanan pimpinan menghambat pekerjaan penanggulangan wabah di AS. Pada awal wabahnya, Direktur Institut Penyakit Alergi dan Menular AS Anthony S. Fauci dan Menteri Kesehatan AS  Alex Azar telah menyatakan pendiriannya kepada Trump, namun Trump menarik pendapat dari penasihat lain yang tidak memiliki kualifikasi maupun pengalaman di bidang penyakti menular, termasuk menantunya Jared Kushner.

Artikel itu mengatakan, kenyataan saat ini telah terbukti bahwa penundaan waktu oleh pemerintah AS akan mengeluarkan korban besar.

Kirim email ke