-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/berita/d-4975734/permodelan-fkm-ui-bila-mudik-tak-dilarang-sejuta-orang-kena-corona-berat?tag_from=wp_cb_mostPopular_list



Permodelan FKM UI: Bila Mudik Tak Dilarang, Sejuta Orang Kena Corona 'Berat'

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 13 Apr 2020 21:18 WIB
42 komentar
SHARE URL telah disalin
Presiden Joko Widodo menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak diperkenankan 
mudik demi mencegah penularan virus corona (COVID-19).
Ilustrasi stasiun transportasi untuk mudik. (Antara Foto/detikcom)
Jakarta -

Hingga kini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum melarang aktivitas mudik 
sepenuhnya. Bila nantinya mudik tidak dilarang, diprediksi angka positif 
COVID-19 yang butuh pelayanan rumah sakit bakal tembus sejuta kasus.

Prediksi tersebut merupakan hasil permodelan dari tim Fakultas Kesehatan 
Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), terdiri atas Iwan Ariawan, Pandu 
Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril.
Baca juga:
Mahfud Md Ungkap 2 Alasan Pemerintah Tak Larang Masyarakat Mudik

Draf 'Permodelan COVID-19 Indonesia, Apa yang Terjadi Jika Mudik?' bertanggal 
12 April diterima detikcom dari Pandu Riono, salah satu tim FKM UI.

Berikut ini jumlah orang yang bakal terjangkit COVID-19 dalam kondisi berat 
sehingga perlu perawatan rumah sakit, dibagi berdasarkan skenario 'dengan 
mudik' dan 'tanpa mudik'.

Estimasi kumulatif kasus COVID-19 di Pulau Jawa:

1. Jawa selain Jabodetabek (dengan mudik): +/- 1.000.000 kasus COVID-19 perlu 
perawatan RS
2. Jawa selain Jabodetabek (tanpa mudik): +/ 800.000 kasus COVID-19 perlu 
perawatan RS
3. Jabodetabek: +/- 250.000 kasus COVID-19 perlu perawatan RS

Angka tersebut diprediksi tercapai pada 1 Juli 2020. Sebelum momen puncak itu, 
angka kasus COVID-19 yang perlu perawatan rumah sakit bakal terus naik. Pada 24 
Mei atau 1 Syawal, angka positif COVID-19 yang perlu perawatan RS sudah 
menembus 500 ribu kasus, bila tanpa larangan mudik.
Baca juga:
Jokowi: Ada Kelompok Pemudik yang Tidak Bisa Begitu Saja Kita Larang

Selisih antara skenario dan mudik dengan tanpa mudik sekitar +/- 200.000 kasus 
COVID-19 yang perlu perawatan RS. Jadi, bila pemerintah melarang mudik, 
tambahan 200 ribu kasus COVID-19 yang perlu perawatan RS tidak akan terjadi.

"Ya ada penambahan kasus 200 ribuan yang kita bisa cegah terjadi kalau kita 
membatasi mudik semaksimal mungkin," kata Pandu Riono kepada detikcom, Senin 
(13/4/2020).
Permodelan COVID-19 Indonesia, 12 April 2020. (Tim FKM UI)Permodelan COVID-19 
Indonesia, 12 April 2020 (Tim FKM UI)

Selanjutnya
Halaman
1 2



                       ------------



https://news.detik.com/berita/d-4975734/permodelan-fkm-ui-bila-mudik-tak-dilarang-sejuta-orang-kena-corona-berat/2





Permodelan FKM UI: Bila Mudik Tak Dilarang, Sejuta Orang Kena Corona 'Berat'

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 13 Apr 2020 21:18 WIB
42 komentar
SHARE URL telah disalin
Presiden Joko Widodo menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak diperkenankan 
mudik demi mencegah penularan virus corona (COVID-19).
Ilustrasi stasiun transportasi untuk mudik. (Antara Foto/detikcom)

Kenaikan signifikan kasus baru (kasus COVID-19 per hari) juga bakal terjadi 
bila tak ada larangan mudik dari Jabodetabek ke provinsi-provinsi lain di Pulau 
Jawa. Kenaikan kasus baru yang butuh perawatan RS bakal memuncak persis pada 
momen 1 Syawal 1441 H atau 24 Mei 2020 nanti.

Estimasi kasus COVID-19 per hari di Pulau Jawa:

1. Jawa selain Jabodetabek (dengan mudik): +/- 40.000 kasus COVID-19 perlu 
perawatan RS
2. Jawa selain Jabodetabek (tanpa mudik): +/- 30.000 kasus COVID-19 perlu 
perawatan RS
3. Jabodetabek: +/- 10.000 kasus COVID-19 perlu perawatan RS (memuncak pada 9 
Mei)

"Kenaikan signifikan kasus yang perlu RS mulai pekan ke-2 bulan puasa dengan 
puncak saat Lebaran," tulis Tim FKM UI.
Permodelan COVID-19 Indonesia, 12 April 2020. (Tim FKM UI)Permodelan COVID-19 
Indonesia, 12 April 2020. (Tim FKM UI)

Baca juga:
Jokowi: Ada Dua Kelompok Masyarakat yang Tak Bisa Dilarang Mudik

Ada sejumlah asumsi yang dijadikan dasar oleh tim FKM UI untuk menghitung 
prediksi ini, yakni Survei Potensi Pemudik Angkutan Lebaran Tahun 2019 
Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Hasil survei itu menyebut 44,1% orang dari 
Jakarta Bogor Depok Tangerang (Jabodetabek) yang mudik Lebaran 2019. Sebesar 
44,1% di antara 100% orang di Jabodetabek berarti 14,9 juta orang.

Sedangkan untuk 2020, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) 
memprediksi 56% warga Jabodetabek tidak mudik, 37% masih mempertimbangkan untuk 
mudik, dan 7% telah mudik. Asumsinya, 20% penduduk Jabodetabek bakal mudik ke 
provinsi lain di Pulau Jawa ini selama rata-rata 7 hari pada 2020.

Berdasarkan data kumulatif COVID-19 yang terlaporkan di Indonesia, pertambahan 
jumlah kasus per hari di Pulau Jawa selain Jakarta periode 26 Maret-10 April 
2020 sekitar dua kali lebih besar dibanding periode 17-26 Maret 2020.
Halaman
1 2
Tampilkan Semua







Kirim email ke