Dari Autobiografi  Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung:
“Putra Tapanuli Berjuang di Pulau Jawa” 

 

Pengantar

Wabah penyakit yang diakibatkan oleh virusCorona (Covid 19) telah menggerakkan 
banyak rakyat Indonesia untuk menunjukkankesetiakwananan sosial, yaitu saling 
menolong. Rakyat kecil membantu sesamarakyat yang sedang mengalami kesulitan, 
terutama kesulitan dana dan pangan.

 

Kesetiakawanan sosial seperti ini telahditunjukkan oleh rakyat Jawa Timur tahun 
1945. Seluruh rakyat Indonesiamengetahui mengenai peristiwa pemboman Surabaya 
yang dilakukan oleh tentaraInggris, yang dimulai pada 10 November ’45. Untuk 
mengenang peristiwa ini,tanggal 10 November telah ditetapkan oleh pemerintah 
Indonesia sebagai HariPahlawan.

 

Namun ada satu peristiwa yang sangatmengharukan, sekalgus membanggakan, yang 
terjadi pada saat pemboman tesebut,yaitu kesetiakawanan sosial yang ditunjukkan 
oleh rakyat Jawa Timur. Akibatpemboman yang membabi-buta yang dilakukan oleh 
tentara Inggris dari udara, lautdan darat tersebut, sekitar 30.000 penduduk 
Surabaya tewas. Sebagian besaradalah penduduk sipil, termasuk wanita dan 
anak-anak. Sekitar 150.000 pendudukSurabaya terpaksa mengungsi ke luar kota. 
Para pengungsi bukan hanya mendapatmakanan dan minuman dari rakyat Jawa Timur, 
melainkan mereka juga ditampung dirumah-rumah penduduk di kota-kota dan di 
desa-desa di sekitar Surabaya.Kesetiakawanan sosial ini juga diterima oleh 
keluarga dr. Wiliater Hutagalungketika terpaksa mengungsi ke luar kota Surabaya 
akibat pemboman Inggis di Surabaya.

 

Peristiwa detik-detik pemboman Surabaya oleh tentaraInggris dituturkan oleh 
Letkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung, seorangpelaku pertempuran di 
Surabaya tanggal 28 - 29 Oktober dan perang besar di JawaTimur yang dimulai 
tanggal 10 November 1945

 

Wiliater Hutagalung dilahirkan di Tarutung,Sumatera Utara, pada 20 Maret 1910. 
Meninggal di Jakarta pada 29 April 2002 (92tahun). Lulus Sekolah Dokter NIAS 
(NederlandschIndische Artsen School) di Surabaya tahun 1937.

 

MengenalLetkol. TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung

Silakanklik:

https://batarahutagalung.blogspot.com/2020/04/riwayat-perjuangan-letkol-tni-purn-dr.html

 

***

 

PenuturanLetkol TNI (Purn.) dr. Wiliater Hutagalung

 

Penulis berangkat dari Surabaya ke Jakarta dengan didampingi Ajudan, Mayor 
Soesilo. Di keretaapi, dalam perjalanan menuju Jakarta, bertemu dengan Mr. Amir 
Syarifoeddin yang pada waktu itu masihberada di Surabaya, setelah lepas dari 
tahanan Jepang di Surabaya. Beliau dipenjarakanpada tahun 1943 oleh Jepang 
karena kegiatan politiknya yang anti jepang. Diatelah diangkat sebagai menteri 
di kabinet pertama, walaupun ketika itu masihdalam penjara Jepang. Dia juga mau 
menghadap Bung Karno dan Bung Hatta.

 

Pada tanggal 8 November 1945, kami bertiga diterima olehPresiden dan Wakil 
Presiden di Pegangsaan Timur. Setelah membaca dan berunding,penulis 
diberitahukan agar bersama sama berangkat ke Yogyakarta pada tanggal 9November 
1945, karena Bung Karno akan menghadiri Kongres Pemuda seluruhIndonesia yang 
pertama, yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 10 November.

 

Pada tanggal 10 November di pagi hari, diadakan rapat didekat lapangan terbang 
Maguwo, yang juga dihadiri Kepala Staf Angkatan Perangyang baru, Oerip 
Soemohardjo. Sewaktu rapat sedang berjalan, tiba satu telegramdari Surabaya 
yang dikirim oleh Gubernur Soerjo yang menyampaikan bahwa inggrismemberikan 
ultimatum, bahwa pembunuh Brigadir Jendral Mallaby harus segera diserahkan 
danSurabaya harus menyerah kepada Inggris paling lambat tanggal 10 November 
1945.Kalau tidak, Surabaya akan dibom.

 

Gubernur Soerjo dan pimpinan di Surabaya menyatakan: “Pantangmenyerah! Surabaya 
akan melakukan perlawanan sampai akhir!” Bung Karno berdiam sebentar,kemudian 
mengucapkan:”Hormat pada Gubernur Soerjo dan rakyat Surabaya”.

 

Pada waktu itu, pimpinan Republik Indonesia sebenarnyaingin menghindari konflik 
bersenjata dengan sekutu.

 

 

Pemboman Atas Surabaya

 

Kami yang berasal dari Surabaya meminta izin dari Presidenuntuk meninggalkan 
rapat dan segera bertolak ke Surabaya dengan mobil yangdipinjamkan dari Yogya. 
Kondisi jalanan pada tahun 1945 dan buruknya mobil yangdikendarai menyebabkan 
kami baru tiba di Surabaya pada tanggal 11 November,pagi hari. Terdengar 
tembakan di sana sini, tanpa diketahui siapa penembaknya,tidak tahu siapa kawan 
dan siapa lawan. Kami terus menerobos menuju Karang Menjangandan beruntung 
dapat menemui keluarga sedang berkumpul di perlindungan di bawahtanah. 

 

Kami segera berangkat menuju keluar kota, tidak sempatmembawa barang-barang 
berharga dari rumah karena kuatir kena bom ataukedatangan musuh. Tuhan Yang 
Maha Kuasa melindungi kami, di tengah-tengahtembak-menembak kami naik mobil dan 
tanpa ada yang terluka kami sampai di Sepanjang,suatu pemukiman di pinggir 
Sungai Brantas, di sebelah selatan Surabaya.

 

Penulis mendengar dari keluarga, betapa dahsyatnya pembomandari pesawat 
terbang, serta penembakan dari meriam-meriam kapal perang Inggris.

 

Pemboman atas kota Surabaya oleh inggris pada tanggal 10November 1945 
diklasifikasikan sebagai biadab, tidak dapat dipertanggungjawabandalam sejarah. 
Indonesia Sebenarnya tidak ada urusan dengan inggris, tetapi ternyataInggris 
berada di Indonesia hanya untuk memberikan dukungan kepada Belanda,sekutu 
mereka dalam Perang Dunia ke II. Sasaran yang dipilih oleh Inggrisadalah daerah 
yang paling padat penduduknya, yaitu Pasar Turi.

 

Perkiraan Inggris sendiri jumlah korban yang jatuh akibatpemboman biadab itu 
adalah 30.000 (tiga puluh ribu) orang, pria wanita, tuamuda, anak-anak yang 
sedang bermain main, orang yang sedang berbaringdi tempat tidur, pedagang yang 
sedang berjualan di pasar serta orang yangsedang berbelanja dan seterusnya dan 
seterusnya. Saudara Kadim Prawirodirdjobahkan memperkirakan, korban tewas 
akibat gempuran selama tiga minggu dapatmencapai 50.000 orang. Tak ada yang 
menghitung.

 

30.000 orang Indonesia dibunuh seketika oleh inggris. Untukapa??? Lembaran 
hitam dalam sejarah Inggris. Karakter pimpinannya Bully.Peristiwa ini harus 
selalu diingat oleh generasi-generasi selanjutnya di Indonesiaumumnya, di 
Surabaya khususnya.

 

Pemboman atas Hirosima mengakhiri Perang Dunia ke II.Pemboman atas Surabaya 
mengawali perang di Indonesia, perjuangan selama lebihdari empat tahun untuk 
mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikanpada tanggal 17 Agustus 
1945.

 

Rakyat Surabaya telah bertekad:MERDEKA ATAU MATI! Pertempuran di Surabaya sejak 
bulan Oktober1945 kelihatannya memberi semangat kepada daerah-daerah lain di 
Indonesia.Perjuangan bersenjata yang kemudian menjalar ke daerah-daerah lain 
dan diikutioleh pejuang-pejuang di seluruh Indonesia, bekas jajahan Belanda. 

 

Mereka yang mengalami sendiri, sebagai saksi sejarah harusmempertahankan 
tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan, karena pada hari itubenar-benar 
gugur ribuan pahlawan tak dikenal. Termasuk banyak pemuda asalSumatera yang 
tergabung dalam Pasukan Sriwijaya. 

 

Di Pasar Turi ada waktu itu sama sekali tidak ada sasaranmiliter, tidak ada 
perbentangan ataupun industri. Pemboman atas Surabaya, terutamapasar turi, 
menambah satu bangsa yang dibenci oleh rakyat Indonesia waktu ituyakni:

1.    Belanda

2.    Jepang

3.    Inggris

 

Pemboman tersebut jelas menimbulkan kepanikan di antara ratusan ribupenduduk. 
Mereka harus lari dan mengungsi ke luar kota, karena takut akan ada pemboman 
lagi. Tetapi kemana?Apa yang dapat dibawa? Tidak ada kendaraan angkutan, tidak 
ada petunjuk. 

 

Ada satu kejadian yang dialami oleh keluarga seorang dokteryang kami kenal 
baik. Keluarga ini mempunya banyak anak-anak. Semua anak-anakdikumpulkan waktu 
akan berangkat dari rumah. Bayi yang baru berumur beberapabulan masih di tempat 
tidur. Kemudian mereka dengan terburu-buru meninggalkanrumah. Sesudah agak jauh 
dari rumah, terkejut karena melihat yang berada dalamgendongan bukanlah bayi, 
melainkan guling. Untunglah masih dapat dengan selamatmengambil bayi dan 
membawanya bersama anak-anak lain ke luar kota.

 

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena ratusan ribumanusia yang 
terpaksa meninggalkan rumah dan hartanya mendapat bantuan yangspontan dan 
mencukupi dari jutaan penduduk Jawa Timur. Berita mengenai pembomanatas kota 
Surabaya dan diikuti dengan mengungsinya ratusan ribu warga kota,cepat meluas 
di seluruh Jawa Timur, terutama di daerah-daerah sekitar kotaSurabaya. 

 

Salah satu kelompok yang agak besar di Surabaya adalahBarisan Pemberontakan 
Republik Indonesia (BPRI) di bawah pimpinan dr. Soegiridan Soetomo (Bung Tomo). 
Kelompok ini sangat kuat dan mempunya banyak pengaruhkarena memiliki pemancar 
radio. Bung Tomo yang menjadi penyiar adalah bekaspegawai Nippon Hokokai (NHK), 
yang berhasil menyelamatkan peralatan pemancarRadio.ketika pecah perang, 
situasi di Surabaya semakin gawat.  Mereka pindah ke kota Malang dan 
meneruskansiaran dari kota ini. Siaran mereka menjadi penyiram semangat 
perjuangan.

 

Secara spontan penduduk di sepanjang jalanan di luar kotaSurabaya, baik yang 
menuju arah Gresik maupun seperti yang kami alami menujuarah Mojokerto, 
Jombang, begitu juga yang kearah Sidoarjo … terus ke Malang, menempatkan 
makanan dan minuman dipinggir jalan sehingga boleh dikatakan tidak ada 
pengungsi yang kelaparan ataukekurangan minum juga para penduduk dengan rela 
menyediakan ruangan-ruangan dirumah mereka untuk manampung para pengungsi. 
Solidaritas yang spontan!

 

Setelah menginap satu malam di Sidoarjo, kami melanjutkanperjalanan menuju 
Mojowarno . di sana ditampung oleh seorang kenalan apotekeryang bekerja di 
rumah sakit Mojowarno. Satu keluarga menempati satu kamardan berminggu-minggu 
mereka terpaksa tidur di atas tikar. Suatu kehidupan yangkontras, dibandingkan 
dengan kehidupan satu keluarga dokter yang serbakecukupan waktu masih tinggal 
di Surabaya.

 

***

 

Demikianlah kesetiakawanan sosial yangditunjukkan oleh rakyat di Jawa Timur 
pada waktu itu. Tanpa komando, tanpadiperintahkan, secara sukarela, ikhlas, 
memberi makanan dan minuman, bahkanmenampung sekitar 150.000 pengungsi dari 
Surabaya, termasuk keluarga dr.Wiliater Hutagalung.

 

(Dikutip dari buku Autobiografi Letkol. TNI(Purn.) dr. Wiliater Hutagalung oleh 
putranya, Batara R. Hutagalung).

 

***

Kirim email ke