-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1420997/indef-krisis-ekonomi-global-covid-19-sama-dengan-great-depression



Indef: Krisis ekonomi global Covid-19 sama dengan "Great Depression"

Rabu, 15 April 2020 01:56 WIB

Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung wajah, setelah wabah Virus 
Corona, tercermin pada layar yang menampilkan harga saham di luar broker di 
Tokyo, Jepang. ANTARA/REUTERS/Issei Kato/am.
banyak yang keliru ada yang membandingkan krisis ekonomi akibat Covid-19 ini 
dengan krisis 2008 atau krisis moneter pada tahun 1998
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics 
and Finance (Indef) Bhima Yudistira menyamakan krisis ekonomi akibat pandemi 
Covid-19 sama dengan krisis Depresi Besar atau Great Depression yang pernah 
melanda dunia pada tahun 1930-an.

"Jadi banyak yang keliru ada yang membandingkan krisis ekonomi akibat Covid-19 
ini dengan krisis 2008 atau krisis moneter pada tahun 1998, dua krisis tersebut 
tidak ada apa-apanya karena Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO langsung 
menyimpulkan bahwa kondisi krisis ekonomi Covid-19 sekarang mirip dengan Great 
Depression atau Depresi Besar dunia pada tahun 1930-an," ujar Bhima dalam 
seminar online di Jakarta, Selasa malam.

Menurut dia, WTO sendiri memperkirakan bahwa yang terjadi sekarang ini 
perdagangan internasional itu akan turun ke level dua persen sehingga dunia 
akan kembali masuk ke situasi krisis ekonomi global yang pernah terjadi pada 
tahun 1930-an.

"Bagaimana pemulihan krisis ekonomi ini ke depannya? Apakah pemulihan krisis 
ini akan mengikuti model V di mana kalau model ini perekonomian terjun bebas 
akibat krisis namun hanya butuh waktu singkat untuk tahap pemulihan kembali 
bangkit," katanya.

Baca juga: IMF apresiasi kebijakan ekonomi Indonesia untuk merespons COVID-19
Baca juga: Sri Mulyani: IMF proyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2020 negatif

Lebih lanjut Bhima mengatakan bahwa dengan model pemulihan bentuk huruf V, 
diperkirakan dalam waktu satu atau dua tahun perekonomian bisa kembali pulih.

Selain itu terdapat lagi skenario pemulihan krisis ekonominya berbentuk huruf 
U, dan model pemulihan seperti ini sangat tidak diinginkan mengingat 
perekonomian terjun bebas akibat krisis namun sayangnya butuh waktu lama untuk 
kembali memulihkan perekonomian.

"Untuk kasus Indonesia jika kita ingin mengejar model pemulihan ekonomi bentuk 
huruf V, maka yang harus dilakukan penanganan kesehatan menjadi kunci di mana 
penanganan pandemi Covid-19 cepat selesai maka semakin cepat masyarakat kembali 
beraktivitas ekonomi secara normal dan perekonomian pun kembali pulih seperti 
semula," kata Bhima.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengajak 10 negara ASEAN ditambah Korea 
Selatan, Jepang dan China (ASEAN Plus 3) untuk membentuk Gugus Tugas khusus 
yang dapat memberikan rekomendasi kebijakan dalam menghadapi situasi pandemi 
seperti yang terjadi saat ini di kawasan karena penyebaran virus corona baru 
(COVID-19).

Baca juga: Ekonomi RI lebih kuat dibandingkan negara lain, ini indikatornya
Baca juga: Bank Dunia: pandemi virus corona perlambat pertumbuhan di Asia, China

Presiden menyerukan agar negara-negara di kawasan termasuk tiga negara sahabat 
terus memperkuat koordinasi. Gugus Tugas di kawasan akan sangat bermanfaat jika 
suatu saat nanti kawasan menghadapi situasi pandemi dikarenakan wabah penyakit 
seperti saat ini.

Kepala Negara meyakini kerja sama ASEAN Plus 3 dapat mengatasi krisis di 
kawasan akibat pandemi COVID-19. Kerja sama di kawasan sangat penting untuk 
menciptakan resiliensi dalam kebijakan penanganan pandemi.

 

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Apep Suhendar
COPYRIGHT © ANTARA 2020







Kirim email ke