-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4981721/hubungan-indonesia---tiongkok-dan-dasasila-bandung?tag_from=wp_cb_kolom_list


 Hubungan Indonesia - Tiongkok dan Dasasila Bandung

Imron Rosyadi Hamid - detikNews
Sabtu, 18 Apr 2020 10:10 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Imron Rosyadi Hamid
Foto: dok Pribadi-Imron Rosyadi Hamid
Jakarta -

Tak banyak yang tahu, tujuh puluh tahun lalu ada keterlibatan India dalam 
sejarah hubungan diplomatik Indonesia dengan Tiongkok. Awalnya, Proklamator 
Kemerdekaan, Bung Hatta berkirim surat pemberitahuan tentang berdirinya Negara 
Indonesia Serikat (RIS) kepada Pemerintah Tiongkok.

Surat bertanggal 11 Januari 1950 itu baru sampai ke Beijing empatpuluh tujuh 
hari berikutnya yang kemudian dibalas melalui nota Perdana Menteri Tiongkok 
Zhou Enlai pada tanggal 29 Maret 1950 melalui perantara instansi urusan luar 
negeri India kepada Muhammad Hatta. Pada Tanggal 13 April 1950 Bung Hatta 
kemudian membalas kembali nota tersebut sebagai tanda dibukanya hubungan 
diplomatik Indonesia - Tiongkok.

Lima tahun berikutnya (Bulan April Tahun 1955), untuk pertama kalinya PM 
Tiongkok Zhou Enlai datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri Konferensi Asia 
Afrika (KAA) di Bandung, sebuah perhelatan dua puluh sembilan negara yang oleh 
Palmer dan Perkins (1985:589) disebut sebagai salah satu the most remarkable 
international gathering dalam sejarah dunia abad 20. Tulisan ini akan membahas 
peran KAA Bandung dalam kaitannya dengan proses perdamaian dunia dan munculnya 
Tiongkok dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru abad 21.

Dasasila Bandung dan Lima prinsip Perdamaian Tiongkok

Pemerintah Tiongkok memiliki sense of belonging terhadap Konferensi Asia Afrika 
bukan hanya karena pernah menjadi peserta aktif tetapi juga memiliki saham 
kesejarahan dalam melahirkan Dasasila (sepuluh prinsip) yang merupakan 
pengembangan Lima prinsip hidup damai sebagaimana yang disampaikan Perdana 
Menteri Zhou Enlai selama pertemuan di Ibukota Propinsi Jawa Barat itu 
berlangsung.

Dalam buku Contemporary International Relations, Frameworks for Understanding 
(1984:112), Daniel S. Papp secara eksplisit menyebut bahwa Konferensi Asia 
Afrika di Bandung telah mengadopsi Lima Prinsip Hidup Berdampingan (Five 
Prinsiples of Coexistence) yang disponsori negeri Tirai Bambu. Lima Prinsip itu 
meliputi saling menghormati terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan (mutual 
respect for territorial integrity and sovereignity), tidak melakukan agresi 
(nonagression), tidak melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri 
negara lain (noninterference in the internal affairs of others), kesetaraan dan 
saling menguntungkan (equality and mutual benefit), serta hidup berdampingan 
secara damai (peaceful coexistence). Ketika berpidato di Kantor PBB Jenewa 
Tahun 2017, Presiden Tiongkok Xi Jinping menyebut Lima prinsip hidup 
berdampingan secara damai yang dihasilkan Konferensi Asia Afrika di Bandung 
merupakan salah satu pedoman yang harus dijalankan komunitas dunia dalam 
membangun masa depan umat manusia (2017:590).

Dua tahun sebelumnya, Xi Jinping di hadapan Forum Tiongkok-Africa Cooperation 
di Johannesburg Afrika Selatan menegaskan bahwa "Tiongkok meyakini Afrika 
adalah milik Rakyat Afrika, dan seluruh persoalan Afrika (penyelesainnya) harus 
diputuskan orang Afrika sendiri". Meskipun Beijing telah membuat berbagai 
program kerjasama pembangunan dengan negara-negara Afrika di antaranya 
modernisasi pertanian, pengurangan kemiskinan, perbaikan sistem kesehatan 
masyarakat, dan modernisasi industri - tetapi Tiongkok tetap mendukung 
penyelesaian persoalan-persoalan tersebut dilakukan oleh Rakyat Afrika dengan 
cara mereka (African way) (2017:496-497-509). Pidato Xi Jinping selaras dengan 
Semangat Bandung yang mengakui persamaan semua suku bangsa, besar maupun kecil 
dalam kerjasama dan memajukan kepentingan bersama sebagai sesama bangsa yang 
senasib sepenanggungan.

Signifikansi KAA dan kekuatan baru dunia

Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di pertengahan abad 20 ternyata 
memiliki pengaruh bagi munculnya kekuatan baru dunia abad 21. Amitav Acharya 
(2016) pernah menulis sebuah artikel berjudul Studying the Bandung conference 
from a Global IR Perspective untuk 'menggugat' arus utama akademisi dunia yang 
tidak menempatkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung Tahun 1955 sebagai 
sesuatu yang penting dalam studi Hubungan Internasional.

Guru besar Hubungan Internasional American University Washington ini 
mengemukakan sejumlah warisan kunci (key legacies) Konferensi Asia-Afrika 
menyangkut dinamika politik negara-negara peserta dengan dunia barat (Amerika 
dan Inggris), pengaruhnya dalam mendelegitimasi pakta pertahanan, serta 
pengembangan gerakan non blok yang berimplikasi pada pergeseran dan perimbangan 
kekuatan dunia.

Acharya menyebut Tiongkok dan Indonesia - disamping India, Jepang, Turki, Saudi 
Arabia yang menjadi peserta KAA - kini muncul sebagai kekuatan dunia yang 
tergabung dalam G-20 (sembilan belas negara plus Uni Eropa sebagai kekuatan 
ekonomi besar dunia). Sebagai raksasa baru dunia, Tiongkok tengah memasuki 
sebuah era yang disebut William Callahan (2013:2) sebagai Taiping Shenshi 
(perdamaian dan kemakmuran), sebuah tujuan yang in line dengan Deklarasi 
Bandung.

Kemitraan Strategis dan Penanganan Covid-19

Sejak normalisasi hubungan diplomatik Indonesia dengan Tiongkok yang dilakukan 
Pemerintahan Soeharto dan Pemerintahan Li Peng Tanggal 8 Agustus 1990, 
kerjasama kedua negara hingga hari ini menunjukkan trend yang terus meningkat. 
Salah satu milestone peningkatan kerjasama Indonesia dengan Tiongkok adalah 
deklarasi kemitraan strategis (strategic partnership) yang dibuat Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao Tahun 2005. Penandatanganan 
Kemitraan Strategis ini menjadi salah satu kesepakatan paling penting dalam 
sejarah hubungan kedua negara. Kemitraan strategis itu meliputi tiga bidang 
utama dan dibreakdown dalam dua puluh delapan butir sub bidang kerjasama.

Tiga bidang itu meliputi Kerjasama Politik dan Keamanan, Kerjasama Ekonomi dan 
Pembangunan, serta Kerjasama Sosial Budaya dan Lain-lain. (lihat: 
Tiongkok-Indonesia, 2007:208-212). Pada saat kunjungan Presiden Xi Jinping ke 
Indonesia awal Oktober 2013, kemitraan strategis dikembangkan lagi secara lebih 
detail melalui penandatanganan Comprehensive Strategic Partnership pada tanggal 
2 Oktober 2013 dan sudah dijalankan melalui serangkaian kerjasama di berbagai 
bidang baik ekonomi dan pembangunan maupun sosial budaya oleh kedua negara 
hingga hari ini.

Dalam kaitan penanganan penyebaran virus Covid-19 yang terjadi di Indonesia, 
kesepakatan Kemitraan Strategis Indonesia dengan Tiongkok Tahun 2005 telah 
menyediakan instrumennya. Dalam butir kedua puluh tujuh terdapat kalimat 
menguatkan kerjasama dan peningkatan kemampuan dalam upaya mencegah dan 
mengendalikan penyakit-penyakit menular dan tidak menular.

Awal April lalu, Presiden Xi Jinping telah menelepon Presiden Jokowi dan 
mengulangi komitmen Tiongkok dalam membantu mengatasi krisis kesehatan dunia 
akibat virus corona ini termasuk di Indonesia. Pemimpin Tiongkok itu juga 
menegaskan bahwa akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang akan 
diprioritaskan dalam kerjasama penanganan Covid-19. Pemerintah dan Rakyat 
Tiongkok telah menunjukkan kepedulian yang tinggi dalam membantu Indonesia 
menangani penyebaran Wabah Corona melalui pengiriman peralatan medis dan 
berbagai paket bantuan lain. Tentu, Pemerintah dan Rakyat Indonesia perlu 
menyampaikan satu kata kepada Rakyat Tiongkok : Xie xie!

Wallahu a'lam bi as shawab.

Imron Rosyadi Hamid Kandidat Doktor Hubungan Internasional Universitas Jilin 
Tiongkok, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok
(ega/ega)
kolom
tiongkok






Kirim email ke