Siapa bilang??? Asal mencuap TANPA DASAR akurat, ...! Keinggalan jaman
atau selama ini membutakan diri! Padahal, Sistem Kesehatan dan
Pendidikan di Tiongkok sekarang sudah jauh lebih baik, BAHKAN bisa
dikatakan LEBIH UNGGUL ketimbang dimasa Mao, 30 tahun di Awal
terbentuknya Tiongkok Baru dengan Republik Rakyat Tiongkok ditegakkan, 1
Oktober 1949!
Sekalipun prinsip asuransi-kesehatan masih belum ada kesamaan diseluruh
negeri, ... tapi mayoritas mutlak warga di kota sudah tergabung dalam
setiap asuransi-kesehatan dimana mereka tergabung. Sedang bagi petani
didesa-desa, termasuk yang dikategorikan DESA-Terbelakang dan miskin
itu, dengan dibentuknya KOPERASI-DESA semua warga didesa juga sudah
sepenuhnya terjamin KESEHATAN-nya, dengan ditanggung koperasi-desa! Dari
lahir, penitipan anak, harus dirawat di RS-kota Kabupaten, sudah bisa
sepenuhnya ditanggung koperasi-desa! Sudah lebih baik ketimbang warga
Kota! Bahkan pendidikan sekolah anak, dari taman-kanak2 sampai
Universitas,juga ditanggung sepenuhnya oleh koperasi-desa!
Tatiana Lukman 於 2020/4/18 下午 07:32 寫道:
Menuntut ilmu ke Tiongkok sekarang??? Harus punya duiiiit!!!! Anak
kaum buruh, kaum tani, masyarakat adat tidak akan pernah bisa sekolah
ke Tkk!!! Hanya kelas menengah keatas yang bias kirim anaknya sekolah
ke Tkk sekarang... Lain dulu lain sekarang!! Zaman Mao, tak usah bayar
satu senpun untuk bisa belajar ke Tiongkok...
Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
Windows 10
*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
<mailto:[email protected]>
*Sent: *Saturday, 18 April 2020 10:21
*To: *GELORA_In <mailto:[email protected]>
*Subject: *[GELORA45] Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
Kolom
Tiongkok dan Struktur Kekuatan KAA Ke-65
Connie Rahakundini Bakrie - detikNews
Jumat, 17 Apr 2020 10:05 WIB
https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4979931/tiongkok-dan-struktur-kekuatan-kaa-ke-65#comm1>
SHARE URL telah disalin
Connie Rahakundini BakrieFoto: Dok. Pribadi
*Jakarta*-
Pada tahun 1955, 304 perwakilan dari 29 negara Asia Afrika mengadakan
pertemuan historik di Bandung dan memanifestasikan kepada dunia bahwa
negara-negara Asia Afrika akan naik ke panggung internasional sebagai
sebuah kekuatan baru yang penting. KAA yang digelar di Bandung 65
tahun yang lalu ini membangkitkan kesadaran negara-negara Asia Afrika
untuk berpijak di muka bumi sebagai negara merdeka dan membangkitkan
semangat berjuang demi persamaan derajat, mencari solusi bagi
perkembangan kawasan Asia dan Afrika dan mencari jawaban demi
penyelesaian akan masalah yang timbul.
Presiden Xi Jinping dalam pidatonya pada peringatan KAA ke-60 di
Bandung mengingatkan kembali bahwa KAA dibangun di atas dasar lima
prinsip hidup (Dasasila) yang mengedepankan persamaan derajat, saling
menghormati dan menjunjung tinggi kerja sama antar bangsa. Dalam
pidatonya Presiden Xi mengatakan: "Kita hendaknya dengan sekuat tenaga
mengembangkan semangat Bandung dan mendorong serta membentuk hubungan
internasional tipe baru yang berintikan kerja sama dan kemenangan
bersama, mendorong pembentukan masyarakat senasib dan mensejahterakan
rakyat Asia Afrika serta kawasan lainnya."
Jelang peringatan KAA di 18 April 2020 kali ini, mungkin kita harus
melihat kembali apa yang mampu dibangun oleh kekuatan KAA untuk
membangun semangat kerja sama antara bangsa di tengah
tunggang-langgangnya negara-negara dunia menghadapi perang menghadapi
musuh tak terlihat COVID-19, yang bukan hanya mengancam kesehatan
manusia lintas benua tetapi dipastikan juga akan mengguncang
perekonomian dunia. Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO
pada awal Maret 2020, kehidupan manusia pun berubah. Anjuran karantina
mandiri maupun Work From Home (WFH) dilakukan sejumlah negara, tetapi
selain kesuksesan dan kemenangan Tiongkok serta segelintir negara
menghadapi perang tersebut, banyak negara masih tertatih tatih
menghadapi perang ini secara efektif, sehingga bukan saja membuat
perekonomian akan semakin terganggu tapi juga dampak social and
political unrest yang diperkirakan akan mengikutinya.
*Menuntut Ilmu ke Tiongkok*
Tiba kiranya kita mengingat pesan Nabi Muhammad yang kembali harus
terulang: Menuntut ilmu ke negeri Tiongkok. Mengapa? Karena WHO dengan
terang benderang menyatakan bahwa Tiongkok telah berhasil meluncurkan
upaya penanggulangan penyakit yang paling ambisius, gesit, dan agresif
dalam sejarah dan melakukan banyak hal dengan benar. Tidak mudah untuk
diterapkan, tetapi Tiongkok mampu melakukannya. Tindakan paling tegas
adalah penguncian Wuhan, yang pada dasarnya mengisolasi lebih dari 50
juta orang, disusul pembangunan rumah sakit dengan 1.000 tempat tidur
dalam 10 hari. Langkah lain yang kurang dramatis tetapi sama
pentingnya adalah kemampuan mengidentifikasi mereka yang terinfeksi
dalam waktu empat hingga tujuh jam. Disusul pendekatan luar biasa
terkait perawatan medis di mana Tiongkok memutuskan pengobatan
COVID-19 ditanggung penuh oleh negara. WeChat digunakan untuk memesan
resep tanpa perlunya kunjungan ke dokter dan pasien bisa mendapatkan
obat-obatan yang dikirim melalui kurir.
Kemampuan pemerintah Tiongkok untuk menambang dan mengelola harta
karun Big Data yang dimilikinya terbukti sangat penting dalam
membalikkan keadaan. Pemerintah Tiongkok menggunakan pelacak lokasi
melalui telepon pintar untuk mengidentifikasi lokasi mereka yang
terinfeksi, mereka yang membeli persediaan medis teridentifikasi dan
dimasukkan ke dalam sistem untuk melacak penyebaran virus. Aplikasi
WeChat Pay dan Alipay, menunjukkan
warna hijau, kuning atau merah tergantung pada status kesehatan
penggunanya. Masalah terbesar sistem medis dengan kurangnya dokter
yang dapat secara akurat mendiagnosis COVID-19 diselesaikan melalui
perangkat lunak yang diciptakan untuk dapat secara smart
mengidentifikasi tanda-tanda khas dengan menjelajahi hacil CT Scan
dari mereka yang diduga terinfeksi, bukan saja secara tepat tetapi
tentu saja cepat.
Jelaslah, teknologi khususnya Artificial Intellegence memainkan peran
utama dalam strategi perang Tiongkok menghadapi COVID-19. Komponen
inti inilah yang dianggap paling kontroversial dan sangat bertentangan
dengan bagaimana sebagian besar dunia melihatnya: Privasi. Etika
praktik ini memang dapat diperdebatkan, tetapi keefektifannya jelas tidak.
*Pandemi dan Kerja Sama Antar Bangsa*
Pandemi COVID-19 akan membawa dunia mengalami setidaknya tiga krisis
kedaruratan: Kedaruratan Pertama, adalah krisis kesehatan masyarakat
yang secara mengerikan akan menginfeksi dan membunuh semakin banyak
orang dan membanjiri sistem rumah sakit di mana para perawat dan
dokter menjadi tentara kita di garis depan pertempuran ini. Dalam
perang ini, para perawat dan dokter harus dianggap sebagai pahlawan
pejuang dan negara harus melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk
mempersenjatai dan melindungi mereka. Kedaruratan Kedua adalah krisis
ekonomi dalam keparahan dan kecepatan yang belum pernah kita saksikan
bahkan dalam Deep Depressions tahun 1930 dan krisis financial di tahun
1998 dan 2008 sekalipun. Krisis ekonomi menjadi sangat penting untuk
dikendalikan karena mudah untuk berimbas kepada krisis lainnya, dan
Kedaruratan Ketiga adalah krisis keuangan yang meresap ke dalam sistem
keuangan karena pasar merespons gangguan disebabkan oleh kedaruratan
pertama dan kedua dimana nilai aset akan menurun dengan cepat dan
likuiditas terputus. Krisis keuangan harus dibendung sehingga kita
memiliki sistem untuk melawan dua kedaruratan di atas.
Terkait kedaruratan pertama, pada kenyataannya Italia negara yang
paling terpukul di Eropa berjuang keras untuk mendapatkan pasokan dan
bantuan dari Uni Eropa/EU. Maurizio Massari, Duta Besar Italia untuk
EU dengan tegas menyatakan frustrasi atas kegagalan negara negara EU
untuk mengirimkan peralatan dan bantuan. "Disayangkan, tidak ada satu
pun negara EU yang datang menanggapi Italia dan hanya Tiongkok yang
datang merespons secara bilateral. Tentu saja, ini bukan pertanda
terwujudnya solidaritas Eropa," tulisnya di kolom Politico. Menteri
Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengomentari hal itu dengan
mengupload video singkat yang menunjukkan liputan live pesawat
Tiongkok yang sarat dengan peralatan medis dan dokter mendarat di
Italia untuk membantu memerangi kedaruratan Italia. Direktur Jenderal
WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut kerja sama Tiongkok-Italia
sebagai "Sebuah contoh solidaritas yang mengharukan." Disusul
pernyataan Presiden Serbia Aleksandar Vučić bahwa: "Solidaritas Eropa
tidak ada dan hanya dongeng." Untuk kesemuanya itu, Zhang Jun, Duta
Besar Tiongkok untuk PBB pun sigap menyatakan: "Kami akan melakukan
apa pun yang kami bisa untuk membantu negara lain memerangi COVID-19."
*Strategi Kesehatan Memenangkan Perang*
Belajar dari pengalaman Uni Eropa, kiranya Negara Asia Afrika harus
dapat berbuat lebih sistematis dan cepat untuk melangkah bersama
Tiongkok dalam menghadapi kedaruratan COVID-19 agar segera mampu
mengklasifikasikan dan mewujudkan strategi kesehatan masyarakat ke
dalam tiga kategori:
1. "Paling menyakitkan-paling efektif": Sebuah strategi yang dilakukan
Tiongkok dan terbukti sangat efektif, meski dengan biaya yang sangat
tinggi secara ekonomi dan sosial. Ketika diterapkan, bertujuan untuk
dilaksanakan dengan tingkat kepatuhan extra tinggi dan ketat untuk
membatasi durasi yang diperlukan.
2. "Dekat dan tanpa penyesalan": Sebuah strategi untuk mengendalikan
pengurangan penularan dengan biaya ekonomi atau sosial yang relatif
sederhana. Ketika diterapkan, strategi ini dioperasikan untuk durasi
yang tidak terbatas.
3. "Efektif, tetapi menyakitkan": Sebuah strategi untuk mengurangi
penularan dengan biaya ekonomi atau sosial yang tinggi bertujuan untuk
mengetahui; (i) kapan intervensi harus dilakukan (ii) kapan intervensi
harus dihentikan dan (iii) cara terbaik dalam mengurangi biaya ekonomi
dan sosial.
Berdasarkan pada pengalaman Tiongkok dan negara-negara tertentu yang
berhasil menavigasi krisis akibat COVID-19, jelaslah dalam peringatan
KAA ke 65 kali ini kiranya kita perlu menekankan kembali akan
pentingnya kerja sama antar bangsa dimana kerjasama ini harus
berlandaskan semangat:
1. Kesiapan untuk bertarung dan memenangkan perang secara bersama
dengan mengingat apa yang telah dilakukan Tiongkok dalam membantu
negara negara Eropa. Telah tiba saatnya negara negara Asia Africa
membangun pusat komando dengan sumber daya dan otoritas yang memadai;
menemukan aktor-aktor (di dalam dan di luar pemerintahan) dengan
keterampilan dalam sistem operasi dan logistik; berinvestasi dalam
pengelolaan big data serta kemampuan untuk beradaptasi berdasarkan
fakta di lapangan.
2. Lima domain utama yang harus dihadapi pusat komando bersama ini
adalah: kesehatan masyarakat, kepatuhan masyarakat, kapasitas sistem
kesehatan, pengamanan industri, perlindungan pada aspek rentan dan
pemulihan ekonomi. Pusat komando ini bertugas mengoordinasikan dan
mengintegrasikan sebuah operasi gabungan karena saat ini sebagian
besar kota dan negara terlibat dalam dua atau keseluruhan domain di
atas, seringkali harus secara mandiri dengan kemampuan adaptasi yang
tidak memadai.
3. Para pemimpin perlu meningkatkan intensitas dan kemampuan
intervensi dari waktu ke waktu berdasarkan fakta yang muncul. Tingkat
dan hasil perawatan yang efektif dapat membantu memberi informasi
kepada para pemimpin ketika mereka harus mengambil kebijakan untuk
meneruskan atau menghilangkan pembatasan pada kegiatan ekonomi.
Kini tiba saatnya untuk kita tidak cukup hanya tercengang mengingat
pidato Presiden Xi pada KAA ke-60 lalu, tetapi untuk bersama sama
membuktikan dan melakukan dengan sekuat tenaga semangat Dasasila
Bandung dengan mendorong serta membentuk hubungan internasional yang
berintikan kerja sama, menggaris bawahi makna kemenangan bersama serta
mendorong pembentukan manusia manusia Asia Afrika dan dunia yang
sesungguh sungguhnya memang senasib sepenanggungan. Sebagaimana dahulu
kala dikatakan Hanibal: /Aut viam inveniam aut faciam/.
*Connie Rahakundini Bakrie*, /Dewan Pertimbangan IIMS/
*(prf/ega)*